Tampilkan postingan dengan label Serba-serbi ~DLT. Tampilkan semua postingan
Gairah Menjalani Kehidupan
Hidup sejatinya berisi persaingan. Lihatlah para pedagang kaki lima yang bersaing satu sama lain untuk menjajakan dagangannya yang notabene jenisnya sama dengan pedagang lain. Atau lihatlah para pekerja yang bersaing mendapat tempat duduk dicommuter line demi berangkat kerja.
Jika kita bertanya, apa yang membuat mereka begitu rela melakukan itu semua? Jawabannya satu, karena mereka memiliki gairah. Mengapa penting memiliki sebuah gairah? Karena dengan adanya gairah, kita mampu untuk menjalani hidup yang isinya penuh dengan persaingan. Jika saja gairah itu tidak ada, mungkin kita memilih tidak berangkat kerja, atau memilih untuk lebih santai di rumah menikmati hidup yang ala kadarnya.
Padahal kita sudah paham bahwa “waktu adalah pedang“. Kita tahu pedang kan? Kalau kita tidak tahu bagaimana cara memakainya maka kita akan terbunuh oleh pedang itu sendiri, kalau kita tidak dapat mematahkannya maka ia yang justru akan memenggal kita. Oleh sebab itu, waktu 24 jam yang ada harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan tentu harus diimbangi dengan sebuah kegairahan dalam menjalaninya.Semangattt ya😉
Sang Penyejuk Jiwa
Tak terasa.. hidup bersama 1x24 jam. Saling mengasihi dan mencintai. kadang kesel, jengkel, marah menghadapi mereka. tapi satu afirmasi saya "yaaa namanya juga anak2" jadi tetiba jengkel dan marahnya hilang seketika..Ahh.. hidup ini sepi kalau tanpa mereka, kakak adik dengan 2 karakter beda. si sulung yang aktif bangettt sedang si bungsu yang kalem sampe bisa ditinggal kemana2 ga rewel asal ada mimik Asi ajah. terus beda kulitnya juga.. haha. orang bilang ini kok kakak adik kayak kopi susu. ahh biarin aja deh. mau kopi susu, kopi tubruk.. kalian tetep permata jiwa umi. bersama kalian umi merasa menjadi seorang ibu seutuhnya..Terima kasih nak.. telah membersamai dan membuat hari2 umi lebih bermakna ya. semoga kalian jadi anak sholih, cerdas dan bermanfaat. aamiin.. luv u all😉
😘
💖
Pasangan Sevisi-misi
Alhamdulillah dapet pasangan yang sevisi misi soal wirausaha. Kami sangat yakin bahwa pintu rejeki terbuka saat memulai bisnis meski mulai dari kecil2an.
Itulah mengapa.. saya dan suami tengah memperjuangkan untuk bisa jadi pengusaha sukses. Biarin deh kata orang ga mungkin, atau bahkan dinyiyirin. Gapapa bersakit-sakit dahulu.. toh bersenang-senang kemudian tho.
Makanya kalau ada pebisnis sukses jangan iri bin baperan aja. Kamu ga tau jatuh bangunnya dia kayak apa dan perjuangannya untuk bisa sukses kayak gimana.
So. Jangan cuma iri dan ribut dengan rumput tetangga yang lebih hijau. Yukk actionnya... Allah melihat proses maka hasil akan mengikuti. Dan memohonlah pada Allah agar diberi hasil2 terbaik alias dapat memanen dari kerja keras selama ini.Smangatt😁
😇
Doa Seorang Ibu, Semua Baik-baik Saja
"Mbak, kok ga ada kabar? Dihubungi WA nya ga bisa juga. Semoga baik-baik aja semuanya ya"Membaca sms dari seorang ibu yang melahirkan menyiratkan sebuah kekhawatiran mendalam pada anaknya yang sudah bukan lagi menjadi anak kecilnya, tapi tetap saja namanya anak mau belum nikah atau sudah nikah tetep dianggap anak kecil oleh orangtuanya, ya khan?"Hapeku rusak, bbm dan WA ga aktif, ibukuu.. Alhamdulillah kami semua sehat di sini. Semoga semua yg disana juga ya"
"Innalillahi, kemarin baru diservis, sekarang rusak apanya lagi?"
"Sistemnya berontak, mungkin ia lelah jadi setiap udah dinyalain ehh mati sendiri"
"Ya Allah, sabar mbak.. Ini ujian buat kamu, bertubi-tubi dikasih ujian pembersihan harta. Semoga ke depannya menjadi lebih baik semua. Aamiin"
Memang.. selalu ada doa yang terucap dari lisan seorang ibu sekalipun tertuang via tulisan. Itulah yang membuat semakin yakin dalam menjalani kehidupan ini, dari suka dukanya, tangis tawanya, sehat sakitnya.. semuanya coba dinikmati karena yakin bahwa semua akan baik-baik saja seperti doa yang selalu dipanjatkan ibuku.
Ya.. semua akan baik-baik aja. Jaga dirimu ibuku sayang...
Duhai Para Istri, Tetaplah Taat Pada-Nya dan Dirinya
Duhai para istri, ketahuilah bahwa suami kita bukanlah malaikat yang tanpa cela. Seperti halnya diri kita pun bukan bidadari tanpa noda. Jadilah wanita yang mulia.. Karena kemuliaan dengan tetap menaati-Nya dan dirinya.
Tapi jika perpisahan (perceraian, kematian) jalan terbaiknya, maka lihatlah Maryam yang begitu mulia meski suami tak punya. Asiyah yang begitu mulia walau bersuamikan Fir'aun yang durhaka. Khadijah pun sangat mulia saat menjalani takdir sebagai seorang janda. Jadi, tetaplah mulia dengan bertakwa pada-Nya.
Ketika Ibu Menjadi Pemikir, Perasa dan Pelaku
Cinta,
Curcol,
Kehidupan,
Kehidupan Rumah Tangga,
Motivasi,
Serba-serbi ~DLT,
Tentang Rayyan,
Wanita
Seorang wanita (dibaca: ibu) dikaruniai oleh Allah kelebihan yang bisa fokus di beberapa titik ketimbang laki2 yang hanya fokus satu titik. Maka pekerjaan sebagai ibu adalah menjadi seorang pemikir, perasa dan pelaku.Coba bayangkan... Ketika rumah berantakan, ia menjadi pemikir "Kenapa rumah ga bisa rapi.. Selalu saja berantakan.." lalu menjadi perasa "Ya Allah.. Anak dan suamiku tidak bisa membantu menjaga kebersihan rumah, aku lelah mengurus rumah setiap hari yang tidak pernah bersih dan rapi" kemudian ia menjadi pelaku yakni terjun langsung bergerak membersihkan rumah yang berantakan tsb. Itu baru satu titik.. Belum lagi urusan masak, mencuci baju dan menyetrika yang bisa dikerjakan sekaligus (banyak titik).Jadi.. Betapa seorang wanita (dibaca: ibu) luar biasa dalam menjalani perannya dalam berumah tangga. Dan konsekuensinya ketika orang banyak mikir, merasa dan bergerak maka tingkat kecenderungan stressnya bisa tinggi. Maka dari itu banyak ditemui seorang ibu mengalami darah tinggi karena marah2 terus bukan tanpa alasan tapi karena memang pekerjaannya sehari2 selalu berat.
Itulah mengapa sayyidina Umar ketika menghadapi kemarahan istrinya hanya diam mematung dan tidak membalas kemarahan istrinya karena ia sadar bahwa pekerjaan sebagai seorang istri dan ibu tidak mudah. Mungkin sayyidina Umar diam karena tidak ingin menambah stress istrinya. Dan yang membuat wanita cenderung lebih tua dari usianya.
Proud of housewife... Hargai, hormati setiap ibu. Karena perannya begitu sangat berarti.*salam takzim dan semangat buat ibu2 hebat
Suksesmu Untuk Keluarga
Cinta,
Curcol,
Kehidupan,
Kehidupan Rumah Tangga,
Motivasi,
Serba-serbi ~DLT,
Tentang Rayyan,
Wanita
Meski kamu sudah menikah dan memiliki anak, api harapan dan impian itu janganlah semakin padam justru harus semakin menyala. Kamu harus yakin, berbagai step sudah kamu lalui dengan sukses; menjadi seorang anak yang sekolah, kuliah, bekerja lalu menjadi seorang istri dan ibu. Maka apa lagi yang kamu cari?
"Tapi masih banyak yang belum aku capai!"
"Aku ingin mendapatkan ini itu"
"Aku mau menjadi seperti dia"
"Aku ingin sukses seperti mereka itu"
Yakinlah... suksesmu kini bukan untuk dibanggakan orang lain, suksesmu kini bukan untuk ditunjukkan pada orang lain melainkan sukses untuk keluargamu; sukses yang harus kamu persembahkan pada pasangan dan keturunanmu. Dan ketika mereka sudah menyaksikannya maka itulah definisi suksesmu saat ini. Penghargaan terbaik untukmu adalah dari suami dan anakmu. Sudah cukup itu...
Saling Mengerti Antar Pasutri
Dari sekian banyaknya teori yang diketahui..Sungguh prakteknya sulit dilakoni.Dalam hubungan pasutri,Gesekan bisa saja terjadi bahkan terus bila tak saling memahami.Kuncinya memang harus memahami.Kita awali dari mengerti, mengapa pasangan begitu begini..Kita cermati apakah pola pemicu pergesekan hal2 itu lagi?Lantas bukan menghakimi (walau nyatanya ini yg sering diawali),
Lalu renungkan apa yg bisa diambil dari semua yg terjadi.
Sulit.. bukan berarti tak bisa dijalani.Urusan rumah tangga bukan hanya milik istri..Tapi juga suami yg harus mengiringi.Bahu membahulah antara pasutri,Komunikasikan segala pinta yg tersimpan di hati.Semoga rumah tangga sakinah dimiliki,Yang ketenangan dan ketenteramannya bukan publik nikmatiMelainkan oleh pasutri itu sendiri.
Pembicara Talkshow "Saatnya Menjadi Remaja Berprestasi dan Produktif" di Subang
Alhamdulillah, tepatnya 31 Januari 2015 lalu dikasih kesempatan mengisi acara Syifest 2015 garapannya santriwati As-Syifa Islamic Boarding School Subang. Saat itu pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Subang yang daerahnya menanjak dan berbukit-bukit. Qadarullah ditemani suami, anak dan kedua orangtua yang terus menyupport kegiatan saya. Alhamdulillah talkshow bertajuk "Menjadi Remaja Muslimah Berprestasi dan Produktif" akhirnya berjalan lancar. Berikut saya akan share potongan slide materi dalam bentuk JPGnya :)Bagi yang ingin meminta softcopy materi bisa hubungi saya langsung 0812-83810066. Semoga Bermanfaat..
Menjadi yang Terbaik Bagi Orang-orang Terdekat
Pada pertengahan bulan Januari lalu, saya benar-benar diuji oleh Allah SWT. Bagaimana tidak, saya harus mengurus suami saya yang hanya bisa berbaring lemas di tempat tidurnya. Ia harus bedrest kurleb 3 hari. Selama 3 hari itulah, saya yang membelikannya makanan, obat, menyuapinya, memandikannya dan bantu memijit tubuhnya. Saat itu yang ada di pikiran saya adalah "bagaimana jika suami saya akan meninggal saat itu?" dan seketika kengerian itu pun hinggap dalam benak saya. Maka sebisa mungkin saya memberika pelayanan sebaik-baiknya pada suami saya tersebut. Beruntungnya saat itu, rayyan sedang dihandle oleh neneknya dan kami ada di Bekasi sehingga beban saya pun terbagi dengan anggota keluarga lainnya.Beberapa kali saya menatap wajah suami saya yang pucat pasi. Ada rasa kesedihan yang menyeruak bahwa darinya lah, saya dan anak bisa tercukupi segala kebutuhan. Pun ada rasa ikut serta merasakan sakit yang ada ketika setiap suami makan dan meminum obat langsung dimuntahkannya begitu saja. Saya ikut sedih dan merasa khawatir apakah suami saya bisa pulih atau tidak. Bahkan rasa takut semakin membayangi ketika menngingat riwayat penyakit suami saya yang memiliki hepatitis B. Ya Allah rasanya saat itu bercampur aduk, ada sedih, lelah dan takut kalau kalau akan ditinggal pergi sang suami.
Hal itu pula yang memicu saya berpikir tidak-tidak pada hal lainnya. Bisa dikatakan merembet ke hal lain. Setiap malam saya merenung dan memikirkan bagaimana jika kedua orangtua saya juga mengalami hal serupa dengan suami? Apakah masih bisa saya mengurusnya, menyuapinya membelikan kebutuhannya padahal saya tinggal di Jakarta dan orangtua ada di Bekasi. Seketika air mata meleleh, mengingat segala kebaikan yang dilakukan oleh kedua orangtua mulai dari kecil hingga sudah dewasa begini. Saya ingat kembali jasa-jasa mereka dan sikap balasan dari saya yang tidak tahu diri semasa kecil dan remaja sehingga membuat saya ingin menebus segala kesalahan saya pada mereka saat ini. Semakin dewasa saya semakin menyadari, untuk bisa memberi yang terbaik pada mereka, menyenangkan hatinya dan sebisa mungkin menjadi seperti apa yang mereka inginkan. Sayaa yakin kesempatan itu masih ada. Pun kesempatan untuk menjadi istri yang terbaik bagi suami saya dan ibu terbaik bagi anak saya. Saya yakin Allah masih memberi kesempatan pada saya untuk bisa membahagiakan orang-orang terdekat saya, menjadikan diri saya orang yang bermanfaat. Insya Allah
Apa yang Kau Cari Dari Suamimu?
Dulu ketika kau masih berstatus single, kau pernah ucapkan bahwa menginginkan tipe suami yang mapan dan shalih. Dua kriteria itu menurutmu sudah cukup mewakili keinginanmu saat mencari pendamping. Bagimu kemapanan adalah hal penting di mana harapan berkeluarga nanti akan berkecukupan bahkan kalau bisa berlebih. Kemudian kriteria shalih adalah karena ingin menyeimbangkan dengan statusmu saat itu yaitu menjadi seorang aktivis Islam. Kau ingin suamimu nanti orang yang berpengetahuan agama lebih dan bisa menjadi imam bagimu dan keluargamu nantinya.
Saat itu kau tak memikirkan, apakah kau menginginkan suami yang bertipe terbuka, romantis, pandai berkomunikasi, suka menjaga kebersihan dan hal-hal yang nyatanya sering kelewat diinginkan. Mungkin kau terlalu luas menerjemahkan keinginanmu yang hanya mengharap punya calon suami mapan dan shalih, sementara kau tak memperdulikan apakah lelaki mapan dan shalih itu pintar berkomunikasi, tipikal romantis, memiliki sikap keterbukaan, humoris dan lain sebagainya.
Sampai pada tiba waktunya, saat kau terjebak pada sebuah kenyataan... yang sebenarnya adalah pengabulan dari doa-doamu yang terdahulu. Pada akhirnya kau telah bersanding dengan seorang lelaki yang tidak terlalu tampan, pekerjaannya tetap, berpenghasilan cukup bahkan kadang berlebih, rajin shalat berjamaah, pandai mengaji, berbakti pada kedua orangtuanya dan bertanggung jawab terhadap keluarga. Pada mulanya kau syukuri itu semua, sampai suatu ketika kau menangis terisak di dalam kamarmu sambil berkata "Sungguh, bukan ini yang aku inginkan! aku memang menginginkan suami yang mapan dan shalih tapi aku tak menginginkan suami yang dingin, yang tidak pernah memujiku bahkan mencumbu rayu aku. Perhatiannya tidak ada, cuek, tidak terlalu peduli dengan urusanku, tidak pernah mengirimkan sms padaku tuk menanyakan kabar ketika bekerja dan bla.. bla.. bla.." kau tumpahkan semua keluh kesahmu saat itu. Seketika kau puas dan tertidur lelap dengan mata yang masih sembab.
Berbulan-bulan hingga bertahun-tahun kau hidup tanpa cinta yang mendalam.. Bahkan mungkin cinta itu padam dan pudar ditelan usia. Kau terus mengeluhkan suamimu yang sibuk mengurus urusan luar rumah seperti rapat organisasi, bakti sosial dan acara-acara kemanusiaan lainnya. Dalam hatimu sebenarnya mendukung, tapi tetap kesal dibuatnya karena hampir seluruh waktu habis dan tersisa hanya tinggal lelahnya untukmu. Kau mencoba terus menghidupkan benih cinta yang sudah tak bersemi lagi. Kau terus berusaha mencari kelebihan suami yang patut membuatmu mencintainya namun tak lagi kau temukan. Kau habis daya.. berulang kali mencari dalam diri suamimu namun tak ketemu juga. Di matamu, suamimu bukanlah yang kau harapkan. Lunturlah kriteria calon suami terdahulu seperti mapan dan shalih. Karena bagimu mapan dan shalih tapi tidak romantis dan perhatian, mau jadi apa?
Lalu kau menangis lagi sesenggukan di sudut kamar, saat suamimu justru sibuk dengan urusan akhiratnya (dibaca: pengajian) kau malah habiskan waktu untuk menyesali pernikahan yang sudah dibangun lebih dari dua tahun. "Apa yang salah dari pernikahan ini?" tanyamu sambil terisak. Sementara kau tidak bisa menjawabnya bahkan suamimu pun tak bisa menjawabnya. Hening.
Pagi kembali menyapa, sudah beberapa kali dalam sepekan ini air matamu habis tiap malam. Suamimu yang mengetahui kondisimu seperti ini hanya berujar "Kamu kenapa, begadang ya.. kok matamu bengkak gitu" sambil ngeloyor pergi. Kau semakin kecewa dengan sikap suamimu bahkan sampai berpikir dalam hati "Ya Allah, rajin shalat, rajin ngaji tapi kelakuan sama istrinya ga ada perdulinya sama sekali. Sakittt ya Allah"
Lalu... Apa yang kau cari dari suamimu? Suami yang dulu kau harapkan adalah yang mapan dan shalih kini sudah ada di hadapanmu, menjadi teman hidupmu. Dia yang mungkin tak romantis, dia yang mungkin tak pandai memuji dan tidak terlalu perhatian padahal adalah orang yang paling sering mendoakanmu dalam sujudnya. Dia adalah orang yang berusaha mencukupi kebutuhanmu dengan kerja kerasnya. Dia yang selalu menyempatkan waktu tuk mengantarmu ke rumah orangtua demi memberikan kesempatan untuk kau berbakti pada orangtuamu. Dia yang selalu membangunkan dan mengingatkanmu untuk shalat tepat waktu. Lalu, ke manakah itu semua? Ke manakah penglihatanmu selama ini? Kau mencari-cari apa yang tak bisa dipenuhi suami, bukan tak bisa sebenarnya tapi tak disadari oleh suamimu. Bila kau inginkan keromantisan, perhatian, dan kasih sayang berlebih darinya maka sampaikan padanya, mintalah pada ia. Barangkali kekurangan suami yang tidak bisa kau pahami adalah bukan karena ketidakcintaannya padamu namun karena ketidaktahuan atau ketidaksadarannya untuk berbuat seperti apa terhadapmu.
Apa yang dicari belum tentu ditemui. Tapi yang sudah ada masih bisa diperbaharui.
Bukan mencari cinta yang lain.. tapi perbaharuilah cinta itu dengan mengubah sikap kita ke suami, sikap suami ke kita. Bukan untuk orang lain, melainkan semata-mata untuk menjaga cinta dalam rumah tangga terus bersemi.
Maka, apa lagi yang kau cari dari suamimu?
Soal Domain Blog yang Diubah
Bismillah..Pembaca blog yang budiman... Malam ini saya ingin mengabarkan tuk mengganti domain blog saya yang pada mulanya deasukata.blogspot.com kemudian menjadi duniakata-ku.blogspot.com dan saya masih belum menemukan kedamaian dengan kedua domain tersebut alhasil saya mendapat ilham (hehe) tuk mengganti lagi ketiga kalinya domain blog saya menjadi deasycious.blogspot.com. Oke lah, mungkin ada yang bertanya-tanya, mengapa nama tersebut yang saya gunakan. Saya hanya mencoba memadu padankan nama saya dengan kata-kata yang seolah menunjukkan icon saya atau ciri khas dari blog ini. Dan saya memutuskan menyandingkan kata delicious dengan nama saya. Lantas kenapa delicious, karena berharap pembaca blog bisa menikmati tulisan-tulisan yang saya hasilkan. Sungguh tiada yang lebih nikmat ketika menulis di blog selain tulisan itu dapat dinikmati dan bermanfaat bagi pembacanya. Aamiin.. semoga ya!Pada akhirnya, saya kembali mohon maaf atas ketidaknyamanan ini.. Semoga pembaca setia blog ini tetap istiqomah menikmati sajian tulisan saya di siniSekian.. Selamat menikmati tulisan saya ala deasycious :)
Anak Bukan Halangan Aktivitas Seorang Ibu di Luar Rumah
Cerpen,
Cinta,
Curcol,
Kehidupan Rumah Tangga,
Motivasi,
Serba-serbi ~DLT,
Tentang Rayyan,
Wanita,
Wara-Wiri
Beberapa kali, saya menemukan acara-acara penting yang pembicaranya atau pihak pengisi acara seorang ibu dan hadir membawa serta anaknya. Anaknya pun ada yang masih usia balita dan ada juga yang sudah usia sekolah dasar. Pada akhirnya, saya mengetahui dari tulisan yang saya baca bahwa di luar negeri sana banyak yang sudah mempraktekkan hal semacam itu.
Saya bersama Rayyan di At-Taawun ketika usai mengisi LDKS Misalnya saja di Italia. Ada seorang ibu yang juga anggota parlemen, Licia Ronzulli, yang selalu menghadiri rapat parlemen sambil membawa anaknya. Ronzulli yang lahir di Milan menjadi wakil rakyat dari Partai Kebebasan dan masuk parlemen sejak tahun 2009. Dia terkenal karena sering membawa putrinya ke sidang pleno sejak bayi.Subhanallah, ini suatu hal yang luar biasa bukan? Bisa dikatakan Italia termasuk yang mendukung situasi darurat seorang ibu yang harus mengasuh anaknya. Bahkan membawa anak ke tempat kerja saat ini mulai menjadi trend baru di belahan Amerika Utara tersebut.Jadi tunggu apalagi... Para ibu yang merasa aktivitas luar rumahnya direpotkan dengan anaknya yang masih kecil, mengapa tidak mencoba untuk berani ambil langkah seperti anggota parlemen Licia? Saya saja semakin percaya diri, untuk mengajak serta Rayyan dalam setiap aktivitas luar rumah yang saya hadiri. Itu karena saya ingin Rayyan tumbuh bersama umminya, dan meneladani apa yang saya lakukan sehari-hari bersamanya. Insya
Wanita, Aneh tapi Nyata!
Dulu... Kalau ada apa2 curhatnya ke my mother.. Mulai dari hal2 kecil sampe ke curhat yang dalem2. Hehe... Tapi sekarang... Posisinya udah digantiin suami. Mau ada masalah kecil sampai masalah yg paling dalem... Cuma suami yg bisa dengerin dan jadi tempat berbagi cerita. Tapiii... Kalau dulu pas curhat ke ibu sendiri minta dikomenin atau ditanggapin, nah sekarang curhat ke suami malah saya suruh diem.. Biar cuma minta didenger aja habis kadang ditanggepin cuma "ohh", "iya mi".. Singkat, datar dan mengena ya. Hehe.. Sekarang lebih paham kenapa kalau curhat ke lawan jenis itu cuma ditanggapi seadanya. Ya itu... Karena ternyata dengan diamnya suami saya atau jawab ala kadarnya, sudah membuat saya puas.. Kenapa? Karena kita (wanita) sebenarnya hanya butuh pendengar (teman berbagi) tanpa harus ditanggapi. Itulah wanita... Aneh tapi nyata ya.
Ketika Wanita di Posisi Salah dan Kalah... Duhai Para Suami Bacalah!
Saya bisa merasakan.. sebagai seorang wanita, istri dan juga sebagai seorang ibu. Betapa kami kaum wanita harus memiliki hati seluas samudera, lapang dan luas mengangkasa. Kami berusaha menyamai para bidadari yang mungkin diinginkan para suami. Namun kami hidup dalam sebuah kenyataan, bahwa kami tak sempurna seperti yang diinginkan.Menjalani bahtera rumah tangga tak semudah dibayangkan... Seringkali terjadi perselisihan antara pasangan. Katanya itu bumbu cintanya, yang justru bisa menjadi malapetaka.Saya.. berhasil menemukan sebuah kondisi. Di mana jiwa kami sebagai ibu rumah tangga tertekan.. dengan keadaan, dengan situasi. Sekali pun kami lisankan "kami bersabar". Nyatanya itu hanya sebuah ucapan. Jauh di lubuk hati yang terdalam, hati kami remuk redam.Ketika seorang istri yang ditemukan suami sedang melakukan percakapan dengan beberapa teman lamanya yang seorang pria. Naik pitamlah sang suami dan keluar perkataan ini "Kalau laki-laki yang begitu wajar, tapi kalau wanita yang seperti itu namanya kurang ajar". Lalu kalimat lain yang sering terdengar adalah "Wanita selalu berada di posisi salah dan kalah". Lantas.. apakah kami serendah itu sehingga kami tak pernah bisa membantah sabda yang terucap dari para suami? Padahal kami ingin menjelaskan dulu alasan berbuat demikian.Kau larang kami bersolek cantik ketika berpergian denganmu, agar meminimalisir timbulnya kecenderungan pria yang melihat atau berpapasan dengan kami di jalan. Sementara dengan liarnya kau umbar pandangan matamu pada wanita di luar sana yang tak halal bagimu. Sementara kami memergokimu, lantas kau mengatakan "kalau laki-laki yang begini wajar, tapi kalau wanita yang begini namanya kurang ajar". Lagi-lagi kami terpojok dengan pernyataanmu yang sedemikian. Hingga kami bungkam dan lebih memilih untuk mengalah.Kau larang kami berpergian jauh bahkan berkumpul dengan teman lama saja tidak diperbolehkan. Kau perintah kami untuk menjaga kehormatan diri dan keluarga dengan berada di dalam rumah. Sementara kau dengan asyiknya berkomunikasi interaksi dengan rekan kerja wanita yang tidak berhijab dan mengumbar kata-kata lelucon untuk mencairkan suasana. Ketika kami mengetahui hal ini, lagi-lagi kau berujar hal yang sama "kalau laki-laki yang begini wajar, tapi kalau wanita yang begini namanya kurang ajar". Lantas kami hanya menurut lagi, berusaha mengubur dalam-dalam segala teguran dan lebih memilih mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang tiada habisnya.Kau tak beri kesempatan pada kami untuk bergantian menjaga dan mengawasi buah hati. Alasannya kau sibuk dengan pekerjaanmu, siang dan malam. Lantas ketika kau ditugaskan ke luar kota dari kantor dan kau anggap bahwa keikutsertaan anak dan istri tak begitu penting, dikhawatirkan bisa mengganggu pekerjaan sekaligus liburan gratis. Kau nikmati beberapa pulau yang sudah dikunjungi, kau kirim foto-foto dokumentasi selama di sana. Sementara kami hanya bisa mendengar cerita bahagiamu, hanya bisa melihat foto-foto yang membuat iri. Kami juga ingin merasakan hal yang sama denganmu. Sungguh... Namun sekali lagi kami hanya bisa menelan semua impian tersebut dan kembali bermain serta mengasuh si buah hati yang terus tumbuh dan besar tanpa pengawasanmu.Kau larang kami bergaul di dunia maya.. hanya boleh berteman dengan sesama jenis saja. Sementara ketika kami mengetahui bahwa kau berkomunikasi dengan teman wanita yang katanya lagi diskusi via online demi pekerjaan yang tertunda ketika bertemu di kantor. Lantas kau lagi-lagi mengelak dan mengeluarkan jurus jitu "kalau laki-laki yang begini wajar, tapi kalau wanita yang begini namanya kurang ajar". Kami pun terdiam, hanya bisa menunduk lesu dan kembali mengalah serta menelan pil kecewa yang amat dalam.Kami tahu, kami adalah para istri... para ibu rumah tangga yang tugas dan perannya menjaga kehormatan diri serta keluarga di rumah, mengawasi dan mendidik buah hati dengan sebaik-baiknya. Tapi kami punya hati, punya rasa.. kami ingin bisa menikmati apa yang bisa dinikmati oleh para suami. Kesenangan yang tak pernah dibelenggu oleh waktu, kesenangan yang hadir kapan dan di manapun bisa dipinta. Tanpa perlu memikirkan ini itu hingga pikiran ini bercabang dan membuat hati dan jiwa merasa tertekan. Apakah kami harus selalu, menurut dan membiarkan diri merasa terbelenggu. Lagi-lagi... benarlah perkataan dari seorang suami di sana "wanita berada di posisi yang salah dan kalah". Padahal kami... berdiam dan tak berani menyatakan rasa yang terpendam ini karena hanya dengan alasan satu hal. Jika bukan karena hal ini, kami menyerah.. biarlah kami hidup dalam posisi yang salah, kalah dan menyerah. Agar para suami bangga dengan kewajarannya dan menganggap kami kurang ajar jika melakukan apa yang tak sesuai kehendaknya. Kami hanya bertahan... untuk keluarga ini. Ya. Kami bertahan hanya demi anak-anak. Agar kami tetap melihat keceriaan mereka dan tetap bahagia karena memiliki orangtua yang lengkap.
Duhai para suami.. kami menyadari bahwa kami selalu di posisi yang salah dan kalah. Mau seperti apapun pemberontakan kami.. tetap salah dalam sebuah pandangan. Istri harus nurut suami. Begitulah dalilnya... Maka, kami sedang berusaha menunaikan hal tersebut... untuk tetap setia berbakti dan mengabdi bersamamu. Maka, kami memohon... Berusahalah juga agar kau bisa mengerti dan memahami kondisi kami. Ajaklah kami dalam kebahagiaanmu, ajaklah kami dalam kesuksesanmu, ajaklah kami dalam keshalihanmu agar kita bisa bergerak seiringan tanpa ada saling menuntut satu sama lainnya.
Semoga... suatu saat ini, doa kami diijabah Allah SWT. Doa yang telah kami kirim ke langit... Agar mengetuk pintu hati pengertianmu, agar kau turut memahami isi hati kami, yang sejujurnya selalu ingin berbakti padamu. Maka dengan segala pinta... berubahlah untuk menjadi imam yang bisa membawa keluarga kita ke dalam jannah-Nya, bersama.#terinspirasi dari berbagai curahan hati yang disampaikan para ibu rumah tangga
Hati Ibu yang Lapang
Seorang ibu harus memiliki hati yang lapang..
Menerima segala yang mengamuk dg tenang..
Bagai badai yang hinggap menyerang.
Apapun kondisinya harus dilalui dg senang.
Kesabaran menerima resiko berat yang datang.
Kesabaran menerima resiko berat yang datang.
Tenang... Semoga waktumu tiba riang.
Saat semua peluh letihmu banyak menggenang.
Allah kan balas ribuan daya juang. Insya Allah
Saat semua peluh letihmu banyak menggenang.
Allah kan balas ribuan daya juang. Insya Allah
Setia yang Teruji
Cinta itu teruji..
Pada saat di sisi hanya sunyi.
Pada saat di sisi hanya sunyi.
Kegalauan muncul tanpa henti.
Menyibak malam yang kelam sendiri.
Mungkin saja datang yang tak dikehendaki..
Saat diri dilanda sepi.
Saat diri dilanda sepi.
Sementara sebelah pasang jiwa tak menemani.
Pada akhirnya langkah salah terjadi..
Berharap dapat lebih dari yang telah dimiliki.
Padahal haram yang justru dilakoni.
Berharap dapat lebih dari yang telah dimiliki.
Padahal haram yang justru dilakoni.
Duhai para suami.. Para istri..
Semoga setia selalu terpatri.
Saat separuh jiwamu tiada di sisi.
Semoga setia selalu terpatri.
Saat separuh jiwamu tiada di sisi.

















