"Tidak ada yang sempurna di dunia.. Jika begitu adanya, mengapa masih mengharap berlebih dari apa yang sudah diberi oleh-Nya? Sekalipun masalah yang menyapa, ia bukan masalah yang tak ada jalan keluarnya. Karena pada-Nya saja, kita mengharap dan meminta.."

Postingan Populer

Pengikut

Tampilkan postingan dengan label Kepenulisan. Tampilkan semua postingan

Peluncuran Buku "Dua Kodi Kartika" Keke Busana, Dari Kanal Tradisional Hingga Omset Fenomenal

Hadirnya fenomena menguatnya kelas menengah muslim di Indonesia, mendorong Keke Busana menangkap peluang, berupa potensi pasar yang harus digarap serius. Keke busana hadir tidak hanya mengeluarkan produk-produk busana muslim berkualitas tetapi juga hadir dengan praktik bisnis yang syarat dengan nilai spiritualnya.

Itulah yang disampaikan oleh Rendy Saputra selaku CEO Keke Busana usai peluncuran dan bedah buku “Dua Kodi Kartika” pada Pameran Islamic Book Fair (IBF) 2015 di Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (1/3/15). Hadir sebagai pembicara juga yaitu inspirator Sukses Mulia, Jamil Azzaini dan pemilik Keke Busana, Ika Kartika.

Rendy Saputra yang merupakan penulis buku “Dua Kodi Kartika” mengawali karirnya di tahun 2012 sebagai konsultan Keke Busana kemudian berkat ketekunan serta keseriusannya dalam berkontribusi di Keke Busana membuat dirinya masuk dalam jajaran direksi di tahun 2014.

Merek KeKe Busana diambil dari kata “Keukeuh” dalam bahasa sunda yang artinya ngotot tetapi berkonotasi positif. Rendy menulis dalam bukunya “Ngototlah untuk menjadi yang terbaik, karena menjadi baik itu perlu ngotot”.

Ia bercerita dalam bukunya, bahwa dalam kegigihan usaha Ika Kartika yang akrab disapa Bunda dalam mengembangkan usahanya, berawal dari 2 kodi baju dengan hanya 2 model di tahun 2006. Namun dengan kengototannya, produksi KeKe Busana mencapai 300.000 busana muslim dalam kurun waktu 8 tahun dengan jaringan distribusi yang telah tersebar di seluruh Indonesia.

Buku “Dua Kodi Kartika” berisi 40 kisah pembelajaran hidup di mana penulis mengambil kisah yang sarat dengan falsafah hidup dari pemilik Keke Busana, salah satunya dari segi kepemimpinan Bunda Ika Kartika pada anak buahnya yang sangat diacungi jempol. Menurutnya banyak nilai-nilai bisnis yang perlu dicontoh dari Bunda untuk menjadi pengusaha dengan cara yang benar.

Sedangkan pembicara lainnya, Jamil Azzaini menambahkan bahwa buku setebal 282 halaman ini merupakan bacaan wajib bagi siapa saja yang baru atau sedang menekuni dunia bisnis agar bisnis yang dibangun dapat berkembang pesat. “Bukan teori tanpa bukti, tapi ramuan yang diolah dari pengalaman nyata seorang wanita yang sangat layak dijadikan teladan,” kata Jamil.

Menurut pemilik KeKe Busana sendiri, kunci keberhasilannya dalam membangun merk, tidak lepas dari kerja tim. Sebab Bunda merekrut anak-anak muda terbaik, kemudian mensinergikan mereka ke dalam KeKe Busana, dan memberikan ruang untuk ide-ide mereka. Selain itu, kunci sukses KeKe Busana selain kekuatan SDM, kekuatan jaringan juga kekuatan produksi.

Keke Busana menggunakan Tagline “Beauty in Harmony”, dengan harapan setiap produk yang dihasilkan mengandung keselarasan dalam warna dan pola sehingga menghasilkan keindahan bagi pemakainya serta berkah bagi stakeholdersnya. Aamin.

Menjadi Wirausahawan Muslim

Hari kamis (26/02) yang lalu, saya menemani suami (Ayatullah ZN, M.Pd) mengisi Kajian Rutin Kamis Sore yang diadakan oleh Forum Mahasiswa Muslim Pascasarjana UNJ bertempat di Masjid Nurul Irfan UNJ untuk berbagi ilmu mengenai tema kewirausahaan.

Saya menyimak materi yang disampaikan suami. Maka, saya coba paparkan melalui tulisan ini untuk berbagi dengan para pembaca yang budiman. Sebelum memulai materi, suami memberitahukan sasaran pencapaian dalam kajian tersebut. Ada 3 goal yang diharapkan: Pertama, menumbuhkan jiwa wirausaha. Kedua, wirausaha dalam Islam dan ketiga, saatnya memulai usaha.

Pertama, aspek dalam menumbuhkan jiwa wirausaha adalah pemikiran (fikriyah), keyakinan (qalbiyah) dan latihan (tadribah). Yang kesemuanya itu harus dipraktekkan dengan keberanian untuk memulainya. Berkaca pada Robert T. Kiyosaki, yang memiliki dua orang ayah yaitu ayah kaya dan ayah miskin. Dari situlah ia menjelaskan teori mengenai perbedaan prinsip bekerja ayah kaya dan ayah miskin. Salah satunya adalah ayah miskin bekerja untuk orang lain dan melek pendidikan formal sedangkan ayah kaya bekerja untuk diri sendiri dan melek secara finansial.

Hidup tidak jauh dari aset dan liabilitas (utang). Apa itu ASET? Ialah sesuatu yang bisa menambah uang ke dalam ‘kantong’ kita. Sedangkan LIABILITAS ialah sesuatu yang membuat kita mengeluarkan uang dari ‘kantong’.

Suami saya mengambil contoh Handphone. Barang ini akan menjadi sebuah liabilitas kalau tidak digunakan untuk mendapatkan penghasilan. Karena setiap bulan tentu harus mengeluarkan uang untuk membeli pulsa. Lain halnya bila menggunakan HP untuk berbisnis pulsa. Dengan mengeluarkan uang untuk beli pulsa, malah bisa mendapat pulsa gratis + untung yang lebih.
Jadi, orang-orang yang sukses dan menjadi kaya (karena sukses pasti kaya, sedangkan kaya belum tentu sukses) cenderung memiliki kesamaan untuk berinvestasi di aset. Tahanlah diri lebih dulu untuk keinginan konsumtif berbelanja ini itu kalau semuanya adalah liabilitas. Karena nantinya pun hanya akan menguras uang kita lebih banyak lagi.

Maka, sukses adalah memperbesar kolom aset dan memperkecil kolom liabilitas. Kembangkan aset kita hingga akhirnya bisa membayar semua kebutuhan liabilitas. Karena di titik tersebut, tentulah kita sudah passive income.

Kedua, wirausaha dalam Islam. Dalam kitab Fathul Baari Nabi SAW bersabda: “Allah SWT memiliki 20 pintu rezeki untuk hamba-Nya, 1 pintu rezeki untuk mereka yang bekerja untuk orang lain (employee) dan 19 pintu rezeki untuk mereka yang bekerja dengan tangan mereka sendiri (entrepreneur).”(Al Hadits)

Rasulullah SAW sebagai teladan umat adalah seorang Pedagang/Pengusaha yang handal (skillfull) dan terpercaya (kredibel). Dari 10 Sahabat Rasul yang dijamin oleh Allah SWT masuk ke dalam surga, 9 di antaranya adalah para Entrepreneur sejati.

Jika berkaca pada entrepreneurship ala Rasulullah, kita bisa menemukan Jiwa entrepreneurship sejak usia 12 tahun tatkala pamannya Abu Thalib mengajak melakukan perjalanan bisnis ke Syam. Lalu pada usia 17 tahun telah diserahi wewenang penuh untuk mengurusi seluruh bisnis pamannya. Pada usia 20 hingga 25 tahun merupakan titik keemasan, terbukti dengan tertariknya seorang Investor/Konglomerat Makkah Khadijah Binti Khuwalaid yang kemudian meminangnya untuk menjadi suami. Dan beliau mulai mengurangi kegiatan bisnisnya ketika mencapai usia 37 tahun.

Lalu, apa yang menjadi kunci kesuksesan berbisnis ala Rasulullah? Yaitu dedikasi, keuletan yang tinggi dan kecerdasan beliau dalam mengelola bisnis. Kemudian Rasul membawa nilai-nilai yang utama yaitu kejujuran (shiddiq) dan kesetiaan memenuhi term dan condition (amanah).

Ketiga, saatnya memulai usaha (start to be YOU not YOURS). Milikilah langkah menuju sukses yakni ide yang terus dikembangkan, kemauan dan kemampuan yang mengiringi, semangat dan kerja keras dalam berusaha serta loyalitas dan bertanggung jawab terhadap usaha yang digeluti. Dengan begitu kita akan mampu menjadi wirausaha muslim sejati.

Ikutilah langkah-langkah menjadi entrepreneur seperti Roger Cartwright yang mampu mencari produk, layanan, gagasan yang BERBEDA. Kemudian tentukan langkah-langkah mendapatkan SUMBER DAYA yang diperlukan. Jangan lupa untuk mengenali lingkungan eksternalnya dan mengenali diri serta tujuan. Kuasailah kecakapan-kecakapan yang menunjang usaha dan pertimbangkan setiap resiko, namun jangan sampai takut gagal. Tentukan sasaran yang ingin dicapai dan komunikasikan visi terhadap orang-orang di sekitar. Kemudian cari dukungan dan bangun jaringan kerja dengan orang banyak.

Poin penting yang harus diingat adalah luruskan niat bertaqarrub pada Allah SWT, ikuti sunnah Nabi dan Rasul dalam berwirausaha, belajar dari entrepreneur muslim yang sudah sukses dan tentu lakukan praktek di lapangan. Karena teori tanpa praktek adalah NOL besar.

Let’s start to be you. Mengawali usaha harus dilakukan dari “Nol” atau dari bawah. Jangan abaikan “Reputasi” dan kredibilitas pribadi seorang Entrepreneur Karen itu merupakan “modal” utama meraih sukses. Sedangkan modal uang hanyalah “pelengkap” bukan yang utama dalam memulai usaha/bisnis. Kita bisa memulai dari dari apa yang dimiliki dan mulailah dari sekarang. Pilihannya, tetap bekerja atau tetap berpenghasilan? Tentu kita harus berpenghasilan tetap dan tetap berpenghasilan. Itulah entrepreneur sejati.

Menulis Itu MenCERAHkan


Menulis... Merupakan aktivitas yang menCERAHkan. Jangan ragu untuk menulis.
 Tulisan.. bukanlah gores pena semata, tetapi ia merupakan pembuka jendela dunia”

Menulislah…
Selama engkau tidak menulis, engkau akan hilang dari dalam masyarakat dan dari pusaran sejarah

Pembicara Talkshow "Saatnya Menjadi Remaja Berprestasi dan Produktif" di Subang

Alhamdulillah, tepatnya 31 Januari 2015 lalu dikasih kesempatan mengisi acara Syifest 2015 garapannya santriwati As-Syifa Islamic Boarding School Subang. Saat itu pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Subang yang daerahnya menanjak dan berbukit-bukit. Qadarullah ditemani suami, anak dan kedua orangtua yang terus menyupport kegiatan saya. Alhamdulillah talkshow bertajuk "Menjadi Remaja Muslimah Berprestasi dan Produktif" akhirnya berjalan lancar. Berikut saya akan share potongan slide materi dalam bentuk JPGnya :)

Bagi yang ingin meminta softcopy materi bisa hubungi saya langsung 0812-83810066. Semoga Bermanfaat..



















Soal Domain Blog yang Diubah

Bismillah..

Pembaca blog yang budiman... Malam ini saya ingin mengabarkan tuk mengganti domain blog saya yang pada mulanya deasukata.blogspot.com kemudian menjadi duniakata-ku.blogspot.com dan saya masih belum menemukan kedamaian dengan kedua domain tersebut alhasil saya mendapat ilham (hehe) tuk mengganti lagi ketiga kalinya domain blog saya menjadi deasycious.blogspot.com. Oke lah, mungkin ada yang bertanya-tanya, mengapa nama tersebut yang saya gunakan. Saya hanya mencoba memadu padankan nama saya dengan kata-kata yang seolah menunjukkan icon saya atau ciri khas dari blog ini. Dan saya memutuskan menyandingkan kata delicious dengan nama saya. Lantas kenapa delicious, karena berharap pembaca blog bisa menikmati tulisan-tulisan yang saya hasilkan. Sungguh tiada yang lebih nikmat ketika menulis di blog selain tulisan itu dapat dinikmati dan bermanfaat bagi pembacanya. Aamiin.. semoga ya!


Pada akhirnya, saya kembali mohon maaf atas ketidaknyamanan ini.. Semoga pembaca setia blog ini tetap istiqomah menikmati sajian tulisan saya di sini

Sekian.. Selamat menikmati tulisan saya ala deasycious :)

Rindu Tersiksa


Keberadaan baru terasa...
Ketika ia sudah tiada.

Saat ia masih ada...
Seringkali kita sia-sia.

Hingga suatu saatnya...
Penyesalan tiada guna.
Kepergian membuat rindu tersiksa..

Malam Impian

Ketika malam datang..
Kulihat kelam yang menjelang.
Mengiringi pergantian hari menuju terang.

Masih beberapa lama tiba siang.
Sementara diri terus mengejar garang..
Berharap impian didapati senang.

Tak boleh aku meradang..
Kuharus nikmati prosesnya dengan tenang.
Satu persatu melewati jalan berlubang..
Berharap akhir indah kudapati girang.

#‎malamimpian‬

Menjadi Editor dari Rumah

Malam ini sepertinya ingin sedikit mencurahkan isi hati serta pikiran yang membelenggu jiwa. Mumpung anak lanangku sudah tidur lelap, dan suami masih berkumpul dalam lingkaran pengajiannya. Saya, sudah gatel ingin menulis ini. Lebih tepatnya ingin berbagi suka duka yang saya rasakan selama ini. Heuheu :D

Bekerja jadi editor.. Saya mencoba menikmatinya. Qadarullahnya, passion saya memang berkecimpung di bidang kepenulisan. Jadi, udah gak aneh baca tulisan atau lihat artikel di laptop yang berhalaman-halaman. Saya menerima pekerjaan ini, karena memang saya menyukai latar belakangnya dan selain itu juga saya bisa bekerja namun tetap berada di rumah. Puji syukur alhamdulillah, saya mendapat kesempatan untuk terus mengasah bakat serta kemampuan menulis. Karena meski saya hanya bertugas mengedit, tapi saya harus banyak belajar untuk mengetahui dasar-dasar kebahasaan seperti EYD, penggunaan kata baku-tidak baku dan atau sesuai dengan KBBI atau tidak. Ya begitulah.. dengan memperoleh pekerjaan yang seperti ini, saya sangat syukuri tentunya terlebih karena saya masih tetap bisa mengurus anak serta suami di rumah :)

Namun, kegalauan itu muncul... Kalau saya lagi kurang enak badan atau anak sedang rewel-rewelnya. Sudah pasti kerjaan terbengkalai. Karena bekerja dari rumah sebagai IRT itu agak sulit mengatur waktunya dengan pekerjaan saya sebagai editor. Contohnya saja, jam kerja saya adalah dari pkl 8 pagi sampai pkl 4 sore. Dalam rentang waktu sekian itu, saya harus bisa menyelesaikan pengeditan naskah sebanyak 10 konten. Dan ternyata setiap kali saya sudah berada di depan laptop... anak saya, Rayyan tetiba minta disetelkan video Thomas and Friends, kontan saya tidak bisa menolak dan mengalah. Pun akhirnya urung mengedit satu naskah lantaran laptopnya dipakai anak menonton video.. Sedangkan jika menunggu Rayyan tidur siang, ehh saya pun sudah lelah karena selama Rayyan menonton video di laptop saya bisa menyelesaikan pekerjaan RT seperti nyuci piring, menyetrika baju, nyapu ngepel dan lain sebagainya jadi kalau sudah ngelonin Rayyan tidur siang, mau tidak mau saya ikut tidak sadarkan diri, Haha.

Nah, adakalanya saya pintar mencari waktu untuk bisa menyelesaikan editan naskah. Terkadang, ketika Rayyan sudah tidur siang, saya memaksakan diri untuk membuka mata lebar-lebar sambil dikasih candu minuman berkafein alias kopi. Alhasil beberapa kali terapi seperti ini dilakukan, saya langsung bisa mengedit naskah hingga 5 naskah sekali jadi. Ini tentu sebuah keberhasilan yang perlu diapresiasi. Lantas bagaimana mengapresiasinya? Biasanya setelah saya ngedit naskah sebanyak 5 konten itu dalam satu waktu, saya langsung merebahkan diri di kasur dan bablas tertidur hingga 3-4 jam. Tetiba bangun tidur sudah ada Rayyan yang sedang asyik main sendiri, haha.

Selama bekerja sebagai IRT, asli saya ga pernah dituntut apa-apa sama suami atau anak. Saya kerja semau saya sendiri. Kalau lagi semangat, seharian saya bisa mengerjakan 3-4 pekerjaan RT seperti pagi-pagi mencuci baju kemudian menjemurnya setelah itu mencuci piring kemudian menyapu dan mengepel lantai.. Semuanya bisa saya kerjakan dengan penuh semangat. Namun, kalau saya sedang lelah dan lagi moody, bisa-bisa semua pekerjaan RT menumpuk dan rumah rasanya kotor sekali. Ihikz.. Inilah seharusnya ada ART yang bisa membantu menangani hal macam gini namun sayang amat malang, nyari ART begitu sulit di jaman serba canggih seperti ini. Sekalinya dapet, udah paruh baya, kakinya sulit berjalan jauh karena ada reumatik. Jaman padahal udah canggih, tapi ART ini masih aja ngandelin kaki untuk kesana kemari #pilihan.

Nah balik lagi ke cerita saya sebagai editor. Jujur juga nih, adakalanya saya merasa kerepotan sekali ketika sudah lapang berada di depan laptop lantas ketika mau menyambungkan koneksi ke internet ternyata jaringannya error atau website sedang dalam perbaikan. Alamat gagal total lagi saya mengedit dan mengupload naskah padahal saat itu Rayyan sudah tidur lelap atau sedang asyik menonton film kartun. Nah, kalau sudah begitu... target yang semestinya tercapai sebanyak 10 naskah mau tidak mau hanya bisa terupload kurang lebih 5-7 naskah saja. Itu pun kadang saya mencari naskah yang isinya hanya 1-2 halaman saja dan atau saya utamakan yang mengirim naskah berupa syair atau puisi karena gampang diedit hehe.

Kalau soal sah atau tidak sahnya naskah yang saya upload sebenarnya sudah ada panduan dari redaktur, tapi mau bagaimana lagi. Saya curhat pun dan mengeluhkan kondisi saya, entah dimaklumi atau tidak. Mungkin maunya tahu beres saja. Makanya, beberapa kali saya melakukan aksi yang seperti itu, yang terpenting saya mengedit dan mengupload naskah sesuai target yang ditentukan.

Namanya jadi ibu rumah tangga. Saya gak bisa dikasih jam kerja. Karena saya bekerja sesuai kondisi dan situasi. Nah yang begini ini, ketika Rayyan lagi rewel sementara saya juga harus tetap menyelesaikan pekerjaan rumah tangga terus saya juga harus ngedit dan ngupload, rasanya saya seperti dikejar-kejar apalagi ketika lihat jam di dinding yang sudah menunjukkan batas akhir penguploadan yaitu pkl 4 sore. Alhasil saya bersegera membuka file naskah dan mulai mengedit, nah yang saya gak sangka-sangka ternyata naskah pertama yang saya edit itu berjumlah 6 halaman. Kemudian saya cek naskah kedua ternyata isinya cerpen dan lebih panjang lagi karena berjumlah 10 halaman WOW dan yang ketiga saya membuka naskah ternyata isinya hanya 4 halaman namun isinya berupa tafsir ayat suci Al-Quran. Asli kalau yang begini, saya udah pasti nyerah. Maksudnya nyerah untuk gak edit 3 naskah itu? Bukan... saya gak nyerah ngedit 3 naskah itu tapi saya nyerah ngedit naskah-naskah berikutnya. Makanya cuma bisa ngedit maksimal 5 naskah kalau mengalami hal semacam ini. Akhirnya gak sesuai target kan, dan cuma bisa bergumam dalam hati.. "pasrah deh mau digaji berapa nih akhir bulan?" Heuheu..

Udah gitu.. dukanya lagi jadi editor, asli ini mah saya jujur aja. Ada beberapa penulis yang tetiba mengajak saya berteman di dunia maya atau menghubungi saya via email, cuma gegara minta diedit kembali naskah yang sudah saya publish ke media lantaran ada yang perlu diperbaiki atau ada yang perlu ditambahkan. Nah.. ini yang membuat saya makin tambah stress. Karena ketika saya sudah tutup laptop dan mengakhiri jam kerja saya, lantas membaca email atau pesan FB di Hp minta diedit tulisan mereka yang telah dipublish, maka mohon maaf saya keluarkan kalimat "lain kali, tolong diperiksa dulu tulisannya sebelum dikirim ke email redaksi ya". Bukan apa-apa, gak mungkin saya buka laptop lagi, nunggu terkoneksi lagi dan belum lagi baru mau ngedit ehh anakku udah rewel minta ditemenin main kuda-kudaan. Alhasil permintaan mereka para penulis baru bisa saya kabulkan keesokan harinya. Maaf ya... Tolong ngertiin saya juga.

Ya begitulah... keluhan saya malam ini. Pada intinya sih, saya berharap untuk bisa bertahan dengan pekerjaan ini. Karena mendapat pekerjaan seperti ini gak mudah. Saya termasuk yang beruntung bisa bekerja hanya dari rumah. Tapi, namanya mau dapat sesuatu, maka harus ada yang dikorbankan. Ya, ngorbanin waktu-waktu kebersamaan dengan si kecil tentunya. Kami memang selalu bersama, tapi jika duduk bersebelahan dan saya sibuk di depan laptop sementara anak saya sibuk nonton film kartun, usai itu saya merasa amat menyesal mengapa saya tidak bisa mendampinginya dan mengajaknya mengobrol ketika ia sedang menonton film kartun. Padahal banyak pelajaran yang bisa saya sampaikan ke anak saya ketika menonton film kartun tersebut. Maafkan ya nak..

Oleh karena itu, balas dendam saya atas waktu yang berkurang dalam mendampingi anak saya adalah ketika weekend sabtu-minggu. Saya selalu mengusahakan untuk bisa kami berpergian bersama, dan mengajak anak saya bermain di arena bermain atau sekadar mengajaknya berlarian di lapangan. Bagi saya, semoga itu bisa menebus waktu kebersamaan efektif kami di rumah sekalipun kami selalu bersama.

Pada akhirnya, semoga ALLAH memudahkan saya menjadi editor yang baik dan bertanggung jawab dalam menjalankan tugas. Semoga Allah juga memberikan kekuatan fisik, pikiran serta ruhani untuk terus menjalani peran sebagi istri, ibu dan membantu suami dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga kami. Semoga (lagi) Allah jadikan saya IRT yang tangguh dengan tidak lupa juga dalam pemenuhan hak-hak tubuh diri sendiri. Bismillah.. semoga kerja keras saya semuanya berkah. Insya Allah :)

Muslimah Tampil di Depan Umum, Why Not?!


Ingatan saya kembali terulang kala menatap piagam-piagam yang pernah diberikan pada saya ketika diundang dalam sebuah acara/event. Sayangnya.. beberapa piagam itu sudah tak terbentuk, ada yang sudah keriting dan banyak juga yang sobek lantaran tak terselamatkan karena musibah banjir beberapa tahun yang lalu. Ada sedih di hati tatkala hanya bisa memandanginya sambil memungut lalu membuangnya ke tempat sampah. Sambil mencoba menghibur diri, saya berkata dalam hati “Tak mengapa, ini hanya lembaran kertas yang tak terlalu berarti, karena yang berarti adalah pengalaman itu sendiri”.

Ya. Saya mulai diundang untuk tampil di depan umum saat berakhir status sebagai pelajar SMA. Ketika itu musim libur sekolah dan pergantian semester. Sementara di tengah aktivitas saya yang masih ngambang saat itu karena menunggu pengumuman PTN, salah seorang teman pengajian menghubungi saya dan meminta saya untuk mengisi kajian di kampus STIE Nusantara yang kini sudah berganti nama menjadi IBN (Institut Bisnis Nusantara). Dalam pikiran saya kala itu, ini merupakan peluang untuk saya mengasah bakat dan potensi diri yang barangkali masih terpendam.

Alhasil tibalah waktu di mana saya mengisi kajian muslimah di kampus tersebut. Saya terkaget-kaget karena pesertanya kala itu hampir mencapai 50 orang dan ketika saya diminta KTP sebagai bukti identitas pengisi materi, salah seorang panitia mengernyitkan dahi dan mengatakan “Masya Allah ternyata mbak masih 17 tahun ya. Muda sekali”. Seketika saya menunduk, antara malu karena dibilang muda dengan perasaan tidak enak karena saat saya menyampaikan materi saya tidak bilang bahwa saya lebih muda dari peserta kajiannya yang rata-rata sudah menempuh bangku kuliah tingkat tiga.
Ilustrasi. (inet)
Dari pengalaman tersebut… Saya malu! Saya amat malu untuk jujur bahwa sebenarnya saya ini semestinya yang dibimbing oleh mereka untuk mempelajari Islam lebih dalam lagi. Namun karena gengsi saya saat itu, akhirnya saya sok bersikap dewasa dan memberi kesan bahwa saya lebih tua usianya dari mereka peserta kajian.
Sesampainya di rumah, saya mengadu pada ibu saya dan menceritakan kegelisahan saya di mana saya kapok menjadi pembicara dan tidak mau lagi kalau diundang mengisi kajian. Namun, ternyata Allah berkehendak lain, sampai di suatu hari saya sudah menjadi mahasiswi dan diminta memberi sambutan serta memimpin pembacaan doa ketika ada seminar pendidikan dari jurusan. Saya, yang ketika itu sebenarnya sudah kapok tampil di depan umum ternyata masih ditodong untuk tampil dan mau tidak mau karena perintah dosen, saya pun menurut.
Saya mulai maju ke mimbar sambil memegang microphone dengan tangan sedikit gemetar. Saya memberikan sambutan mewakili ketua pelaksana seminar tersebut. Saya mulai menata kembali bahasa saya, menyampaikan perlahan kalimat demi kalimat hingga akhirnya sambutan pun usai. Dan saya kembali berhasil tampil di depan umum.

Namun nyatanya, tepuk tangan dari peserta seminar tak membuat saya puas. Saya justru kapok, untuk tidak mau tampil lagi karena merasa saat itu saya masih junior di kampus, sementara peserta seminar ada yang sudah senior di tingkat akhir. Lagi-lagi saya tidak pede, bukan karena soal kemampuan saya tampil di depan umum melainkan soal usia. Ya! Saya selalu mempertimbangkan ketika mau isi acara, apakah peserta acara tersebut lebih muda dari saya atau tidak. Kalau lebih tua, saya memilih enggan untuk tampil di depan mereka.

Seiring berjalannya waktu, saya rajin mengikuti acara seminar atau kajian terutama yang berkaitan dengan kemuslimahan. Sampai suatu saat saya menyimak seorang pembicara wanita yang mengatakan “Tidak penting siapa dirimu, seperti apa dirimu. Yang terpenting adalah ilmu yang bisa kamu bagi”. Tiba-tiba pernyataan tersebut membuat saya begitu syok. Saya langsung memohon ampun pada Allah, bahwa selama ini saya salah. Saya selalu memikirkan penilaian peserta terhadap diri saya yang masih muda kala itu ketimbang memikirkan ilmu yang saya bagi itu sudah benar dan bisa diterima oleh peserta atau belum.

Maka, seiring berjalannya waktu.. Kemantapan itu senantiasa hadir dalam diri, ketika saya diminta menjadi pembicara Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa SMA, kemudian menjadi pembicara kajian muslimah di IPB, STT-PLN, KAMMI Uhamka dan undangan mengisi acara lain yang kesemua itu membuat saya harus tampil di depan umum, pada akhirnya membuat saya berpikir untuk bisa berbagi dan tak peduli apa tanggapan atau penilaian orang terhadap diri pribadi saya. Karena yang saya niatkan adalah dalam rangka berdakwah atau berbagi ilmu. Justru yang jadi persoalaan adalah ketika usai mengisi materi saya selalu bertanya pada panitia acara, apakah saya sudah berhasil menjadi pembicara seperti yang dikehendaki mereka?

Dan pada akhirnya, setiap kesempatan untuk berbagi ilmu dengan tampil di depan umum tak pernah saya lewatkan. Saya selalu mempelajari dan melihat langsung bagaimana sosok pembicara yang handal. Mulai dari gerak-geriknya, kata per kata, bahasa tubuhnya sampai kemampuan mengelola ice breaking demi tercapainya misi berbagi ilmu yang diharapkan. Dan hal itu masih saya lakukan ketika sudah berumah tangga saat ini, karena bagi saya… seorang muslimah, perannya tidak hanya sebagai anak, istri maupun ibu saja. Dia dapat sangat efektif menjadi contoh yang baik kepada orang lain dengan menjadi baik hati, ramah berbicara, bisa menawarkan bantuan, keprihatinan berbagi serta sukacita. Dan dia juga dapat menggunakan semua kesempatan yang tepat untuk mendidik, maupun membimbing orang lain salah satunya dengan berbagi ilmu di depan umum (dibaca: pembicara).

Bukan jamannya lagi, seorang muslimah tidak berani tampil di depan umum karena alasan tidak PD atau takut salah. Karena setiap sisi kehidupan banyak menuntut peran wanita untuk bisa tampil di depan umum; berbagi ilmu pengetahuan, menyuarakan ide pemikiran dan mengubah apa yang mesti diubah dari sekitarnya. So, kita pasti bisa!. Muslimah Tampil di Depan Umum, Why Not?

Seminar Motivasi Pelajar SMA/K se-Bekasi

Alhamdulillah... pada tanggal 28 September lalu, telah berlangsung seminar motivasi pelajar SMA/K di kampus UNISMA Bekasi. Saya mendapat kesempatan mengisi materi terkait motivasi kepenulisan. Luar biasanya, semua berlangsung dengan lancar dan saya amat bahagia karena mendapat penilaian bagus oleh ibu saya yang saat itu hadir lantaran ingin menyaksikan putrinya ini tampil di khalayak umum. Semoga, ke depannya saya bisa mengasah kemampuan public speaking sehingga lain kesempatan dapat tampil jauh lebih baik lagi dari seminar kemarin :)

Laki, Ya Berjamaah Di Masjid!

Saya sering perhatikan suami.. Betapa ia selalu menjaga shalat lima waktunya tepat waktu. Dan lagi, selagi ia bisa dan tidak ada halangan yang berarti. Ia selalu mengusahakan untuk shalat berjamaah di masjid. Dan itu ia lakukan setiap hari, tidak dalam keadaan tertentu.. sekalipun ia baru pulang kerja dan sudah masuk waktu shalat maka ia hanya pulang ke rumah, meletakkan tas nya kemudian pamit untuk mengejar shalat berjamaah di masjid dekat rumah.

Subhanallah.. Ternyata, apa yang suami saya lakukan tersebut nyunnah lho.. Ini bukan perintah yang tidak ada dasarnya. Melainkan langsung dari sabda Rasulullah Saw.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
صَلاةُ الرَّجُلِ في جَمَاعةٍ تُضَعَّفُ عَلَى صَلاتِهِ فِي بَيْتهِ وفي سُوقِهِ خَمْسًا وَعِشْرِينَ ضِعْفًا، وَذلِكَ أَنَّهُ إذَا تَوَضَّأ فَأحْسَنَ الوُضُوءَ، ثُمَّ خَرَجَ إلى المَسْجِدِ، لا يُخرِجُهُ إلاَّ الصَّلاةُ، لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إلاَّ رُفِعَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ، وَحُطَّتْ عَنهُ بِهَا خَطِيئَةٌ، فَإذَا صَلَّى لَمْ تَزَلِ المَلائِكَةُ تُصَلِّي عَلَيْهِ مَا دَامَ في مُصَلاَّهُ، مَا لَمْ يُحْدِث، تقولُ: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيهِ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ، وَلاَ يَزَالُ في صَلاةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلاَةَ
“Sesungguhnya shalat seseorang secara berjamaah dilipatgandakan 25 kali lipat daripada dia shalat di rumahnya atau di pasarnya. Jika dia berwudhu, kemudian dia baguskan wudhunya, dan dia tidak ke masjid kecuali dia hendak shalat, maka dia tidak melangkahkan satu langkah kakinya kecuali diangkat derajatnya dan dihapuskan dosanya. Dan jika dia shalat maka para malaikat senantiasa mendoakannya selama dia masih tetap di tempat shalatnya dan tidak berhadast. Para malaikat berkata, “Ya Allah angkatlah derajatnya, rahmatilah dia,” dan dia senantiasa dalam kondisi shalat selama dia menunggu shalat berikutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Tuh khan.. betapa fadhilah shalat berjamaah itu luar biasa. Tapi nyatanya, di luar sana... seorang lelaki bahkan para lelaki yang sudah baligh malah menyepelekan sunnah Rasul yang satu ini. Padahal hanya cukup meluangkan waktu dari padatnya aktivitas kemudian berjalan kaki atau dengan berkendaraan menuju masjid untuk shalat berjamaah sudah bernilai pahala 25 kali lipat. Allahu Akbar!

Masih jadi alasan.. untuk males ke masjid? Lho kok kalau jogging aja bisa sejauh 500 m, ehh ini yang cuma 50 m masa' gak sanggup dan gak semangat? Situ laki?! :)

Terlalu Merasa

suka merasa "kok saya diberi amanah banyak ya?".

suka merasa "wah, kok saya bisa jadi ketua acara ini ya?
 
suka merasa "gak nyangka, peranku memang dibutuhkan orang banyak"

Padahal.. boleh jadi kita dipilih atau terpilih dalam sebuah pemilihan lantaran bukan karena kita berkompeten dalam menjalankan amanah tersebut... melainkan orang lain me'lempar' amanah itu karena kebanyakan orang tak mau menerima atau menjalankan amanah tersebut.
Kita sudah terlanjur kePD-an; merasa dibutuhkan, merasa pantas menerima amanah tersebut, merasa jago dan merasa jadi perhatian banyak orang. padahal bukan demikian.. melainkan orang lain sedang memanfaatkan kita. Memanfaatkan kemampuan kita, kepercayadirian kita sehingga kita bangga menjadi seorang pemimpin dalam pemilihan tersebut. sangat disayangkan.. padahal belum tentu kita kapabel dalam bidang tersebut.

Janganlah "Ana Khoirun Minhu"




Sikap sombong, seringkali kita tak menyadarinya. Lihatlah iblis yang dikutuk dan dikeluarkan dari surga juga lantaran sombong. Dengan sikap kseombongannya tersebut, ia menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Adam as manusia pertama karena merasa dirinya lebih baik. “Allah berfirman ‘Hai iblis apakah yg menghalangi kamu sujud kepada yg telah Ku-ciptakan dgn kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu termasuk orang-orang lbh tinggi?’ Iblis berkata ‘Aku lbh baik daripadanya krn engkau ciptakan aku dari api sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah’.”
“Ana khoirun minhu ” kata Iblis. Merasa diri lebih baik dari pada yang lain itulah sombong. Dan akibat sombong iblis dikutuk.“Allah berfirman ‘Maka keluarlah kamu dari surga sesungguhnya kamu adalah orang-orang yg terkutuk sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan.” . Kita berlindung kapada Allah dari perbuatan sombong baik dalam bentuk sifat sikap maupun perilaku karena ia dapat menjadi penghalang masuk jannah. Rasulullah saw bersabda “Tidak akan masuk jannah seseorang yang terdapat dalam hatinya sifat sombong meskipun hanya sebesar biji sawi.”
Seorang tokoh yang memiliki pengikut banyak reputasi yang luas juga berpotensi untuk menyombongkan diri lantaran ketokohannya dan pengikutnya yang banyak. Seorang yang memiliki tubuh kuat atletis jawara kadang tergoda memamerkan bentuk tubuhya disamping tidak jarang gampang terpancing perkelahian dalam urusan kecil sekalipun hanya lantaran merasa dirinya pendekar. Seorang rupawan juga kadang tergoda untuk membanggakan kecantikannya dan meremehkan yang tidak seganteng dan secantik dirinya bahkan sampai menghina bentuk fisik orang lain. Seorang hartawan sering tergoda membanggakan pakainnya yang bagus kendaraannya yang mewah rumahnya yang mentereng dengan melihat sebelah mata pada kaum alit yang kumal kotor kolot dan pinggiran. Seorang pejabat yang kebetulan pangkatnya lebih tinggi kadang merasa lebih baik dari bawahannya. Presiden merasa lebih baik dari menteri, jenderal merasa lebih baik dari kopral, direktur merasa lebih baik dari karyawan dan seterusnya.
Sifat sombong juga dapat menimpa ahli ibadah. Sosok yg secara dhahir wara’ zuhud bertahajud tiap hari berpuasa senin-kamis rawatibnya tidak pernah tertinggal. Karena salatnya rajin sekali hingga jidatnya hitam. Namun ternyata ia tergoda untuk menganggap dirinya orang yang paling suci paling baik paling takwa. Orang lain dianggap tidak ada apa-apanya dibanding dia. Rasa sombong juga dapat menghinggapi ilmuwan. Ilmunya setinggi langit titelnya profesor doktor hafal Al-Quran dapat berbicara dalam banyak bahasa. Tetapi ia tidak sabar untuk menahan dirinya merasa lebih baik dari masyarakatnya. Seorang bangsawan karena merasa berasal dari keturunan yang mulia aristokrat darah biru kadang merasa tidak sepadan jika harus bersanding bergaul dengan yang bukan bangsawan. Dapat menurunkan derajat katanya. Tak peduli yang dinggap sebagai tidak selevel itu sosok berilmu sekalipun. Tak jarang dalam pergaulan sering juga muncul kalimat yang konotasinya merendahkan seperti “Hai Irian! Hai Dayak! Hai anak si Anu?!”
Kisah Abu Dzar patut kiranya menjadi pelajaran. Suatu ketika beliau sedang marah kepada seorang laki-laki sampai terucap “Hai anak wanita hitam.” Rasulullah mendengar hal itu kemudian bersabda“Wahai Abu Dzar tidak ada keutamaan bagi kulit putih atas kulit hitam” . Mendengar hal itu Abu Dzar sangat menyesal hingga meminta orang tadi untuk menginjak pipinya. “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” Perihal sombong Rasulullah mendefinisikan dalam sebuah riwayat “Kibr adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” Dua kata kunci menolak kebenaran dan meremehkan manusia itulah sombong. Ketika ada rasa ingin menonjolkan dan membanggakan diri ketika hati kita keras menerima nasihat terlebih dari yang lebih yunior, ketika pendapat kita enggan untuk dibantah bahkan tidak jarang dipertahankan dengan dalil yg dipaksakan, ketika kita tersinggung tidak diberi ucapan salam terlebih dahulu, ketika kita berharap tempat khusus dalam sebuah majlis, ketika kita tersinggung titel dan jabatan yang dimiliki tidak disebut maka jangan-jangan virus takabbur telah meracuni diri kita. Imam Ghozali mengajari cara mawas diri agar tidak terjebak dalam sikap merasa lebih baik.
Ketika kita melihat seseorang yang belum dewasa kita bisa berkata dalam hati “Anak ini belum pernah berbuat maksiat sedangkan aku tak terbilang dosa yang telah kulakukan maka jelas anak ini lebih baik dariku.” Ketika kita melihat orang tua “Orang ini telah beramal banyak sebelum aku berbuat apa-apa maka sudah semestinya ia lebih baik dariku.” Ketika kita melihat seorang ‘alim “Orang ini telah dianugerahi ilmu yang tiada kumiliki ia juga berjasa telah mengajarkan ilmunya. Mengapa aku masih juga memandang ia bodoh bukankah seharusnya aku bertanya atas yang perlu kuketahui?” Ketika kita melihat orang bodoh “Orang ini berbuat dosa karena kebodohannya sedangka aku? Aku melakukannya dengan kesadaran bahwa hal itu maksiat. Betapa besar tanggung jawabku kelak.”
Lantas, atas dasar apa kita membanggakan diri ? Bukankah dunia ini bersifat fana? Bukankah kekayaan pangkat kecantikan keturunan pengikut dan ilmu merupakan anugerah Allah yang bersifat sementara? tidak permanen? dan dapat dicabut sewaktu-waktu jika Allah mengendaki? Lagi pula bukankah yang dilihat oleh Allah adalah ketakwaan seorang hamba? dan bukan kekayaan pangkat fisik keturunan? Maka adalah aneh jika kita merasa ana khairun minhu .

Buku Terbaruku; Panduan Hebat MenCETAK (Cerdas, Enerjik, Tangguh, Aktif, dan Kreatif) Pelajar




Alhamdulillaah, telah terbit karya terbaruku dengan suami.

          Buku ini merupakan buku istimewa yang dihadirkan bagi seorang pelajar agar mampu menjadikan dirinya cerdas, enerjik, tangguh, aktif, dan kreatif.
              Buku ini dibagi menjadi enam bab seperti daftar isi yang tertera di bawah ini:

BAB I Self Development
  • Kenali potensi dirimu! 
  • Kembangkan bakatmu!
  • 10 Kualitas pribadi agar disukai orang banyak
  • Menumbuhkan pribadi berkarakter
BAB II Art Of Learning
  • Belajar tidak seberat yang dibayangkan 
  • Ciptakan suasana belajar tanpa stres (rileks)
  • Cara-cara belajar yang baik
  • Kenali tingkah laku belajar
BAB III Fast Learning
  • Superlink yang hebat 
  • Belajar cepat ala SMART
  • Melatih otak dengan baik
  • Cara menghafal yang baik
BAB IV Quantum Learning
  • Setiap orang cerdas! 
  • Model pembelajaran kuantum
  • Belajar ala otak kanan
  • Keajaiban dibalik sebuah hitung-hitungan
BAB V Achievement
  • Setiap kita punya potensi berprestasi 
  • Mulailah dengan berpikir besar
  • Buktikan kreativitasmu!
  • Berprestasi bersama alfabet
BAB VI Leadership
  • Setiap kita adalah pemimpin 
  • 5 sikap agen perubahan
  • Prinsip dasar seorang pemimpin
  • Tumbuhkan jiwa kepemimpinan
            Dalam bab pertama, penulis mengulas tentang bagaimana cara menemukan potensi lalu berusaha mengembangkan bakat yang ada dalam diri. Layaknya berkaca pada Thomas A. Edison yang mampu mengenali potensi dalam dirinya dan tak pantang menyerah dalam mengembangkan bakat yang dimilikinya sehingga kini ia dikenal sebagai penemu bohlam lampu. Sekalipun ia telah 10.000 kali gagal dalam setiap eksperimennya, Edison tidak menganggapnya sebagai sebuah kegagalan. Kata Edison "Saya telah berhasil menciptakan 10.000 kesuksesan yang belum membuahkan hasil!".
          Dalam bab kedua, dijelaskan bahwa kesan yang biasa muncul dalam pikiran seorang pelajar saat mendengar kata "pendidikan" atau "belajar", jawabannya adalah "membosankan", "ujian", "pekerjaan rumah", "buang-buang waktu", "hukuman", tidak relevan", "tahanan", 'idih'....., "benci dan takut". Maka, dalam bab dua ini penulis ingin menanamkan pemikiran bahwa belajar tidak seberat yang dibayangkan, asalkan kita tahu seni dalam belajar seperti mengenali gaya belajar sehingga proses belajar tidak membuat stres dan tercipta suasana belajar yang menyenangkan.
            Untuk bab ketiga, penulis mencoba menginformasikan bahwa setiap manusia memiliki cara belajar yang berbeda-beda. Dan kombinasi dari gaya belajar serta pemakaian sisi otak kita ternyata mampu memproses dan menyimpan informasi secara cepat. Oleh karena itu dengan mengetahui cara belajar yang terbaik, maka kita akan tahu bagaimana cara belajar, membaca, dan mengkaji sesuatu dengan lebih cepat dan efektif. Selain itu banyak teknik belajar dengan cepat khususnya cara merekam memori dan melatih untuk menghafal dengan baik yang selama ini masih menjadi keluhan bagi beberapa pelajar.
              Bab keempat tidak kalah menarik pembahasannya. Di dalam bab ini, penulis mencoba meyakinkan pada setiap pelajar bahwa Allah sudah menakdirkan setiap orang itu cerdas, hanya saja berbeda kecerdasannya satu sama lain seperti menurut Dr. Howard Gardner dengan teori Multiple Intelligence ‘kecerdasan majemuk’ yang meliputi kecerdasan linguistic-verbal, kecerdasan logika-matematik, kecerdasan spasial-visual, kecerdasan ritmik-musik, kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Setiap jenis kecerdasan dapat dioptimalkan melalui proses pembelajaran kuantum yang melibatkan kedua belah bagian otak sehingga mengorkestrasikan berbagai interaksi menjadi cahaya yang melejitkan prestasi seorang pelajar.
            Muara dari seluruh bab dalam buku ini ada pada bab kelima. Isi dari bab lima ini mengajak para pelajar untuk berani bermimpi dan memulainya dengan berpikir besar dalam meraih prestasi dengan segala kelebihan yang dimiliki, serta menyingkirkan segala bentuk rintangan dalam meraih apa yang dicita-citakan. Semua itu tentu akan terwujud dengan bantuan motivasi baik dari dalam diri maupun dari luar (keluarga, lingkungan dsb). Sehingga perjuangan dalam meraih sebuah prestasi dilakukan secara totalitas, penuh percaya diri dan tidak mudah putus asa.
            Selain dari bab-bab di atas, terdapat bab penutup yakni bab keenam yang mencoba menguak sisi lain seorang pelajar yang mungkin sudah sering dicap ”ABG labil, “sukanya tawuran”, “cinta pergaulan bebas” yang itu semua menjadi label negatif dari seorang pelajar. Padahal tidak semua pelajar begitu adanya, masih banyak pelajar yang mampu memimpin dirinya sendiri sehingga bisa menghindar dari segala pergaulan yang tidak baik. Ya, menumbuhkan jiwa kepemimpinan, baik dalam lingkungan sekolah seperti aktif berorganisasi tentu akan menambah kesan tersendiri bagi mereka yang merupakan agen perubahan dalam menghadapi tantangan jaman.
             Seperti itulah sedikit ulasan dari setiap bab dalam buku istimewa ini. Sengaja dipersembahkan bagi para pelajar, yang harus lebih banyak ‘disentuh’ dunianya. Buku ini hadir sebagai panduan untuk menghasilkan para pelajar yang cerdas, enerjik, tangguh, aktif dan kreatif. Kolaborasi penulis yang juga merupakan pasangan suami istri ini berharap agar buku ini dapat dijadikan panduan bagi para praktisi pendidikan untuk dapat membantu menciptakan generasi muda (khususnya pelajar) agar tidak hanya cerdas akademik namun juga baik moral serta akhlaknya sehingga akan semakin mencerdaskan kehidupan berbangsa. Insya Allah.

Penulis: Deasy Lyna Tsuraya & Ayatullah ZN
vii + 100 hlm; 14 x 21 cm
Cetakan 1, Januari 2013
Harga: Rp 30.000,- (belum termasuk ongkir)

Info pemesanan hub: 021-93208484 atau 0812-83810066

Serpihan Hati Kesekian Kali

Mungkin ini untuk yang kesekian kali, bukan baru sekali. Lagi-lagi terulang semua yang tak diinginkan.. apa yang dicemaskan dan dikhawatirkan semuanya menjadi kenyataan.

Dulu.. aku sangat suka menghadiri sebuah pesta pernikahan, baik yang di gedung maupun di rumahan. Tapi rasanya untuk saat ini dan ke depannya nanti, rasa 'suka' itu akan sirna.

Bukan tanpa alasan... setiap kali aku pergi bersamanya menghadiri pesta pernikahan, selalu saja pulangnya membawa tetes air mata. Ketika pertama kalinya aku pergi ke pesta, ia tidak menggandengku seperti layaknya pasangan sah. Ia mencari-cari makanan kesukaannya seorang diri, tanpa perduli bahwa saat itu aku seorang diri. Padahal itu adalah pesta temannya, dan ia lupa bahwa aku ingin ditemani olehnya, ia malah asik ngobrol ngalur ngidul dengan teman-temannya yang lain, dan (lagi) terlupa aku yang seorang diri.

Ini tak hanya sekali, di pesta-pesta pernikahan lainnya juga begitu. Dengan mudah ia berjalan cepat menuju pelaminan untuk bersalaman, dan lupa mengajak aku. Sungguh konyol..... akhirnya aku lebih memilih menikmati kue-kue yang masih bersisa di pesta tersebut tanpa ikut dengannya ke pelaminan.

Yang tak kalah mengecewakannya.... saat aku bersamanya menghadiri sebuah pesta pernikahan di gedung. Ini adalah momen besar pernikahan anaknya bos pasanganku. Gegap gempita suasana gedung, meriah dan ramainya gak karuan. Semuanya masih berjalan baik sampai pada waktunya ketika MC menyebutkan untuk foto bareng instansi tempat pasanganku bekerja, ia mengajakku untuk ikut berfoto dengannya dan teman-temannya. Lalu berjalanlah kami menaiki tangga pelaminan. Seketika aku mengambil posisi keenam dari sisi sang pengantin pria, nah bukannya pasanganku berada di sampingku... tiba-tiba ia berjalan ke posisi ketiga dari sisi sang pengantin wanita. Pada saat itu mungkin aku tak masalah, karena tahu bahwa di deretan posisiku sudah terisi penuh, gak seimbang dong kalau di sebelah pengantin wanitanya tidak terisi? Namun, yang mengejutkan, ketika aku tahu siapa yang berada di sebelah pasanganku... ternyata ia adalah teman pasanganku yang masih single, dan kalau aku nilai tentu ia cantik. Maka, pertanyaanku saat itu adalah, apakah niatan pasanganku berada di sisi pengantin wanita karena di sebelahku sudah tak cukup? (ahh tapi, tidak.. wong ternyata setelah pasanganku berjalan ke sisi pengantin wanita, masih ada 2 orang yang bisa berada di sebelahku) ataukah ia cukup senang berfoto dengan disamping wanita lain yang bukan pasangannya? Sementara aku??? Lantas mengapa juga aku ikut berfoto jika tak didampingi oleh pasanganku, padahal itu adalah momen berfoto bersama teman-teman kerja pasanganku... dan aku saat itu hanya dilihat dan dilirik oleh wanita lain yang mungkin bertanya-tanya "siapa ya wanita ini, kok ikut berfoto dengan kami?". Masya Allah, lagi-lagi meleleh air mataku... meski hanya durasi 5 menit, berfoto saat itu memberi bekas sakit yang terdalam... meski mungkin pasanganku tak bermaksud apa-apa, tapi ini cukup membuat luka yang terdalam akibat sikap cueknya dan tidak pedulinya ia terhadap perasaan pasangan. Mungkin ini sepele, tapi foto itu sudah tentu akan menjadi album pernikahan bagi kedua pengantin tersebut, lalu ketika dilihat oleh teman-teman pasanganku nanti, apa pantas sang suami foto disamping wanita lain, sementara istrinya tak disebelahnya... Sungguh, aku malu dan kecewa tentu.

Hingga usai kejadian itu, aku lebih memilih diam... Mungkin kekecewaan ini sudah tak terhingga, dan mungkin baginya ini adalah sangat sepele, tapi wanita dengan perasaannya yang ingin dimengerti, wanita yang dengan perasaannya ingin dipahami.. tak ingin ia disakiti, meski bukan dengan luka fisik, tapi sejatinya aku sudah mengalami luka batin yang tak terperi. Hingga habis sudah kata-kata ini... kusimpan lukaku hanya dalam hati, dan membiarkan ia kini menyadari, akan sikapnya yang sering mengecewakan nurani..

Pengalaman ini... membuat hatiku yang utuh, menjadi serpihan kembali. seperbagian kian terkikis, dan entah sampai kapan ini kan habis..... semoga ada perubahan dalam sikap pasanganku.

*****************
curahan hati seorang istri

Segera Terbit! Insya Allah


Buku terbaruku insya Allah akan segera terbit bulan Januari 2013 ini... hasil duet bersama sang suami tercinta. Semoga karya di dunia pendidikan ini dapat memberi pencerahan bagi semua pembacanya khususnya para pelajar yang ingin menjadi Cerdas, Enerjik, Tangguh, Aktif, dan Kreatif.

Hm, sedikit berbagi sinopsis bukunya nih..... semoga tambah bikin penasaran ya ^^

SINOPSIS
Buku Panduan Hebat menCETAK Pelajar
(Cerdas, Enerjik, Tangguh, Aktif, dan Kreatif)

            Buku ini merupakan sebuah buku istimewa yang dihadirkan bagi para pelajar agar mampu menjadikan dirinya cerdas, enerjik, tangguh, aktif, dan kreatif.
            Buku ini dibagi menjadi enam bab seperti daftar isi yang tertera di bawah ini:
BAB I Self Development
  • Kenali potensi dirimu! 
  • Kembangkan bakatmu! 
  • 10 Kualitas pribadi agar disukai orang banyak 
  • Menumbuhkan pribadi berkarakter
      BAB II Art Of Learning
  • Belajar tidak seberat yang dibayangkan 
  • Ciptakan suasana belajar tanpa stres (rileks) 
  • Seluruh dunia adalah ruang kelas kita 
  • Cara-cara belajar yang baik 
  • Kenali tingkah laku belajar
      BAB III Fast Learning
  • Superlink yang hebat 
  • Belajar cepat ala SMART 
  • Melatih otak dengan baik 
  • Cara menghafal yang baik
      BAB IV Quantum Learning
  • Setiap orang cerdas! 
  • Model pembelajaran kuantum 
  • Belajar ala otak kanan 
  • Keajaiban dibalik sebuah hitung-hitungan
      BAB V Achievement
  • Setiap kita punya potensi berprestasi 
  • Mulailah dengan berpikir besar 
  • Buktikan kreativitasmu! 
  • Berprestasi bersama alfabet
      BAB VI Leadership
  • Setiap kita adalah pemimpin 
  • 5 sikap agen perubahan 
  • Prinsip dasar seorang pemimpin 
  • Tumbuhkan jiwa kepemimpinan

            Dalam bab pertama, penulis mengulas tentang bagaimana cara menemukan potensi lalu berusaha mengembangkan bakat yang ada dalam diri. Layaknya berkaca pada Thomas A. Edison yang mampu mengenali potensi dalam dirinya dan tak pantang menyerah dalam mengembangkan bakat yang dimilikinya sehingga kini ia dikenal sebagai penemu bohlam lampu. Sekalipun ia telah 10.000 kali gagal dalam setiap eksperimennya, Edison tidak menganggapnya sebagai sebuah kegagalan. Kata Edison "Saya telah berhasil menciptakan 10.000 kesuksesan yang belum membuahkan hasil!".
            Dalam bab kedua, dijelaskan bahwa kesan yang biasa muncul dalam pikiran seorang pelajar saat mendengar kata "pendidikan" atau "belajar", jawabannya adalah "membosankan", "ujian", "pekerjaan rumah", "buang-buang waktu", "hukuman", tidak relevan", "tahanan", 'idih'....., "benci dan takut". Maka, dalam bab dua ini penulis ingin menanamkan pemikiran bahwa belajar tidak seberat yang dibayangkan, asalkan kita tahu seni dalam belajar seperti mengenali gaya belajar sehingga proses belajar tidak membuat stres dan tercipta suasana belajar yang menyenangkan.
            Untuk bab ketiga, penulis mencoba menginformasikan bahwa setiap manusia memiliki cara belajar yang berbeda-beda. Dan kombinasi dari gaya belajar serta pemakaian sisi otak kita ternyata mampu memproses dan menyimpan informasi secara cepat. Oleh karena itu dengan mengetahui cara belajar yang terbaik, maka kita akan tahu bagaimana cara belajar, membaca, dan mengkaji sesuatu dengan lebih cepat dan efektif. Selain itu banyak teknik belajar dengan cepat khususnya cara merekam memori dan melatih untuk menghafal dengan baik yang selama ini masih menjadi keluhan bagi beberapa pelajar.
            Bab keempat tidak kalah menarik pembahasannya. Di dalam bab ini, penulis mencoba meyakinkan pada setiap pelajar bahwa Allah sudah menakdirkan setiap orang itu cerdas, hanya saja berbeda kecerdasannya satu sama lain seperti menurut Dr. Howard Gardner dengan teori Multiple Intelligence ‘kecerdasan majemuk’ yang meliputi kecerdasan linguistic-verbal, kecerdasan logika-matematik, kecerdasan spasial-visual, kecerdasan ritmik-musik, kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Setiap jenis kecerdasan dapat dioptimalkan melalui proses pembelajaran kuantum yang melibatkan kedua belah bagian otak sehingga mengorkestrasikan berbagai interaksi menjadi cahaya yang melejitkan prestasi seorang pelajar.
            Muara dari seluruh bab dalam buku ini ada pada bab kelima. Isi dari bab lima ini mengajak para pelajar untuk berani bermimpi dan memulainya dengan berpikir besar dalam meraih prestasi dengan segala kelebihan yang dimiliki, serta menyingkirkan segala bentuk rintangan dalam meraih apa yang dicita-citakan. Semua itu tentu akan terwujud dengan bantuan motivasi baik dari dalam diri maupun dari luar (keluarga, lingkungan dsb). Sehingga perjuangan dalam meraih sebuah prestasi dilakukan secara totalitas, penuh percaya diri dan tidak mudah putus asa.
            Selain dari bab-bab di atas, terdapat bab penutup yakni bab keenam yang mencoba menguak sisi lain seorang pelajar yang mungkin sudah sering dicap ”ABG labil, “sukanya tawuran”, “cinta pergaulan bebas” yang itu semua menjadi label negatif dari seorang pelajar. Padahal tidak semua pelajar begitu adanya, masih banyak pelajar yang mampu memimpin dirinya sendiri sehingga bisa menghindar dari segala pergaulan yang tidak baik. Ya, menumbuhkan jiwa kepemimpinan, baik dalam lingkungan sekolah seperti aktif berorganisasi tentu akan menambah kesan tersendiri bagi mereka yang merupakan agen perubahan dalam menghadapi tantangan jaman.
            Seperti itulah sedikit ulasan dari setiap bab dalam buku istimewa ini. Sengaja dipersembahkan bagi para pelajar, yang harus lebih banyak ‘disentuh’ dunianya. Buku ini hadir sebagai panduan untuk menghasilkan para pelajar yang cerdas, enerjik, tangguh, aktif dan kreatif. Kolaborasi penulis yang juga merupakan pasangan suami istri ini berharap agar buku ini dapat dijadikan panduan bagi para praktisi pendidikan untuk dapat membantu menciptakan generasi muda (khususnya pelajar) agar tidak hanya cerdas akademik namun juga baik moral serta akhlaknya sehingga akan semakin mencerdaskan kehidupan berbangsa. Insya Allah


Mereka berbicara...

"Hasil karya energik dari pasangan tangguh, dengan rujukan teori dan pengalaman langsung mereka di bidang pendidikan, menjadikan buku ini begitu berharga bagi mereka yang ingin mengembangkan diri dan meraih prestasi. Congratulation!"
(Lara Fridani M.Psych, Dosen PAUD UNJ, Kandidat PhD, Monash University Australia)

"Sebuah karya menarik dari pasangan hebat yang sama-sama berkecimpung di dunia pendidikan. Buku ini merupakan formulasi tepat bagi para pelajar yang ingin menjadikan dirinya sukses dan berprestasi dalam berbagai hal."
(Kang Arul, Lecture, Writer, Media Consultant & CEO www.menulisyuk.com)

 
Profil Singkat Penulis

Deasy Lyna Tsuraya atau yang akrab disapa DLT. Tercatat sebagai mahasiswa tingkat akhir yang sedang merampungkan skripsinya juga sebagai ibu rumah tangga dengan seorang putra. Masih aktif dalam kegiatan keislaman, dan beberapa kali menjadi pembicara maupun moderator dalam forum kemuslimahan. Kini, ia sedang menikmati perannya menjadi seorang Womenpreneur bersama suami, Ayatullah ZN dengan mendirikan Smart One Corp, sebuah lembaga yang bergerak dalam penyelenggaraan jasa pendidikan dan event organizer. DLT Memiliki prinsip bahwa hidup harus bermanfaat bagi orang lain. Hobinya yang doyan menulis, menghasilkan karya yang bisa dinikmati gratis oleh para pembaca di jejaring sosial maupun di blognya. Baginya, menulis sebuah tulisan adalah metode dakwah tersendiri yang jauh lebih efisien dibandingkan bila dakwah disampaikan lewat lisan. Karya-karyanya antara lain berupa cerpen yang dimuat di Antologi Lovely Ramadhan (Indie Publishing, 2010), Antologi Lovely Lebaran  (Indie Publishing, 2010), Antologi Puisi Dalam Estuari Satra (Inzpirazone Publishing House, 2011), Buku keroyokan OMG, Ternyata Aku Terlahir Sukses (Citra Risalah, 2011) dan Buku ‘single’ perdananya Sederhananya Cinta (Indie Publishing, 2011).

Ayatullah ZN atau yang biasa disapa Ayat. Suami dari DLT ini merupakan seorang pekerja keras demi keluarganya. Tercatat sebagai mahasiswa Pascasarjana yang sedang menuntaskan tesisnya di Universitas Negeri Jakarta. Pekerjaan sehari-harinya selain sebagai seorang guru di Sekolah Islam Terpadu daerah Bekasi, Sekolah Farmasi di Jakarta, ia juga seorang dosen MKU Bahasa Inggris di UNJ dan STIDA Al-Manar Utan Kayu. Bergelut di dunia pendidikan membuat ia bersama sang istri tercinta, terus berusaha mengembangkan lembaga Smart One Corp yang didirikannya sejak tahun 2008. Kini, ia dengan karyanya berupa Modul Bahan Ajar Bahasa Inggris dan Jurnalistik serta Antologi Hasil Studi dan Penelitian Para Tokoh Al-Ittihadiyah (UNIDA Press, 2011), terus aktif dalam mengembangkan kemampuan menulisnya dan mengisi training-training kependidikan maupun motivasi untuk tingkat pelajar maupun mahasiswa. Motto hidupnya adalah “Let My Dream Comes True”.