Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Menghabiskan Waktu dengan Anak
Duhai para orangtua.. memberi fasilitas terlalu banyak akan melemahkan daya juang anak-anak kita. Membuat mereka tidak bertanggung jawab, dan berperilaku buruk karena merasa berhak mendapatkan perlakuan bintang lima karena kekayaan orang tua mereka.
Tetapi orangtua seringkali melakukannya dengan alasan bahwa mereka bekerja keras untuk anak-anaknya. MEREKA DAHULU SUSAH, DAN TAK MAU ANAKNYA JUGA MENGALAMI KESUSAHAN.
Alasan lain karena mereka malas mendidik dan menyerah saja ketika anaknya merengek, “Semua temanku yang lain punya itu...”. Sehingga anak menjadi anak gampang, tidak punya daya juang, tidak punya skill memperjuangkan sesuatu.
Anak anak tidak cukup dibekali dengan knowledge akademik saja. Justru yang mahal adalah jam terbang bertahan dalam kesulitan, tahan stress dan kaki yang kuat untuk pantang menyerah!
Orangtua ingin anaknya “bahagia” . Namun sebenarnya yang anak-anak butuhkan, orangtua yang mendorong mereka untuk mampu MANDIRI.
MENGHABISKAN WAKTU DENGAN ANAK-ANAK LEBIH PENTING
.......DARIPADA...... MENGHABISKAN UANG UNTUK MEREKA.
ORANG HEBAT tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan
dan Kenyamanan TAPI ..... Mereka dibentuk melalui KESUKARAN... TANTANGAN...&... AIR MATA.
Gairah Menjalani Kehidupan
Hidup sejatinya berisi persaingan. Lihatlah para pedagang kaki lima yang bersaing satu sama lain untuk menjajakan dagangannya yang notabene jenisnya sama dengan pedagang lain. Atau lihatlah para pekerja yang bersaing mendapat tempat duduk dicommuter line demi berangkat kerja.
Jika kita bertanya, apa yang membuat mereka begitu rela melakukan itu semua? Jawabannya satu, karena mereka memiliki gairah. Mengapa penting memiliki sebuah gairah? Karena dengan adanya gairah, kita mampu untuk menjalani hidup yang isinya penuh dengan persaingan. Jika saja gairah itu tidak ada, mungkin kita memilih tidak berangkat kerja, atau memilih untuk lebih santai di rumah menikmati hidup yang ala kadarnya.
Padahal kita sudah paham bahwa “waktu adalah pedang“. Kita tahu pedang kan? Kalau kita tidak tahu bagaimana cara memakainya maka kita akan terbunuh oleh pedang itu sendiri, kalau kita tidak dapat mematahkannya maka ia yang justru akan memenggal kita. Oleh sebab itu, waktu 24 jam yang ada harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan tentu harus diimbangi dengan sebuah kegairahan dalam menjalaninya.Semangattt ya😉
Kisah di Balik Sendal Sepatu
Ada cerita di balik sendal sepatu ini.. anak sulung yang udah bisa milih apa2 sendiri, gak mau dipilihin uminya lagi😣
Jadi saat kemarin jajan sepatu bayi buat adeknya.. saya bilang ke dia "kak bentar mampir dulu nih umi mau beliin sepatu buat dede raffan" lalu dia pun menuruti. sampai di dalam toko dan sudah memilih sepatu bayi buat adiknya.. rayyan mengambil sendal sepatu ini kemudian ditunjukkan ke uminya "rayyan mau ini ya umi". saya yang saat itu niatnya cuma beliin buat adiknya berkata "kak.. umi kesini mau beliin sepatu dede. kalau kakak kan sendalnya udah banyak" lalu dia melipat tangan di dada sambil berujar "umiiii, rayyan kan juga anak umi. kenapa tak dibelikan sepatu juga".
Oalahhhh.. anak 4.5 tahun udah bisa jealous sama adiknya ternyata. Alamat beli apa2 kudu buat dua orang nih.
Maka dengan penuh ketundukan dan kepasrahan kuambil sendal sepatu ini untuk dibayar di kasir. dengan sebelumnya menawarkan pilihan lain sebab ini rada mihil. tapi si kakak nggak mau tetep keukeuh dengan pilihannya ini. hufh... balada emak beranak 2. gimana anak 3,4,5,6 dst yaaa😀
😁
😂
Sang Penyejuk Jiwa
Tak terasa.. hidup bersama 1x24 jam. Saling mengasihi dan mencintai. kadang kesel, jengkel, marah menghadapi mereka. tapi satu afirmasi saya "yaaa namanya juga anak2" jadi tetiba jengkel dan marahnya hilang seketika..Ahh.. hidup ini sepi kalau tanpa mereka, kakak adik dengan 2 karakter beda. si sulung yang aktif bangettt sedang si bungsu yang kalem sampe bisa ditinggal kemana2 ga rewel asal ada mimik Asi ajah. terus beda kulitnya juga.. haha. orang bilang ini kok kakak adik kayak kopi susu. ahh biarin aja deh. mau kopi susu, kopi tubruk.. kalian tetep permata jiwa umi. bersama kalian umi merasa menjadi seorang ibu seutuhnya..Terima kasih nak.. telah membersamai dan membuat hari2 umi lebih bermakna ya. semoga kalian jadi anak sholih, cerdas dan bermanfaat. aamiin.. luv u all😉
😘
💖
[Bincang Kk Rayyan 2] Seronokkk Sekali
Cerita siang.. di tengah bolong yang terik ini *apa coba yang bolong
Kk rayyan pulang sekolah.. gedor2 pintu pagar, terlihat wajah sumringah, dibukakan baju dan salin baju ganti.. saya tanya "kakak kok senyum2 gitu.. di sekolah ngapain aja?" dijawabnya pulak "iya umi.. hari ini di sekolah seronokkkk sekali" waduhhh... Macem Upin Ipin je![]()
😅
[Bincang Kk Rayyan 1] Warna Kuning
Bincang Malam dengan kakak Rayyan:
K= Kk Rayyan
U= Umi
***
K= iya umi.. emas itu kan kuning ya. Seperti baju dede (nunjuk baju adiknya yang warna kuning)
U= iya kk pinter.. baju dede warna kuning ya. Terus apalagi coba yang warnanya kuning?
K= (sejenak mikir) hmm.. seperti "eek" (maaf
U= #$%#+!";#-#
Doa Seorang Ibu, Semua Baik-baik Saja
"Mbak, kok ga ada kabar? Dihubungi WA nya ga bisa juga. Semoga baik-baik aja semuanya ya"Membaca sms dari seorang ibu yang melahirkan menyiratkan sebuah kekhawatiran mendalam pada anaknya yang sudah bukan lagi menjadi anak kecilnya, tapi tetap saja namanya anak mau belum nikah atau sudah nikah tetep dianggap anak kecil oleh orangtuanya, ya khan?"Hapeku rusak, bbm dan WA ga aktif, ibukuu.. Alhamdulillah kami semua sehat di sini. Semoga semua yg disana juga ya"
"Innalillahi, kemarin baru diservis, sekarang rusak apanya lagi?"
"Sistemnya berontak, mungkin ia lelah jadi setiap udah dinyalain ehh mati sendiri"
"Ya Allah, sabar mbak.. Ini ujian buat kamu, bertubi-tubi dikasih ujian pembersihan harta. Semoga ke depannya menjadi lebih baik semua. Aamiin"
Memang.. selalu ada doa yang terucap dari lisan seorang ibu sekalipun tertuang via tulisan. Itulah yang membuat semakin yakin dalam menjalani kehidupan ini, dari suka dukanya, tangis tawanya, sehat sakitnya.. semuanya coba dinikmati karena yakin bahwa semua akan baik-baik saja seperti doa yang selalu dipanjatkan ibuku.
Ya.. semua akan baik-baik aja. Jaga dirimu ibuku sayang...
Menjadi Wirausahawan Muslim
Hari kamis (26/02) yang lalu, saya menemani suami (Ayatullah ZN,
M.Pd) mengisi Kajian Rutin Kamis Sore yang diadakan oleh Forum Mahasiswa
Muslim Pascasarjana UNJ bertempat di Masjid Nurul Irfan UNJ untuk
berbagi ilmu mengenai tema kewirausahaan.
Saya menyimak materi yang disampaikan suami. Maka, saya coba paparkan melalui tulisan ini untuk berbagi dengan para pembaca yang budiman. Sebelum memulai materi, suami memberitahukan sasaran pencapaian dalam kajian tersebut. Ada 3 goal yang diharapkan: Pertama, menumbuhkan jiwa wirausaha. Kedua, wirausaha dalam Islam dan ketiga, saatnya memulai usaha.
Pertama, aspek dalam menumbuhkan jiwa wirausaha adalah pemikiran (fikriyah), keyakinan (qalbiyah) dan latihan (tadribah). Yang kesemuanya itu harus dipraktekkan dengan keberanian untuk memulainya. Berkaca pada Robert T. Kiyosaki, yang memiliki dua orang ayah yaitu ayah kaya dan ayah miskin. Dari situlah ia menjelaskan teori mengenai perbedaan prinsip bekerja ayah kaya dan ayah miskin. Salah satunya adalah ayah miskin bekerja untuk orang lain dan melek pendidikan formal sedangkan ayah kaya bekerja untuk diri sendiri dan melek secara finansial.
Hidup tidak jauh dari aset dan liabilitas (utang). Apa itu ASET? Ialah sesuatu yang bisa menambah uang ke dalam ‘kantong’ kita. Sedangkan LIABILITAS ialah sesuatu yang membuat kita mengeluarkan uang dari ‘kantong’.
Suami saya mengambil contoh Handphone. Barang ini akan menjadi sebuah liabilitas kalau tidak digunakan untuk mendapatkan penghasilan. Karena setiap bulan tentu harus mengeluarkan uang untuk membeli pulsa. Lain halnya bila menggunakan HP untuk berbisnis pulsa. Dengan mengeluarkan uang untuk beli pulsa, malah bisa mendapat pulsa gratis + untung yang lebih.
Jadi, orang-orang yang sukses dan menjadi kaya (karena sukses pasti kaya, sedangkan kaya belum tentu sukses) cenderung memiliki kesamaan untuk berinvestasi di aset. Tahanlah diri lebih dulu untuk keinginan konsumtif berbelanja ini itu kalau semuanya adalah liabilitas. Karena nantinya pun hanya akan menguras uang kita lebih banyak lagi.
Maka, sukses adalah memperbesar kolom aset dan memperkecil kolom liabilitas. Kembangkan aset kita hingga akhirnya bisa membayar semua kebutuhan liabilitas. Karena di titik tersebut, tentulah kita sudah passive income.
Kedua, wirausaha dalam Islam. Dalam kitab Fathul Baari Nabi SAW bersabda: “Allah SWT memiliki 20 pintu rezeki untuk hamba-Nya, 1 pintu rezeki untuk mereka yang bekerja untuk orang lain (employee) dan 19 pintu rezeki untuk mereka yang bekerja dengan tangan mereka sendiri (entrepreneur).”(Al Hadits)
Rasulullah SAW sebagai teladan umat adalah seorang Pedagang/Pengusaha yang handal (skillfull) dan terpercaya (kredibel). Dari 10 Sahabat Rasul yang dijamin oleh Allah SWT masuk ke dalam surga, 9 di antaranya adalah para Entrepreneur sejati.
Jika berkaca pada entrepreneurship ala Rasulullah, kita bisa menemukan Jiwa entrepreneurship sejak usia 12 tahun tatkala pamannya Abu Thalib mengajak melakukan perjalanan bisnis ke Syam. Lalu pada usia 17 tahun telah diserahi wewenang penuh untuk mengurusi seluruh bisnis pamannya. Pada usia 20 hingga 25 tahun merupakan titik keemasan, terbukti dengan tertariknya seorang Investor/Konglomerat Makkah Khadijah Binti Khuwalaid yang kemudian meminangnya untuk menjadi suami. Dan beliau mulai mengurangi kegiatan bisnisnya ketika mencapai usia 37 tahun.
Lalu, apa yang menjadi kunci kesuksesan berbisnis ala Rasulullah? Yaitu dedikasi, keuletan yang tinggi dan kecerdasan beliau dalam mengelola bisnis. Kemudian Rasul membawa nilai-nilai yang utama yaitu kejujuran (shiddiq) dan kesetiaan memenuhi term dan condition (amanah).
Ketiga, saatnya memulai usaha (start to be YOU not YOURS). Milikilah langkah menuju sukses yakni ide yang terus dikembangkan, kemauan dan kemampuan yang mengiringi, semangat dan kerja keras dalam berusaha serta loyalitas dan bertanggung jawab terhadap usaha yang digeluti. Dengan begitu kita akan mampu menjadi wirausaha muslim sejati.
Ikutilah langkah-langkah menjadi entrepreneur seperti Roger Cartwright yang mampu mencari produk, layanan, gagasan yang BERBEDA. Kemudian tentukan langkah-langkah mendapatkan SUMBER DAYA yang diperlukan. Jangan lupa untuk mengenali lingkungan eksternalnya dan mengenali diri serta tujuan. Kuasailah kecakapan-kecakapan yang menunjang usaha dan pertimbangkan setiap resiko, namun jangan sampai takut gagal. Tentukan sasaran yang ingin dicapai dan komunikasikan visi terhadap orang-orang di sekitar. Kemudian cari dukungan dan bangun jaringan kerja dengan orang banyak.
Poin penting yang harus diingat adalah luruskan niat bertaqarrub pada Allah SWT, ikuti sunnah Nabi dan Rasul dalam berwirausaha, belajar dari entrepreneur muslim yang sudah sukses dan tentu lakukan praktek di lapangan. Karena teori tanpa praktek adalah NOL besar.
Let’s start to be you. Mengawali usaha harus dilakukan dari “Nol” atau dari bawah. Jangan abaikan “Reputasi” dan kredibilitas pribadi seorang Entrepreneur Karen itu merupakan “modal” utama meraih sukses. Sedangkan modal uang hanyalah “pelengkap” bukan yang utama dalam memulai usaha/bisnis. Kita bisa memulai dari dari apa yang dimiliki dan mulailah dari sekarang. Pilihannya, tetap bekerja atau tetap berpenghasilan? Tentu kita harus berpenghasilan tetap dan tetap berpenghasilan. Itulah entrepreneur sejati.
Saya menyimak materi yang disampaikan suami. Maka, saya coba paparkan melalui tulisan ini untuk berbagi dengan para pembaca yang budiman. Sebelum memulai materi, suami memberitahukan sasaran pencapaian dalam kajian tersebut. Ada 3 goal yang diharapkan: Pertama, menumbuhkan jiwa wirausaha. Kedua, wirausaha dalam Islam dan ketiga, saatnya memulai usaha.
Pertama, aspek dalam menumbuhkan jiwa wirausaha adalah pemikiran (fikriyah), keyakinan (qalbiyah) dan latihan (tadribah). Yang kesemuanya itu harus dipraktekkan dengan keberanian untuk memulainya. Berkaca pada Robert T. Kiyosaki, yang memiliki dua orang ayah yaitu ayah kaya dan ayah miskin. Dari situlah ia menjelaskan teori mengenai perbedaan prinsip bekerja ayah kaya dan ayah miskin. Salah satunya adalah ayah miskin bekerja untuk orang lain dan melek pendidikan formal sedangkan ayah kaya bekerja untuk diri sendiri dan melek secara finansial.
Hidup tidak jauh dari aset dan liabilitas (utang). Apa itu ASET? Ialah sesuatu yang bisa menambah uang ke dalam ‘kantong’ kita. Sedangkan LIABILITAS ialah sesuatu yang membuat kita mengeluarkan uang dari ‘kantong’.
Suami saya mengambil contoh Handphone. Barang ini akan menjadi sebuah liabilitas kalau tidak digunakan untuk mendapatkan penghasilan. Karena setiap bulan tentu harus mengeluarkan uang untuk membeli pulsa. Lain halnya bila menggunakan HP untuk berbisnis pulsa. Dengan mengeluarkan uang untuk beli pulsa, malah bisa mendapat pulsa gratis + untung yang lebih.
Jadi, orang-orang yang sukses dan menjadi kaya (karena sukses pasti kaya, sedangkan kaya belum tentu sukses) cenderung memiliki kesamaan untuk berinvestasi di aset. Tahanlah diri lebih dulu untuk keinginan konsumtif berbelanja ini itu kalau semuanya adalah liabilitas. Karena nantinya pun hanya akan menguras uang kita lebih banyak lagi.
Maka, sukses adalah memperbesar kolom aset dan memperkecil kolom liabilitas. Kembangkan aset kita hingga akhirnya bisa membayar semua kebutuhan liabilitas. Karena di titik tersebut, tentulah kita sudah passive income.
Kedua, wirausaha dalam Islam. Dalam kitab Fathul Baari Nabi SAW bersabda: “Allah SWT memiliki 20 pintu rezeki untuk hamba-Nya, 1 pintu rezeki untuk mereka yang bekerja untuk orang lain (employee) dan 19 pintu rezeki untuk mereka yang bekerja dengan tangan mereka sendiri (entrepreneur).”(Al Hadits)
Rasulullah SAW sebagai teladan umat adalah seorang Pedagang/Pengusaha yang handal (skillfull) dan terpercaya (kredibel). Dari 10 Sahabat Rasul yang dijamin oleh Allah SWT masuk ke dalam surga, 9 di antaranya adalah para Entrepreneur sejati.
Jika berkaca pada entrepreneurship ala Rasulullah, kita bisa menemukan Jiwa entrepreneurship sejak usia 12 tahun tatkala pamannya Abu Thalib mengajak melakukan perjalanan bisnis ke Syam. Lalu pada usia 17 tahun telah diserahi wewenang penuh untuk mengurusi seluruh bisnis pamannya. Pada usia 20 hingga 25 tahun merupakan titik keemasan, terbukti dengan tertariknya seorang Investor/Konglomerat Makkah Khadijah Binti Khuwalaid yang kemudian meminangnya untuk menjadi suami. Dan beliau mulai mengurangi kegiatan bisnisnya ketika mencapai usia 37 tahun.
Lalu, apa yang menjadi kunci kesuksesan berbisnis ala Rasulullah? Yaitu dedikasi, keuletan yang tinggi dan kecerdasan beliau dalam mengelola bisnis. Kemudian Rasul membawa nilai-nilai yang utama yaitu kejujuran (shiddiq) dan kesetiaan memenuhi term dan condition (amanah).
Ketiga, saatnya memulai usaha (start to be YOU not YOURS). Milikilah langkah menuju sukses yakni ide yang terus dikembangkan, kemauan dan kemampuan yang mengiringi, semangat dan kerja keras dalam berusaha serta loyalitas dan bertanggung jawab terhadap usaha yang digeluti. Dengan begitu kita akan mampu menjadi wirausaha muslim sejati.
Ikutilah langkah-langkah menjadi entrepreneur seperti Roger Cartwright yang mampu mencari produk, layanan, gagasan yang BERBEDA. Kemudian tentukan langkah-langkah mendapatkan SUMBER DAYA yang diperlukan. Jangan lupa untuk mengenali lingkungan eksternalnya dan mengenali diri serta tujuan. Kuasailah kecakapan-kecakapan yang menunjang usaha dan pertimbangkan setiap resiko, namun jangan sampai takut gagal. Tentukan sasaran yang ingin dicapai dan komunikasikan visi terhadap orang-orang di sekitar. Kemudian cari dukungan dan bangun jaringan kerja dengan orang banyak.
Poin penting yang harus diingat adalah luruskan niat bertaqarrub pada Allah SWT, ikuti sunnah Nabi dan Rasul dalam berwirausaha, belajar dari entrepreneur muslim yang sudah sukses dan tentu lakukan praktek di lapangan. Karena teori tanpa praktek adalah NOL besar.
Let’s start to be you. Mengawali usaha harus dilakukan dari “Nol” atau dari bawah. Jangan abaikan “Reputasi” dan kredibilitas pribadi seorang Entrepreneur Karen itu merupakan “modal” utama meraih sukses. Sedangkan modal uang hanyalah “pelengkap” bukan yang utama dalam memulai usaha/bisnis. Kita bisa memulai dari dari apa yang dimiliki dan mulailah dari sekarang. Pilihannya, tetap bekerja atau tetap berpenghasilan? Tentu kita harus berpenghasilan tetap dan tetap berpenghasilan. Itulah entrepreneur sejati.
Cinta Tidak Pada Tempatnya
Asisten Rumah Tangga (ART) saya yang biasa bantu menyetrika baju, adalah seorang remaja usia 17 tahunan. Di usia tersebut, dia sudah dimanahi melahirkan serta harus merawat dan membesarkan balita kembar usia 1 tahun. Ternyata usut punya usut, ia mengalami MBA (Married by Accident).Semestinya di usia dia yang harusnya menempuh bangku SMA kelas XI, lagi senang-senangnya bergaul, dan menuntut ilmu demi masa depannya. Namun tidak bagi ART saya ini, ia harus di DO dari sekolahnya lantaran hamil dengan pacarnya yang berjarak usia 5 tahun. Dan ketika saya berdialog dengannya sembari menyetrika, saya tanyakan "kamu kenapa sih kok bisa dihamilin gitu, emang gak nyesel sekarang jadi putus sekolah dan kerjaanmu jadi tukang nyetrika?" jawabnya dia "hm, ya mau gimana lagi teh, habis namanya juga CINTA".
Nah, inilah cinta yang tidak pada tempatnya.. Atas nama cinta mengorbakan mahkota keperawanan dan sekolah yang sudah ditempuh bertahun-tahun harus pupus begitu saja. Sementara ia harus banting tulang jadi tukang nyetrika di berbagai rumah demi menyambung hidup dengan suami dan putri kembarnya.
Semoga.. para remaja di luar sana mendapat bimbingan dari orangtua dan basic agama (imannya) harus diperkuat kembali agar tidak mudah menjual keperawanan atas dasar suka sama suka.
Rintihan Hati Seorang Ibu
Tetiba saya menerima sms, yang berasal dari ibunya adik kelas saya. Dalam isi sms tersebut, ia bercerita bahwa ia sudah tidak habis pikir dengan ulah anak sulungnya. Ia kecewa karena sudah disekolahkan tinggi-tinggi hingga bangku kuliah namun ternyata saat perkuliahan tingkat akhir, ia memutuskan enggan menuntaskan perkuliahannya. Menurut ibunya, si anak mengalami suatu masalah yang akhirnya menjadi dampak enggan menuntaskan bangku perkuliahannya. Ia meminta tolong pada saya untuk menasihati anak sulungnya tersebut. Saya pun sudah menasihatinya baik-baik namun apa daya.. Jika memang bukan karena kemauan si anak tersebut, bagaimana mau ada perubahan?***Orangtua bahkan rela merendahkan dirinya demi memelas pada anaknya agar mau lanjut kuliah kembali pasca sang anak vakum dari jadwal kuliahnya. Ia rela menangis dan mengemis harap agar sang anak menyelesaikan studinya yang hanya tinggal setahun lagi. Namun.. Namanya seorang anak belum tentu tersentuh melihat harap dari ortunya.. Jangankan melihat tangis dan pinta ortunya.. Ia bahkan terlupa, 3 tahun masa kuliah yang telah ditempuhnya adalah berkat perjuangan kedua ortunya. "Nak.. Kembalilah kuliah.. Tuntaskan akhir studimu, jangan kau jadikan semua hanya kesia-siaan dan menjadikan penyesalan di masa depanmu nantinya." Isak orangtua tersebut.. Yang tak jua mengubah keputusan mutlak dari sang anak..
Menjadi yang Terbaik Bagi Orang-orang Terdekat
Pada pertengahan bulan Januari lalu, saya benar-benar diuji oleh Allah SWT. Bagaimana tidak, saya harus mengurus suami saya yang hanya bisa berbaring lemas di tempat tidurnya. Ia harus bedrest kurleb 3 hari. Selama 3 hari itulah, saya yang membelikannya makanan, obat, menyuapinya, memandikannya dan bantu memijit tubuhnya. Saat itu yang ada di pikiran saya adalah "bagaimana jika suami saya akan meninggal saat itu?" dan seketika kengerian itu pun hinggap dalam benak saya. Maka sebisa mungkin saya memberika pelayanan sebaik-baiknya pada suami saya tersebut. Beruntungnya saat itu, rayyan sedang dihandle oleh neneknya dan kami ada di Bekasi sehingga beban saya pun terbagi dengan anggota keluarga lainnya.Beberapa kali saya menatap wajah suami saya yang pucat pasi. Ada rasa kesedihan yang menyeruak bahwa darinya lah, saya dan anak bisa tercukupi segala kebutuhan. Pun ada rasa ikut serta merasakan sakit yang ada ketika setiap suami makan dan meminum obat langsung dimuntahkannya begitu saja. Saya ikut sedih dan merasa khawatir apakah suami saya bisa pulih atau tidak. Bahkan rasa takut semakin membayangi ketika menngingat riwayat penyakit suami saya yang memiliki hepatitis B. Ya Allah rasanya saat itu bercampur aduk, ada sedih, lelah dan takut kalau kalau akan ditinggal pergi sang suami.
Hal itu pula yang memicu saya berpikir tidak-tidak pada hal lainnya. Bisa dikatakan merembet ke hal lain. Setiap malam saya merenung dan memikirkan bagaimana jika kedua orangtua saya juga mengalami hal serupa dengan suami? Apakah masih bisa saya mengurusnya, menyuapinya membelikan kebutuhannya padahal saya tinggal di Jakarta dan orangtua ada di Bekasi. Seketika air mata meleleh, mengingat segala kebaikan yang dilakukan oleh kedua orangtua mulai dari kecil hingga sudah dewasa begini. Saya ingat kembali jasa-jasa mereka dan sikap balasan dari saya yang tidak tahu diri semasa kecil dan remaja sehingga membuat saya ingin menebus segala kesalahan saya pada mereka saat ini. Semakin dewasa saya semakin menyadari, untuk bisa memberi yang terbaik pada mereka, menyenangkan hatinya dan sebisa mungkin menjadi seperti apa yang mereka inginkan. Sayaa yakin kesempatan itu masih ada. Pun kesempatan untuk menjadi istri yang terbaik bagi suami saya dan ibu terbaik bagi anak saya. Saya yakin Allah masih memberi kesempatan pada saya untuk bisa membahagiakan orang-orang terdekat saya, menjadikan diri saya orang yang bermanfaat. Insya Allah
Apa yang Kau Cari Dari Suamimu?
Dulu ketika kau masih berstatus single, kau pernah ucapkan bahwa menginginkan tipe suami yang mapan dan shalih. Dua kriteria itu menurutmu sudah cukup mewakili keinginanmu saat mencari pendamping. Bagimu kemapanan adalah hal penting di mana harapan berkeluarga nanti akan berkecukupan bahkan kalau bisa berlebih. Kemudian kriteria shalih adalah karena ingin menyeimbangkan dengan statusmu saat itu yaitu menjadi seorang aktivis Islam. Kau ingin suamimu nanti orang yang berpengetahuan agama lebih dan bisa menjadi imam bagimu dan keluargamu nantinya.
Saat itu kau tak memikirkan, apakah kau menginginkan suami yang bertipe terbuka, romantis, pandai berkomunikasi, suka menjaga kebersihan dan hal-hal yang nyatanya sering kelewat diinginkan. Mungkin kau terlalu luas menerjemahkan keinginanmu yang hanya mengharap punya calon suami mapan dan shalih, sementara kau tak memperdulikan apakah lelaki mapan dan shalih itu pintar berkomunikasi, tipikal romantis, memiliki sikap keterbukaan, humoris dan lain sebagainya.
Sampai pada tiba waktunya, saat kau terjebak pada sebuah kenyataan... yang sebenarnya adalah pengabulan dari doa-doamu yang terdahulu. Pada akhirnya kau telah bersanding dengan seorang lelaki yang tidak terlalu tampan, pekerjaannya tetap, berpenghasilan cukup bahkan kadang berlebih, rajin shalat berjamaah, pandai mengaji, berbakti pada kedua orangtuanya dan bertanggung jawab terhadap keluarga. Pada mulanya kau syukuri itu semua, sampai suatu ketika kau menangis terisak di dalam kamarmu sambil berkata "Sungguh, bukan ini yang aku inginkan! aku memang menginginkan suami yang mapan dan shalih tapi aku tak menginginkan suami yang dingin, yang tidak pernah memujiku bahkan mencumbu rayu aku. Perhatiannya tidak ada, cuek, tidak terlalu peduli dengan urusanku, tidak pernah mengirimkan sms padaku tuk menanyakan kabar ketika bekerja dan bla.. bla.. bla.." kau tumpahkan semua keluh kesahmu saat itu. Seketika kau puas dan tertidur lelap dengan mata yang masih sembab.
Berbulan-bulan hingga bertahun-tahun kau hidup tanpa cinta yang mendalam.. Bahkan mungkin cinta itu padam dan pudar ditelan usia. Kau terus mengeluhkan suamimu yang sibuk mengurus urusan luar rumah seperti rapat organisasi, bakti sosial dan acara-acara kemanusiaan lainnya. Dalam hatimu sebenarnya mendukung, tapi tetap kesal dibuatnya karena hampir seluruh waktu habis dan tersisa hanya tinggal lelahnya untukmu. Kau mencoba terus menghidupkan benih cinta yang sudah tak bersemi lagi. Kau terus berusaha mencari kelebihan suami yang patut membuatmu mencintainya namun tak lagi kau temukan. Kau habis daya.. berulang kali mencari dalam diri suamimu namun tak ketemu juga. Di matamu, suamimu bukanlah yang kau harapkan. Lunturlah kriteria calon suami terdahulu seperti mapan dan shalih. Karena bagimu mapan dan shalih tapi tidak romantis dan perhatian, mau jadi apa?
Lalu kau menangis lagi sesenggukan di sudut kamar, saat suamimu justru sibuk dengan urusan akhiratnya (dibaca: pengajian) kau malah habiskan waktu untuk menyesali pernikahan yang sudah dibangun lebih dari dua tahun. "Apa yang salah dari pernikahan ini?" tanyamu sambil terisak. Sementara kau tidak bisa menjawabnya bahkan suamimu pun tak bisa menjawabnya. Hening.
Pagi kembali menyapa, sudah beberapa kali dalam sepekan ini air matamu habis tiap malam. Suamimu yang mengetahui kondisimu seperti ini hanya berujar "Kamu kenapa, begadang ya.. kok matamu bengkak gitu" sambil ngeloyor pergi. Kau semakin kecewa dengan sikap suamimu bahkan sampai berpikir dalam hati "Ya Allah, rajin shalat, rajin ngaji tapi kelakuan sama istrinya ga ada perdulinya sama sekali. Sakittt ya Allah"
Lalu... Apa yang kau cari dari suamimu? Suami yang dulu kau harapkan adalah yang mapan dan shalih kini sudah ada di hadapanmu, menjadi teman hidupmu. Dia yang mungkin tak romantis, dia yang mungkin tak pandai memuji dan tidak terlalu perhatian padahal adalah orang yang paling sering mendoakanmu dalam sujudnya. Dia adalah orang yang berusaha mencukupi kebutuhanmu dengan kerja kerasnya. Dia yang selalu menyempatkan waktu tuk mengantarmu ke rumah orangtua demi memberikan kesempatan untuk kau berbakti pada orangtuamu. Dia yang selalu membangunkan dan mengingatkanmu untuk shalat tepat waktu. Lalu, ke manakah itu semua? Ke manakah penglihatanmu selama ini? Kau mencari-cari apa yang tak bisa dipenuhi suami, bukan tak bisa sebenarnya tapi tak disadari oleh suamimu. Bila kau inginkan keromantisan, perhatian, dan kasih sayang berlebih darinya maka sampaikan padanya, mintalah pada ia. Barangkali kekurangan suami yang tidak bisa kau pahami adalah bukan karena ketidakcintaannya padamu namun karena ketidaktahuan atau ketidaksadarannya untuk berbuat seperti apa terhadapmu.
Apa yang dicari belum tentu ditemui. Tapi yang sudah ada masih bisa diperbaharui.
Bukan mencari cinta yang lain.. tapi perbaharuilah cinta itu dengan mengubah sikap kita ke suami, sikap suami ke kita. Bukan untuk orang lain, melainkan semata-mata untuk menjaga cinta dalam rumah tangga terus bersemi.
Maka, apa lagi yang kau cari dari suamimu?
Anak Bukan Halangan Aktivitas Seorang Ibu di Luar Rumah
Cerpen,
Cinta,
Curcol,
Kehidupan Rumah Tangga,
Motivasi,
Serba-serbi ~DLT,
Tentang Rayyan,
Wanita,
Wara-Wiri
Beberapa kali, saya menemukan acara-acara penting yang pembicaranya atau pihak pengisi acara seorang ibu dan hadir membawa serta anaknya. Anaknya pun ada yang masih usia balita dan ada juga yang sudah usia sekolah dasar. Pada akhirnya, saya mengetahui dari tulisan yang saya baca bahwa di luar negeri sana banyak yang sudah mempraktekkan hal semacam itu.
Saya bersama Rayyan di At-Taawun ketika usai mengisi LDKS Misalnya saja di Italia. Ada seorang ibu yang juga anggota parlemen, Licia Ronzulli, yang selalu menghadiri rapat parlemen sambil membawa anaknya. Ronzulli yang lahir di Milan menjadi wakil rakyat dari Partai Kebebasan dan masuk parlemen sejak tahun 2009. Dia terkenal karena sering membawa putrinya ke sidang pleno sejak bayi.Subhanallah, ini suatu hal yang luar biasa bukan? Bisa dikatakan Italia termasuk yang mendukung situasi darurat seorang ibu yang harus mengasuh anaknya. Bahkan membawa anak ke tempat kerja saat ini mulai menjadi trend baru di belahan Amerika Utara tersebut.Jadi tunggu apalagi... Para ibu yang merasa aktivitas luar rumahnya direpotkan dengan anaknya yang masih kecil, mengapa tidak mencoba untuk berani ambil langkah seperti anggota parlemen Licia? Saya saja semakin percaya diri, untuk mengajak serta Rayyan dalam setiap aktivitas luar rumah yang saya hadiri. Itu karena saya ingin Rayyan tumbuh bersama umminya, dan meneladani apa yang saya lakukan sehari-hari bersamanya. Insya
Hidayah Milik Allah Semata
Tetiba malam ini saya merenung...
Betapa Allah bisa membolak balikkan
hati seseorang dg tak terduga. Siapa yang sangka, dulu berhijab rapi
menutup dada dan istiqomah mengenakan rok tapi kini Allah ubah 180
derajat dg membuka hijab yg selama ini menutup auratnya.
Lalu betapa
tidak terkejutnya dg seorang laki2 yg dahulunya adalah lulusan ponpes
dan rajin menghapal Quran serta hadist namun kini berubah 180 derajat dg
hapalannya yg luntur dan terlihat sedang berkhalwat dg seorang
wanita yg tidak berhijab.
Saya jadi teringat juga dg seorang penulis
buku Islami yg dulu sangat terkenal namun setelah tau launching bukunya
didampingi sang istri yg tidak berhijab saya pun langsung berhenti
mengidolakan karena ternyata ia bisa berdakwah agama melalui tulisannya
namun mengapa tidak bisa dg istrinya? Padahal aurat yg terlihat dari
seorang istri itu kan menjadi tanggung jawab suaminya.
Dan bukan penulis
saja tapi juga salah seorang motivator yang setiap berbicara dg bahasa2
Islami, santun dan kadang mengeluarkan dalil Al Quran tapi ternyata
juga memiliki istri yg tidak berhijab.
Masya Allah.. Sedih rasanya
melihat fenomena seperti ini. Saya cukup ambil pelajaran.. Bahwa Allah
lah yg bisa membolak-balikkan hati seseorang termasuk bisa membuat
seseorang faqih berdakwah Islam namun terlupa bahwa dakwah itu dimulai
dari keluarga dan dari hal sederhana dulu salah satunya menutup aurat.
Doa saya.. Semoga teman saya bisa kembali berhijab, pacarnya teman saya
bisa berhijab dan segera putus atau segera menikah dg pacarnya. Dan tuk
istri2 penulis dan motivator ini semoga Allah hidayahkan tuk mengenakan
hijab pula sehingga dukungan tuk suaminya dalam syiar agama melalui
tulisan atau motivasi publik diberkahi Allah. Aamiin..
Tautan Hati Suami dengan Istri
Konon... banyak laki-laki ganteng nan shalih yang memperistri wanita berwajah biasa alias ala kadarnya. Jadi, gak usah takut gak bakal dapet jodoh. yang menurut kita gak mungkin nyatanya bisa terjadi kan?Berapa kali harus membuktikan bahwa suaminya ganteng dan istrinya standar atau istrinya cantik dan suaminya standar, toh hati-hati mereka Allah lah yang menggerakkan untuk saling mencintai dan mengikatnya dalam ikatan suci pernikahan?
Masih galau juga??? Yakinlah bukan soal ketampanan atau kecantikan yang bisa menyatukan dua hati namun.. karena iman yang terpancar dalam diri mereka masing-masing sehingga bisa menimbulkan magnet bagi lawan jenisnya. Jadi.. tugas kita hanya menjalani peran dengan sebaik-baiknya tuk berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi agar mendapat jodoh yang terbaik pula. Insya Allah..
Jeritan Hati Seorang Istri...
Siang tadi, HP berbunyi... ternyata ada pesan whatsapp yang masuk. Dan ketika saya baca.. ternyata ada tulisan seperti ini dari seseorang yang tidak ingin diketahui identitasnya. Semoga bisa jadi pembelajaran buat para suami ya..
***
Aku di rumah, setiap hari yg kulihat itu-itu melulu. Pekerjaan rumah yg tak pernah berganti itu-itu saja, yg diurusi itu-itu saja, dapur, kamar, kamrr mandi, anak-anak...semuanya hanya sekitar rumah.
Yang kudengar tiap hari hanya jerit anak-anak menangis, berteriak, mengoceh...
Yang kutemui juga bukan lain bukan tidak, hanya piring kotor, makanan & mainan yang tercecer di mana-mana, tumpahan air & anak-anak yang sering protes ketika mulai bosan, ngantuk atau kepanasan, serta popok kotor yang mulai tercium baunya.
Aku juga ingin dihargai. Pekerjaanku, lelahku, keringatku, tangisku...apakah itu tak berarti apa-apa buatmu? Kuurus rumahmu, anak-anakmu...
Aku hati-hati & was-was belanjakan hartamu yang kau amanahkan padaku yang tak lebih banyak dari upahku mengajar dulu...
Tenagaku butuh di-recharge, pikiranku butuh di-refresh, ilmuku butuh di-upgrade...bajuku, make-upku dan semua keperluanku yang dulu bisa kupenuhi sendiri sedang sekarang harus menunggu persetujuan & izinmu untuk dapat memenuhinya dengan harta yg akan kau beri jika ada sisa dari pemenuhan kebutuhan biaya-biaya lain, pun harus kau pikirkan...
Bukankah itu hak-hak seorang istri dari suaminya? Yaitu terpenuhi kebutuhannya, yaitu sandang pangan dan papannya.
Mustahil aku menuntut lebih banyak darimu. Hakku atas dirimu pun tak mampu kau beri. Waktu yg kau beri untukku pun hanya sisa setelah letih & penatmu di kantor. Bahkan untuk bercanda denganku pun kau urung, karena aku tidak lebih menarik dari tab canggihmu yg sudah available dengan segala konten apapun yg kau maui...hiburan, guyonan, nyanyian, bacaan...semua ada di situ di genggamanmu.
Lantas untuk apa lagi kau tengok istri yg lusuh ini, yg setiap harinya hanya berkostum daster yg sudah mulai pudar warnanya karena sering dicuci dan sudah terlalu banyak noda makanan dari masakan yang diolah untukmu & anak-anakmu.
Kau juga malas sekadar mencium keningku setiba dari kerja atau menjelang tidur. Aku berpikir, aku terlalu bau...aroma badanku adalah aroma keringat yang bercampur dengan bau masakan...bukan wangi kasturi.
Sedang rambutku...semakin lepek dan kusut, tak sempat aku menyentuhnya untuk sekadar menyisirnya dengan rapi. Lantas kau akan mendiamkanku dalam lelap tidurmu...karena mungkin mimpimu lebih indah untuk diingat-ingat ketimbang mengingat-ingat wajah istrimu yg hampir tak pernah tersenyum di hadapanmu...atau ketika menyambutmu.
Kau tahu, aku tak meminta mobil mewah atau perhiasan mahal darimu.
Aku hanya ingin kau tahu, senyumku hilang terbasuh letihku...sementara yg kuharap tak kunjung kudapati...
Kau terlalu acuh...
Kau terlalu abai...
Kau tak peduli tentang apa yg kulakukan, tentang bagaimana hari ini kulalui...tentang bagaimana perasaanku...
Bahkan kau tak peduli hal-hal yang menurutmu sepele tapi teramat penting menurutku...
Tapi aku tak bisa memaksamu berubah. Aku terlalu lusuh karena aku hampir tak punya waktu untuk diriku sendiri...tapi kau tak pernah mau tahu.
Aku hanya ingin kau tahu semua itu...ingin kau pahami perasaanku agar kau dapat mengerti yg kurasa... Aku tak butuh penghargaan, tapi dihargai...sebagai istri yang juga butuh perhatian...bukan sebagai budak yg kau bayar semampumu...kau sapa seperlunya... Aku juga tak perlu ucapan terima kasihmu...karena tak pantas untuk pamrih.
Kau, suamiku...belajarlah untuk mengerti aku...hargai ketulusanku mengabdi padamu...dengan hangatnya perhatianmu... sebelum aku semakin merasa lelah dalam lemahku...
~djuin
***
Subhanallah, masya Allah... lagi-lagi seorang ibu harus memiliki hati lapang seluas samudera. Semoga ibu-ibu di manapun berada senantiasa dikuatkan oleh Allah. Saya yang baca ini sambil dengerin lirik Berhati cinta (Istri)... jadi gerimiss air mata :'(
Diskusi Grup IRAMA Bahagia #2 "Mengasuh dengan Hati, Mendidik dengan Cinta dan Menyikapi Perilaku Serta Perkembangan Anak"
Bismillahirrahmanirrahiim.Berikut hasil diskusi grup WA IRAMA Bahagia yang disimpulkan dari materi "pola asuh anak dan parenting" dg sub tema "mengasuh dg hati, mendidik dg cinta dan menyikapi perilaku serta perkembangan anak"
***
Seorang anak yg merapikan mainannya dg senang hati dan penuh kesadaran pasti akan jauh lebih bernilai dibandingkan dg seorang anak yg melakukannya karena takut atau terpaksa.Sebagai orangtua, sudah menjadi amanah bagi kita u/ mendidik anak2 yg Allah titipkan. Tujuannya agar mereka memiliki nilai yg baik di hadapan Allah.
Salah satu hal yang bs kita lakukan u/membantu anak mencapai tujuan dlm hidupnya a/dengan meningkatkan kecerdasan emosi dan spiritualnya. Kecerdasan emosi memungkinkan sesorang u/dapat mengendalikan diri. sementara itu, Kecerdasan spiritual memungkinkan hidup seseorang menjadi lebih bermakna, ia juga akan memiliki kekuatan untuk senantiasa bahagia dalam keadaan apapun. Hal ini sangat penting u/kita ajarkan kepada anak sedini mungkin. Karena perlu proses dan waktu yg cukup panjang, sehingga ia siap u/menjalani kehidupannya kelak.
Beberapa stimulasi yg bisa kita berikan, dalam rangka melejitkan kecerdasan emosi dan spiritualnya adalah:
Semoga Allah senantiasa membimbing kita menjadi orangtua yang tidak berhenti belajar, agar amanah-Nya dapat kita jaga dg baik ... Wallahualam.
- Senantiasa mengajak anak u/berdiskusi mengenai hal apapun dg perspektif ruhaniah. Terus bertanya dan bertanya, latih anak u/ berpikir.
- Berikan ksempatan kepada anak u/mengambil keputusan dan ajarkan anak manajemen resiko atas keputusan yg telah ia ambil.
- Tanamkan motivasi yang benar. Mengapa harus begini, mengapa harus begitu...
- Ajarkan anak u/mandiri dlm berbagai hal (urusan makan, mandi, toilet training, merapikan mainan,dll)
- Ajak anak u/bersosialisasi. Ajarkan empati, ajarkan pengendalian diri, beritahu berbagai macam emosi, dan cara penyampaiannya yg baik.
- Jadilah teladan yg baik u/anak
- Ajak mereka u/bertafakur, baik di alam, maupun melalui buku cerita
Malam Impian
Ketika malam datang..
Kulihat kelam yang menjelang.
Mengiringi pergantian hari menuju terang.
Kulihat kelam yang menjelang.
Mengiringi pergantian hari menuju terang.
Masih beberapa lama tiba siang.
Sementara diri terus mengejar garang..
Berharap impian didapati senang.
Sementara diri terus mengejar garang..
Berharap impian didapati senang.
Maafkan Ummi, Nak!
Malam ini, saya menangis sejadi-jadinya. Saya sangat merasa bersalah terhadap anak sendiri, Rayyan. Saya baru menyadari kesalahan saya ketika rayyan menjelang mau tidurnya, ia tidak rewel dan tidak meminta saya tuk ngelonin dia. Ketika dia amat cuek, saya pun berkata "ehh, Rayyan kok mau bobok ga bilang sama ummi. Tapi jangan bobok dulu nak, sebentar lagi abi pulang bawa roti bakar lho. Katanya tadi Rayyan laper?" Namun sepertinya usahaku sia-sia. Rayyan mulai membalikkan badan dan memeluk guling lantas memejamkan mata. Sampailah pada akhirnya saya baru menyadari, apakah ini sebuah kebahagiaan karena Rayyan berhasil tidur tanpa melakukan ritual seperti biasanya ataukah ini sebuah kesalahan karena saya kurang mengajaknya bermain sehingga tau-tau ia sudah mau tidur saja? Entahlah...Tapi yang pasti, setelah Rayyan tertidur.. Tetiba saja air mata mengalir begitu derasnya. Ya! Karena saya amat menyesal. Bayangan-bayangan aktivitas saya dan Rayyan sebelum tidur kembali muncul. Ya, Rayyan yang sedari tadi mengajak saya bermain kuda-kudaan, kemudian Rayyan mengajak saya untuk memangku dirinya kemudian berguling-guling di atas kasur dan mencium-cium saya sementara saya asik memegang HP, ya karena saya sedang ada diskusi di grup WA bersama para ibu rumah tangga sehingga beberapa kali saya mengabaikan Rayyan yang berusaha mengajak saya bermain dan bercanda tawa. Sungguh, saya baru menyadari bahwa quality time antara kami malam ini GAGAL. Saya yang bersalah, karena pendeknya malam ini dilalui begitu saja dengan Rayyan yang nonton video Thomas di laptop saya kemudian ia berguling-guling di kasur dan menidih tubuh saya namun semuanya itu tanpa saya dampingi. Memang saya saat itu berada di sebelahnya juga, namun keberadan saya nampaknya tak berarti apa-apa karena toh Rayyan tetap asyik main sendiri. Dari sini saya sangat paham, bahwa ini sebuah teguran... sepele tapi membuat saya sedih. Karena Allah gerakkan rayyan untuk tidak minta dikelonin saat mau tidur, ia pun tidak berusaha mengajak saya untuk tidur yaa mungkin itu, karena ia sudah mencoba mengajak bermain umminya dan tidak diperdulikan maka ia juga kapok untuk mengajak saya tidur bersamanya.Wallahi, air mata saya masih saja mengalir sampai saat saya menuliskan ini semua. Sungguh saya sangat menyesal. Dan saya berusaha untuk mengiqob diri. Pasca Rayyan tertidur, saya tidak mau melanjutkan memegang HP. Saya letakkan HP dalam keadaan off di atas meja kemudian saya dekati Rayyan dan membaringkan tubuh di sebelahnya sambil memeluk tubuh mungilnya sambil berbisik di teliganya "Maafkan ummi, nak! Malam ini ummi kurang memperhatikanmu. Ummi janji esok dan seterusnya insya Allah akan lebih mementingkan kamu ketimbang yang lainnya." Maka, setelah saya menuliskan ini semua, saya ikut bersama Rayyan tertidur, berharap mendapat mimpi yang indah bersama Rayyan. Aamiin


















