Tampilkan postingan dengan label Cinta. Tampilkan semua postingan
Ketika Pertengkaran Berawal Soal Penitipan Anak
Diawali dari sebuah pertanyaan. Coba tanyakan dalam hati sanubari kita, apa sebenarnya yang melandasi kita menitipkan anak pada kakek dan neneknya? Apakah karena orangtua kita lebih baik dalam mendidik anak-anak kita, atau jangan-jangan hanya demi mengejar karir?
Nah, pertanyaan kedua.. Apa bisa dipastikan bahwa orangtua akan merasa terhibur dengan kehadiran cucu-cucu di rumahnya, baik sehari dua hari atau setiap hari dalam seminggu? Bisa jadi justru malah mengganggu kesibukan mereka, yang padahal kita semua tahu bahwa orangtua kita dengan usianya yang semakin senja dan tubuh yang tak seoptimal dahulu justru merasa kelelahan dan terbebani.
Apatah lagi, jika kita sebagai anak tidak sadar diri. Maksudnya?? Iya, kita sering lupa memberikan "uang titipan" sebagai pemenuhan kebutuhan anak kita saat dititip ke kakek neneknya. Sehingga tak sadar bahwa sehari-hari kebutuhan sang anak dihandle oleh kakek neneknya, dan itu dzolim lho! Sudah minta jagain anak kita, gak juga dikasih titipan uang pada kakek neneknya buat handle anak kita.
Coba perhatikan niat kita apakah yang kita lakukan ini hanya meraih jenjang karir yang tinggi ataukah merasa orangtua kita bisa menjaga dan mengasuh anak-anak kita? Satu yang perlu diketahui, jika orangtua merasa terbebani dengan cucu-cucunya, maka perbuatan itu merupakan dosa. Iya, dosa karena telah mengesampingkan kewajiban mendidik anak sekaligus mendzalimi orangtua kita.
Rada miris.. soal penitipan anak seperti ini akhirnya memicu terjadinya keributan antar anak dengan orangtuanya. Anak didikan ortu dengan didikan kakek neneknya tentulah beda. Maka jika kita menitipkan anak pada kakek neneknya harus paham dengan konsekuensi tsb. Jangan sampai sudah menitipkan anak kita ehh pas udahannya ngomel-ngomel ke orangtua karena si anak kok jadi begini begitu usai pulang dari rumah kakek neneknya.
Duhh, pliess ya buibu... orangtua kita sudah pada tua, berusia senja. Sejatinya mereka mengasuh anak-anak kita lantaran kasihan dan memaklumi mungkin karena kita kerja atau mau berpergian maka dia dengan sukarela mengasuh anak-anak kita. Tapi jangan dijadikan sebagai sebuah kebiasaan, yang barangkali membuat orangtua lelah dalam menuruti permintaan anaknya. Dan seusai kita menitipkan anak, jangan sakiti hati mereka semisal anak kita jadi begini begitu. Itu kan karena salah kita sendiri.. kenapa menitipkan anak ke orangtua. Bila harapannya anak mau sesuai dengan bentukan kita.. yaaaa kita sendiri lah yang membentuknya, harus siap 24 jam bersama anak-anak.
Kiranya semoga tulisan singkat ini, memberi pencerahan bagi orangtua yang masih menitipkan anaknya pada kakek neneknya. Insya Allah
Menghabiskan Waktu dengan Anak
Duhai para orangtua.. memberi fasilitas terlalu banyak akan melemahkan daya juang anak-anak kita. Membuat mereka tidak bertanggung jawab, dan berperilaku buruk karena merasa berhak mendapatkan perlakuan bintang lima karena kekayaan orang tua mereka.
Tetapi orangtua seringkali melakukannya dengan alasan bahwa mereka bekerja keras untuk anak-anaknya. MEREKA DAHULU SUSAH, DAN TAK MAU ANAKNYA JUGA MENGALAMI KESUSAHAN.
Alasan lain karena mereka malas mendidik dan menyerah saja ketika anaknya merengek, “Semua temanku yang lain punya itu...”. Sehingga anak menjadi anak gampang, tidak punya daya juang, tidak punya skill memperjuangkan sesuatu.
Anak anak tidak cukup dibekali dengan knowledge akademik saja. Justru yang mahal adalah jam terbang bertahan dalam kesulitan, tahan stress dan kaki yang kuat untuk pantang menyerah!
Orangtua ingin anaknya “bahagia” . Namun sebenarnya yang anak-anak butuhkan, orangtua yang mendorong mereka untuk mampu MANDIRI.
MENGHABISKAN WAKTU DENGAN ANAK-ANAK LEBIH PENTING
.......DARIPADA...... MENGHABISKAN UANG UNTUK MEREKA.
ORANG HEBAT tidak dihasilkan melalui kemudahan, kesenangan
dan Kenyamanan TAPI ..... Mereka dibentuk melalui KESUKARAN... TANTANGAN...&... AIR MATA.
Ketika Pelakor Merajalela
Pelakor memang sekarang lagi bahagia tapi bahagianya gak akan pernah awet. Ia akan dihantui kegelisahan karena telah berbuat kesalahan. Kecemasan dan kekhawatiran akan hubungannya dengan suami orang selalu akan membayanginya. Dan bahkan dia pun tidak siap jika selingkuhannya itu berselingkuh pada wanita lain juga. Jadilah rantai perselingkuhan yang tiada putusnya.
.
So, ujiannya laki2 berawal dari pandangan mata dan ujiannya wanita dari mudah dipengaruhi manisnya lisan. Wanita mudah tertipu dengan rayuan manis lelaki sedangkan lelaki tidak tahan dengan wanita yang cantik2 menurut pandangannya.
.
Mudah saja solusinya, syukuri pasangan yang ada saat ini. Atau nanti karma berlaku pada anaknya. Bahwa ketika menjadi pelakor atau pebinor, anak2 yang akan jadi korban dan mereka bisa mencontoh atau menjadi korban seperti kedua orangtuanya.
.
.
Ya Allah jagalah.. pasangan, anak dan keturunan kami dari perbuatan keji perusak rumah tangga orang lain. Lindungi kami dari fitnahnya. Aamiin
.
~DLT
Kisah di Balik Sendal Sepatu
Ada cerita di balik sendal sepatu ini.. anak sulung yang udah bisa milih apa2 sendiri, gak mau dipilihin uminya lagi😣
Jadi saat kemarin jajan sepatu bayi buat adeknya.. saya bilang ke dia "kak bentar mampir dulu nih umi mau beliin sepatu buat dede raffan" lalu dia pun menuruti. sampai di dalam toko dan sudah memilih sepatu bayi buat adiknya.. rayyan mengambil sendal sepatu ini kemudian ditunjukkan ke uminya "rayyan mau ini ya umi". saya yang saat itu niatnya cuma beliin buat adiknya berkata "kak.. umi kesini mau beliin sepatu dede. kalau kakak kan sendalnya udah banyak" lalu dia melipat tangan di dada sambil berujar "umiiii, rayyan kan juga anak umi. kenapa tak dibelikan sepatu juga".
Oalahhhh.. anak 4.5 tahun udah bisa jealous sama adiknya ternyata. Alamat beli apa2 kudu buat dua orang nih.
Maka dengan penuh ketundukan dan kepasrahan kuambil sendal sepatu ini untuk dibayar di kasir. dengan sebelumnya menawarkan pilihan lain sebab ini rada mihil. tapi si kakak nggak mau tetep keukeuh dengan pilihannya ini. hufh... balada emak beranak 2. gimana anak 3,4,5,6 dst yaaa😀
😁
😂
Carilah Kaya dengan Menikah
Cinta,
Islam,
Kehidupan,
Kehidupan Rumah Tangga,
Majelis Ilmu,
Pendidikan,
Pengetahuan,
Resume Kajian
Oleh: Ust Djazuli Ruhan Basyir.
***
- Menikah adalah sunnah.. Niatkan untuk ibadah. Dan akan mendatangkan rezeki.
- Akan ada 3 orang yang pasti Allah angkat derajatnya salah satunya adalah orang yang menikah karena ingin menjaga kehormatan.
- 2 hal yang akan mendatangkan keberkahan dalam pernikahan; ketika niatnya baik dan orangnya (yang menikah) itu juga baik
- Jangan tinggalkan takwa kalau tidak mau hidup susah.
- Kaya tidak harus kaya materi. Tapi kaya hati.. maka akan berkah pernikahannya.
- Orang yang kaya hati akan qanaah. Hidupnya susah tapi tidak diperlihatkan ke orang lain.
- Manusia memang selalu berambisi. Tidak akan pernah puas. Maka menikah akan mengurangi ambisi2 berlebihan.
- Ketika menikah Allah akan jaga jiwanya dari hal yang diharamkan karena telah mendapat yang halal.
- 2 hal yang merusak agama yaitu syahwat dan syubhat. Maka menikah menjaga diri dari syahwat yang bisa merusak agama.
- Taatilah perintah Allah dengan menikah karena akan mendatangkan kekayaan yakni kaya harta, jiwa dan takwa (yakni merasa cukup dengan yang halal).
Diresume oleh ~DLT
Senyum, Bekal Sederhana ke Surga
Ibnul Qayyim memberikan nasehat yang sangat indah,
العَمَلُ بِغَيْرِ اِخْلاَصٍ وَلاَ اِقْتِدَاءٍ كَالمُسَافِرِ يَمْلَأُ جِرَابُهُ رَمْلاً يُثْقِلُهُ وَلَا يَنْفَعُهُ
“Amalan yang dilakukan tanpa disertai ikhlas dan tanpa mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bagaikan seorang musafir yang membawa ransel berisi pasir. Bekal pada ransel tersebut hanya memberatkan, namun tidak membawa manfaat apa-apa.” (Al-Fawa’id, hlm. 81).
Seringkali kita membawa bekal yang sia-sia, hingga memberatkan kita namun sayangnya tidak memberikan manfaat.
Lalu apa contohnya? Amalan yang dilakukan tidak ikhlas (riya’ dan sum’ah), juga amalan yang tanpa tuntunan Rasul (bid’ah) itulah merupakan bekal sia-sia.
Jangan sampai kita membawa bekal yang sia-sia padahal perjalanan kita begitu berat menuju akhirat.
Lalu bekal sederhana apa yang tidak memberatkan dan tidak menjadi sia2. Salah satunya adalah dengan menebar senyuman. Karena senyuman itu merupakan shadaqah.
yukk #keepsmile #senyuminaja #janganlupabahagia #hadapihayatinikmati #alhamdulillah
Sang Penyejuk Jiwa
Tak terasa.. hidup bersama 1x24 jam. Saling mengasihi dan mencintai. kadang kesel, jengkel, marah menghadapi mereka. tapi satu afirmasi saya "yaaa namanya juga anak2" jadi tetiba jengkel dan marahnya hilang seketika..Ahh.. hidup ini sepi kalau tanpa mereka, kakak adik dengan 2 karakter beda. si sulung yang aktif bangettt sedang si bungsu yang kalem sampe bisa ditinggal kemana2 ga rewel asal ada mimik Asi ajah. terus beda kulitnya juga.. haha. orang bilang ini kok kakak adik kayak kopi susu. ahh biarin aja deh. mau kopi susu, kopi tubruk.. kalian tetep permata jiwa umi. bersama kalian umi merasa menjadi seorang ibu seutuhnya..Terima kasih nak.. telah membersamai dan membuat hari2 umi lebih bermakna ya. semoga kalian jadi anak sholih, cerdas dan bermanfaat. aamiin.. luv u all😉
😘
💖
[Bincang Kk Rayyan 1] Warna Kuning
Bincang Malam dengan kakak Rayyan:
K= Kk Rayyan
U= Umi
***
K= iya umi.. emas itu kan kuning ya. Seperti baju dede (nunjuk baju adiknya yang warna kuning)
U= iya kk pinter.. baju dede warna kuning ya. Terus apalagi coba yang warnanya kuning?
K= (sejenak mikir) hmm.. seperti "eek" (maaf
U= #$%#+!";#-#
Pasangan Sevisi-misi
Alhamdulillah dapet pasangan yang sevisi misi soal wirausaha. Kami sangat yakin bahwa pintu rejeki terbuka saat memulai bisnis meski mulai dari kecil2an.
Itulah mengapa.. saya dan suami tengah memperjuangkan untuk bisa jadi pengusaha sukses. Biarin deh kata orang ga mungkin, atau bahkan dinyiyirin. Gapapa bersakit-sakit dahulu.. toh bersenang-senang kemudian tho.
Makanya kalau ada pebisnis sukses jangan iri bin baperan aja. Kamu ga tau jatuh bangunnya dia kayak apa dan perjuangannya untuk bisa sukses kayak gimana.
So. Jangan cuma iri dan ribut dengan rumput tetangga yang lebih hijau. Yukk actionnya... Allah melihat proses maka hasil akan mengikuti. Dan memohonlah pada Allah agar diberi hasil2 terbaik alias dapat memanen dari kerja keras selama ini.Smangatt😁
😇
Doa Seorang Ibu, Semua Baik-baik Saja
"Mbak, kok ga ada kabar? Dihubungi WA nya ga bisa juga. Semoga baik-baik aja semuanya ya"Membaca sms dari seorang ibu yang melahirkan menyiratkan sebuah kekhawatiran mendalam pada anaknya yang sudah bukan lagi menjadi anak kecilnya, tapi tetap saja namanya anak mau belum nikah atau sudah nikah tetep dianggap anak kecil oleh orangtuanya, ya khan?"Hapeku rusak, bbm dan WA ga aktif, ibukuu.. Alhamdulillah kami semua sehat di sini. Semoga semua yg disana juga ya"
"Innalillahi, kemarin baru diservis, sekarang rusak apanya lagi?"
"Sistemnya berontak, mungkin ia lelah jadi setiap udah dinyalain ehh mati sendiri"
"Ya Allah, sabar mbak.. Ini ujian buat kamu, bertubi-tubi dikasih ujian pembersihan harta. Semoga ke depannya menjadi lebih baik semua. Aamiin"
Memang.. selalu ada doa yang terucap dari lisan seorang ibu sekalipun tertuang via tulisan. Itulah yang membuat semakin yakin dalam menjalani kehidupan ini, dari suka dukanya, tangis tawanya, sehat sakitnya.. semuanya coba dinikmati karena yakin bahwa semua akan baik-baik saja seperti doa yang selalu dipanjatkan ibuku.
Ya.. semua akan baik-baik aja. Jaga dirimu ibuku sayang...
Duhai Para Istri, Tetaplah Taat Pada-Nya dan Dirinya
Duhai para istri, ketahuilah bahwa suami kita bukanlah malaikat yang tanpa cela. Seperti halnya diri kita pun bukan bidadari tanpa noda. Jadilah wanita yang mulia.. Karena kemuliaan dengan tetap menaati-Nya dan dirinya.
Tapi jika perpisahan (perceraian, kematian) jalan terbaiknya, maka lihatlah Maryam yang begitu mulia meski suami tak punya. Asiyah yang begitu mulia walau bersuamikan Fir'aun yang durhaka. Khadijah pun sangat mulia saat menjalani takdir sebagai seorang janda. Jadi, tetaplah mulia dengan bertakwa pada-Nya.
Cinta Tidak Pada Tempatnya
Asisten Rumah Tangga (ART) saya yang biasa bantu menyetrika baju, adalah seorang remaja usia 17 tahunan. Di usia tersebut, dia sudah dimanahi melahirkan serta harus merawat dan membesarkan balita kembar usia 1 tahun. Ternyata usut punya usut, ia mengalami MBA (Married by Accident).Semestinya di usia dia yang harusnya menempuh bangku SMA kelas XI, lagi senang-senangnya bergaul, dan menuntut ilmu demi masa depannya. Namun tidak bagi ART saya ini, ia harus di DO dari sekolahnya lantaran hamil dengan pacarnya yang berjarak usia 5 tahun. Dan ketika saya berdialog dengannya sembari menyetrika, saya tanyakan "kamu kenapa sih kok bisa dihamilin gitu, emang gak nyesel sekarang jadi putus sekolah dan kerjaanmu jadi tukang nyetrika?" jawabnya dia "hm, ya mau gimana lagi teh, habis namanya juga CINTA".
Nah, inilah cinta yang tidak pada tempatnya.. Atas nama cinta mengorbakan mahkota keperawanan dan sekolah yang sudah ditempuh bertahun-tahun harus pupus begitu saja. Sementara ia harus banting tulang jadi tukang nyetrika di berbagai rumah demi menyambung hidup dengan suami dan putri kembarnya.
Semoga.. para remaja di luar sana mendapat bimbingan dari orangtua dan basic agama (imannya) harus diperkuat kembali agar tidak mudah menjual keperawanan atas dasar suka sama suka.
Ketika Ibu Menjadi Pemikir, Perasa dan Pelaku
Cinta,
Curcol,
Kehidupan,
Kehidupan Rumah Tangga,
Motivasi,
Serba-serbi ~DLT,
Tentang Rayyan,
Wanita
Seorang wanita (dibaca: ibu) dikaruniai oleh Allah kelebihan yang bisa fokus di beberapa titik ketimbang laki2 yang hanya fokus satu titik. Maka pekerjaan sebagai ibu adalah menjadi seorang pemikir, perasa dan pelaku.Coba bayangkan... Ketika rumah berantakan, ia menjadi pemikir "Kenapa rumah ga bisa rapi.. Selalu saja berantakan.." lalu menjadi perasa "Ya Allah.. Anak dan suamiku tidak bisa membantu menjaga kebersihan rumah, aku lelah mengurus rumah setiap hari yang tidak pernah bersih dan rapi" kemudian ia menjadi pelaku yakni terjun langsung bergerak membersihkan rumah yang berantakan tsb. Itu baru satu titik.. Belum lagi urusan masak, mencuci baju dan menyetrika yang bisa dikerjakan sekaligus (banyak titik).Jadi.. Betapa seorang wanita (dibaca: ibu) luar biasa dalam menjalani perannya dalam berumah tangga. Dan konsekuensinya ketika orang banyak mikir, merasa dan bergerak maka tingkat kecenderungan stressnya bisa tinggi. Maka dari itu banyak ditemui seorang ibu mengalami darah tinggi karena marah2 terus bukan tanpa alasan tapi karena memang pekerjaannya sehari2 selalu berat.
Itulah mengapa sayyidina Umar ketika menghadapi kemarahan istrinya hanya diam mematung dan tidak membalas kemarahan istrinya karena ia sadar bahwa pekerjaan sebagai seorang istri dan ibu tidak mudah. Mungkin sayyidina Umar diam karena tidak ingin menambah stress istrinya. Dan yang membuat wanita cenderung lebih tua dari usianya.
Proud of housewife... Hargai, hormati setiap ibu. Karena perannya begitu sangat berarti.*salam takzim dan semangat buat ibu2 hebat
Doa Untuk Adik Tercinta
Nyess banget... Punya adek yang lagi berjuang mewujudkan impiannya memahkotai orangtua dengan cahaya di surga kelak. Berharap cita-citanya terwujud menjadi al hafidz di tahun 2015 ini. Saya mohon bantuan doanya ya bagi teman-teman yang membaca postingan ini. Semoga Allah wujudkan kebaikan ini. aamiin
Suksesmu Untuk Keluarga
Cinta,
Curcol,
Kehidupan,
Kehidupan Rumah Tangga,
Motivasi,
Serba-serbi ~DLT,
Tentang Rayyan,
Wanita
Meski kamu sudah menikah dan memiliki anak, api harapan dan impian itu janganlah semakin padam justru harus semakin menyala. Kamu harus yakin, berbagai step sudah kamu lalui dengan sukses; menjadi seorang anak yang sekolah, kuliah, bekerja lalu menjadi seorang istri dan ibu. Maka apa lagi yang kamu cari?
"Tapi masih banyak yang belum aku capai!"
"Aku ingin mendapatkan ini itu"
"Aku mau menjadi seperti dia"
"Aku ingin sukses seperti mereka itu"
Yakinlah... suksesmu kini bukan untuk dibanggakan orang lain, suksesmu kini bukan untuk ditunjukkan pada orang lain melainkan sukses untuk keluargamu; sukses yang harus kamu persembahkan pada pasangan dan keturunanmu. Dan ketika mereka sudah menyaksikannya maka itulah definisi suksesmu saat ini. Penghargaan terbaik untukmu adalah dari suami dan anakmu. Sudah cukup itu...
Rintihan Hati Seorang Ibu
Tetiba saya menerima sms, yang berasal dari ibunya adik kelas saya. Dalam isi sms tersebut, ia bercerita bahwa ia sudah tidak habis pikir dengan ulah anak sulungnya. Ia kecewa karena sudah disekolahkan tinggi-tinggi hingga bangku kuliah namun ternyata saat perkuliahan tingkat akhir, ia memutuskan enggan menuntaskan perkuliahannya. Menurut ibunya, si anak mengalami suatu masalah yang akhirnya menjadi dampak enggan menuntaskan bangku perkuliahannya. Ia meminta tolong pada saya untuk menasihati anak sulungnya tersebut. Saya pun sudah menasihatinya baik-baik namun apa daya.. Jika memang bukan karena kemauan si anak tersebut, bagaimana mau ada perubahan?***Orangtua bahkan rela merendahkan dirinya demi memelas pada anaknya agar mau lanjut kuliah kembali pasca sang anak vakum dari jadwal kuliahnya. Ia rela menangis dan mengemis harap agar sang anak menyelesaikan studinya yang hanya tinggal setahun lagi. Namun.. Namanya seorang anak belum tentu tersentuh melihat harap dari ortunya.. Jangankan melihat tangis dan pinta ortunya.. Ia bahkan terlupa, 3 tahun masa kuliah yang telah ditempuhnya adalah berkat perjuangan kedua ortunya. "Nak.. Kembalilah kuliah.. Tuntaskan akhir studimu, jangan kau jadikan semua hanya kesia-siaan dan menjadikan penyesalan di masa depanmu nantinya." Isak orangtua tersebut.. Yang tak jua mengubah keputusan mutlak dari sang anak..
Saling Mengerti Antar Pasutri
Dari sekian banyaknya teori yang diketahui..Sungguh prakteknya sulit dilakoni.Dalam hubungan pasutri,Gesekan bisa saja terjadi bahkan terus bila tak saling memahami.Kuncinya memang harus memahami.Kita awali dari mengerti, mengapa pasangan begitu begini..Kita cermati apakah pola pemicu pergesekan hal2 itu lagi?Lantas bukan menghakimi (walau nyatanya ini yg sering diawali),
Lalu renungkan apa yg bisa diambil dari semua yg terjadi.
Sulit.. bukan berarti tak bisa dijalani.Urusan rumah tangga bukan hanya milik istri..Tapi juga suami yg harus mengiringi.Bahu membahulah antara pasutri,Komunikasikan segala pinta yg tersimpan di hati.Semoga rumah tangga sakinah dimiliki,Yang ketenangan dan ketenteramannya bukan publik nikmatiMelainkan oleh pasutri itu sendiri.
Menjadi yang Terbaik Bagi Orang-orang Terdekat
Pada pertengahan bulan Januari lalu, saya benar-benar diuji oleh Allah SWT. Bagaimana tidak, saya harus mengurus suami saya yang hanya bisa berbaring lemas di tempat tidurnya. Ia harus bedrest kurleb 3 hari. Selama 3 hari itulah, saya yang membelikannya makanan, obat, menyuapinya, memandikannya dan bantu memijit tubuhnya. Saat itu yang ada di pikiran saya adalah "bagaimana jika suami saya akan meninggal saat itu?" dan seketika kengerian itu pun hinggap dalam benak saya. Maka sebisa mungkin saya memberika pelayanan sebaik-baiknya pada suami saya tersebut. Beruntungnya saat itu, rayyan sedang dihandle oleh neneknya dan kami ada di Bekasi sehingga beban saya pun terbagi dengan anggota keluarga lainnya.Beberapa kali saya menatap wajah suami saya yang pucat pasi. Ada rasa kesedihan yang menyeruak bahwa darinya lah, saya dan anak bisa tercukupi segala kebutuhan. Pun ada rasa ikut serta merasakan sakit yang ada ketika setiap suami makan dan meminum obat langsung dimuntahkannya begitu saja. Saya ikut sedih dan merasa khawatir apakah suami saya bisa pulih atau tidak. Bahkan rasa takut semakin membayangi ketika menngingat riwayat penyakit suami saya yang memiliki hepatitis B. Ya Allah rasanya saat itu bercampur aduk, ada sedih, lelah dan takut kalau kalau akan ditinggal pergi sang suami.
Hal itu pula yang memicu saya berpikir tidak-tidak pada hal lainnya. Bisa dikatakan merembet ke hal lain. Setiap malam saya merenung dan memikirkan bagaimana jika kedua orangtua saya juga mengalami hal serupa dengan suami? Apakah masih bisa saya mengurusnya, menyuapinya membelikan kebutuhannya padahal saya tinggal di Jakarta dan orangtua ada di Bekasi. Seketika air mata meleleh, mengingat segala kebaikan yang dilakukan oleh kedua orangtua mulai dari kecil hingga sudah dewasa begini. Saya ingat kembali jasa-jasa mereka dan sikap balasan dari saya yang tidak tahu diri semasa kecil dan remaja sehingga membuat saya ingin menebus segala kesalahan saya pada mereka saat ini. Semakin dewasa saya semakin menyadari, untuk bisa memberi yang terbaik pada mereka, menyenangkan hatinya dan sebisa mungkin menjadi seperti apa yang mereka inginkan. Sayaa yakin kesempatan itu masih ada. Pun kesempatan untuk menjadi istri yang terbaik bagi suami saya dan ibu terbaik bagi anak saya. Saya yakin Allah masih memberi kesempatan pada saya untuk bisa membahagiakan orang-orang terdekat saya, menjadikan diri saya orang yang bermanfaat. Insya Allah




















