Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Hati Ibu yang Lapang
Seorang ibu harus memiliki hati yang lapang..
Menerima segala yang mengamuk dg tenang..
Bagai badai yang hinggap menyerang.
Apapun kondisinya harus dilalui dg senang.
Kesabaran menerima resiko berat yang datang.
Kesabaran menerima resiko berat yang datang.
Tenang... Semoga waktumu tiba riang.
Saat semua peluh letihmu banyak menggenang.
Allah kan balas ribuan daya juang. Insya Allah
Saat semua peluh letihmu banyak menggenang.
Allah kan balas ribuan daya juang. Insya Allah
Setia yang Teruji
Cinta itu teruji..
Pada saat di sisi hanya sunyi.
Pada saat di sisi hanya sunyi.
Kegalauan muncul tanpa henti.
Menyibak malam yang kelam sendiri.
Mungkin saja datang yang tak dikehendaki..
Saat diri dilanda sepi.
Saat diri dilanda sepi.
Sementara sebelah pasang jiwa tak menemani.
Pada akhirnya langkah salah terjadi..
Berharap dapat lebih dari yang telah dimiliki.
Padahal haram yang justru dilakoni.
Berharap dapat lebih dari yang telah dimiliki.
Padahal haram yang justru dilakoni.
Duhai para suami.. Para istri..
Semoga setia selalu terpatri.
Saat separuh jiwamu tiada di sisi.
Semoga setia selalu terpatri.
Saat separuh jiwamu tiada di sisi.
Malam Impian
Ketika malam datang..
Kulihat kelam yang menjelang.
Mengiringi pergantian hari menuju terang.
Kulihat kelam yang menjelang.
Mengiringi pergantian hari menuju terang.
Masih beberapa lama tiba siang.
Sementara diri terus mengejar garang..
Berharap impian didapati senang.
Sementara diri terus mengejar garang..
Berharap impian didapati senang.
Mengajarimu Keberanian
Nak, ijinkan ummi mengajarimu keberanian..
Tentang arti kehidupan..
Menyelami samudera perjuangan.
Lihatlah anak-anak Palestina..
Mereka menelan keberanian secara nyata.
Rasa takut seolah sirna.
Tak lagi khawatir akan malam-malam mereka.
Mereka paham sekali..
Bahwa hidup di dunia tak abadi.
Maka, hilanglah seribu mimpi.
Akan nikmatnya bergelimang harta duniawi.
Hanya satu mimpi..
Yang terus mereka yakini.
Bahwa surga akan menanti..
Keberanian mereka kan memberi arti.
Ikutilah jejak mereka...
Keberanian menggelapkan mata.
Akan rasa takut penindasan setiap nyawa.
Mereka hidup sejatinya..
Meski bangkai jasadnya dimana-mana.
Tanpa embel-embel nikmat semu dunia.
Nak... andai kau besar nanti.
Mungkin negeri kita kokoh berdiri.
Tapi waspada harus sejak dini..
Kuajarkan keteguhan imanmu kini..
Agar kau tetap berada di jalan Ilahi,
Sekalipun nyawamu dibawa pergi.
Tetaplah kau disini..
Dan ingatlah pesan ummi..

Gagahlah berani,
Dan jangan takut mati..
Selagi kebenaran masih kau yakini..
Junjunglah Islam dengan tinggi.
Penghormatanmu pada agama samawi.
*untuk anakku, Rayyan Syafiq Ayatullah_
Usai Sudah
Kupalingkan ia dari tatapan.
Karena tak ingin terperangkap dalam jerat setan.
Hidupku harus terus berjalan.
Kubiarkan masa lalu dalam penghabisan.
Agar nafasku kembali penuh kelegaan.
Karena tak ingin terperangkap dalam jerat setan.
Hidupku harus terus berjalan.
Kubiarkan masa lalu dalam penghabisan.
Agar nafasku kembali penuh kelegaan.
Biarkan segala kenangan..
Yang muncul silih bergantian.
Tenggelam dan sirna dari pandangan.
Memupus dosa yang pernah dilakukan.
Bertolaknya muara tak lagi perbatasan.
Riwayatmu telah lenyap dalam ingatan.
Mengikis segala masa silam yang kita lauhkan.
Mengikis segala masa silam yang kita lauhkan.
Biarkan... burung laut melepaskan.
Layar hidup baru telah kita kembangkan.
Jalan setapak telah membawa kita dalam perpisahan.
Langit tak lagi dapat menyimpan.
Segala bentuk memori dalam pertemuan.
Segala bentuk memori dalam pertemuan.
Ingin Bertanya Padamu
Aku ingin bertanya padamu..Namun kau jawab dengan lidah kelu.Aku ingin bertanya padamu..
Namun kulihat kau tampak ragu.Aku ingin bertanya padamu..Namun ternyata kau banyak tak tahu.Lantas, apa jawaban yang bisa kau beri?Jika hanya diam yang bisa kau lakoni.Lantas, apa jawaban yang bisa kau beri?Jika jawabanmu sudah lagi tak berarti.Lantas, apa jawaban yang bisa kau beri?Jika ruhmu sudah tak lagi disini.Kematian... sejatinya peringatan.Senikmat apapun yang telah diberikan.Dunia tak lagi mengindahkan...Karena akhirat telah menjadi tempat kehidupan..#Renungandiri
Beginilah Pilihan
Beginilah pilihan...
Ketika masa kuliah, menikah menjadi keputusan.
Beginilah pilihan...
Saat satu persatu hilangnya kebiasaan.
Beginilah pilihan...
Saat kusingkirkan segala kekhawatiran.
Beginilah pilihan...
Ketika kupilih ia menjadi pangeran.
Beginilah pilihan...
Saat kuwarnai hariku dengan kesibukan.
Kaget? Tentu..
Cemas? Pasti..
Tapi nyatanya semua terlewati... di usiaku kini yang menuju 22 tahun *masih muda atau sudah tua ya? :D aku telah memiliki putra pertama. Sebuah kejutan, dan rasa sakit serta letih yang terbayarkan ketika masa-masa dalam penantian tersebut. 1 Tahun pernikahan seakan menjadi sebuah momen yang mudah terlewatkan, tanpa terasa.
Beginilah pilihan...
Ketika kuliah (hampir) kutinggalkan.
Beginilah pilihan...
Saat hadirnya setiap dukungan.
Beginilah pilihan..
Dan tak boleh terus ada keluhan.
Syukuri... Nikmati.
Sebuah proses kehidupan berhasil kulewati.
Tapi jangan dulu berbangga hati.
Tugas kedepan lebih berat menanti.
Keluarga... dari padanya kucipta peradaban.
Semoga, aku mampu mengupayakan.
Menciptakan keluarga yang dapat dibanggakan.
Dari tangan seorang wanita yang telah mengambil sebuah pilihan.
Ya.. beginilah pilihan.
Semuanya bertahap... dan aku akan selalu bertahan.
Menjadi wanita unggulan.
Dan pantang dari keputus asaan.
Insya Allah
Kembali Pada Duniaku
Aku ingin kembali ke duniaku..
Mengukir semangat baru..
Menghadirkan ruh sinergiku..
Menjadi seperti sekarang adalah pilihan...
Sekalipun banyak halang dan rintangan...
Semoga tetap kokoh bertahan...
Menjadi istri idaman...
Serta ibu peradaban...
Itu yang dahulu pernah kuimpikan...
Semoga...
Aku bisa...
Pasti bisa...
Harus bisa...
Menjadi teladan keluarga...
Berdakwah prioritas utama...
Dan semangat aktivis tetap terjaga...
Selamat datang duhai duniaku...
Aku kan bersamamu...
Mengembalikan serpihan impian yang pernah tertorehkan...
Dan mewujudkan...
Menjadi kenyataan...
Komunikasi Batin Dengan (Calon) Anakku
"Sayangku, 38 minggu sudah kita melalui segalanya bersama.. Meski kita belum pernah bertatap muka, tapi ummi yakin telah belajar mempercayaimu, ummi juga yakin kamu bisa melakukan yang terbaik untuk cara lahirmu nanti. Ummi bisa merasakan kok nak bahwa kamu adalah anak yang sehat, kuat dan cerdas. Kita berdoa sama Allah ya sayang.. agar kita bisa menjadi tim yang kompak untuk kamu bisa lahir normal dan senyaman mungkin keluar dari perut ummi. Pun ummi berjanji akan berusaha relax agar kita bisa berkomunikasi secara batin dengan baik, karena hanya kamu dan ummi yang bisa memahami bahasa cinta kita dan abi tentunya akan selalu siap siaga menjaga dan mendukung kita. Kita pasti bisa nak, dan ummi abi mengharapkanmu bisa terlahir di dunia ini untuk menjadi penyejuk mata bagi kami.
Luv u sayang, anakku" :)
[Resensi Buku] My Husband My Prince "I Love You Just The Way You Are"
No.ISBN : 978-979-077-078-2
Penulis : Ifa Avianty
Penerbit : Gema Insani Press
Terbit : 2009
Jenis Cover : Hard Cover
Harga : Rp 39.900
Suamiku...
kau
adalah pangerangku..
Pria
tertampan dan terbaik yang kumiliki
Ksatria
rupawan yang Allah kirimkan untukku
Menjadi
penyemangat kala semuanya mengecewakanku
Aku
ingi mencintaimu seperti kau Mencintaiku
Aku
ingin menjadi penghalau kecemasanmu
Aku
ingin menjadi penjaga kehormatanmu
Aku
bahagia dengan membahagiakanmu
Semoga
Allah membuatku mampu..
Bait-bait indah di atas merupakan sepenggal puisi dari sang penulis dalam buku My Husband My Prince " i love you just the way you are". Buku ini memuat mengenai kisah para pengantin baru. Banyak kisah-kisah nyata yang unik dan menggelikan. Selain itu terdapat juga tips buat para Nona dan bagi para Nyonya Khusus untuk "Nostalgia".
- Ada Tuan Putri atau Gadis Biasa
- Siapakah Prince Charmingku ?
- Saat momen sakral itu tiba
- Saatnya Adaptasi
- Sang Pendamping Benar-benar Orang Asing
- dll
Yup, Buku ini akan mengajak kita tertawa, tersenyum, menangis, dan puncaknya bersyukur dengan pernikahan kita saat ini. Melalui pernikahan, kita diijinkan belajar sangat banyak, berproses dengan baik, lewat tangan-tangan-NYA.Penasaran? Buku ini dapat diperoleh di toko buku terdekat kota anda! :)
Aku Ingin Tetap Mencintainya
Mungkin ini yang dinamakan cinta
Ketika diri tak bisa ditinggalkan terlalu lama
Terbayang akan wajahnya
Canda tawa yang kita rajut bersama
Mungkin ini yang dinamakan cinta
Saat khawatir datang menjelma
Ketika yang dinantikan tak kunjung tiba
Resah hingga bikin sakit kepala
Mungkin ini yang dinamakan cinta
Saat rahimku ditanam oleh benih yang kucinta
Ada ikatan kuat yang mengikat jiwa
Hingga sulit tuk berjauhan darinya
Ahh... mungkin inilah dunia berkeluarga
Memiliki suami yang menjadi pendamping jiwa
Berbakti dengan tulus apa adanya
Ikhlas apapun dalam menjalaninya
Aku ingin tetap mencintainya...
Meski tak ada balasan yang kan kuterima
Meski aku tak tahu bagaimana kelak akhirnya
Aku hanya ingin tetap mencintainya...
Sepenuh jiwa, sepenuh apa yang bisa kuberi untuknya
Terima Kasih
Ingin kukatakan padamu...
Tentang sebuah pengorbanan yang tak semu.
Tentang air mata yang tak pernah membeku.
Tentang kisah yang terjadi dahulu.
Terima kasih, ibu..
Saat kau melahirkanku.
Menyusuiku.
Membesarkanku.
Serta mendidikku dengan tangan halusmu.
Tak ada balasan yang kau minta padaku.
Tulus semua berasal dari kalbu.
Serta merta kau curahkan terhadapku.
Kini, aku menjadi sepertimu.
Kelak akan menjadi ibu buat anak-anakku.
Kelak air matamu dulu tergantikan olehku.
Terima kasih, ibu...
Betapa aku cinta padamu.
Andai kau tahu.
Tentang sebuah pengorbanan yang tak semu.
Tentang air mata yang tak pernah membeku.
Tentang kisah yang terjadi dahulu.
Terima kasih, ibu..
Saat kau melahirkanku.
Menyusuiku.
Membesarkanku.
Serta mendidikku dengan tangan halusmu.
Tak ada balasan yang kau minta padaku.
Tulus semua berasal dari kalbu.
Serta merta kau curahkan terhadapku.
Kini, aku menjadi sepertimu.
Kelak akan menjadi ibu buat anak-anakku.
Kelak air matamu dulu tergantikan olehku.
Terima kasih, ibu...
Betapa aku cinta padamu.
Andai kau tahu.
Aku Ingin Kau Tahu
Aku ingin kau tahu... bahwa aku selalu menjamin baik-baik saja diri ini. Meski kering sudah air mata yang terlewatkan tiap malam hari. Tanpa cerita, tanpa canda bersamamu kini.
Ya, aku ingin kau tahu, bahwa aku baik-baik saja disini... Ditemani sepi dan hanya suara hati yang selalu mengiringi. Tanpa hadirnya kau di sisi, sungguh semuanya seakan tak berarti.
Aku ingin kau tahu... bahwa aku mencoba untuk membahagiakan diri sendiri, tanpa bantuanmu yang banyak lagi. Aku harus mandiri, dan bisa mengatasi apapun masalah yang kuhadapi.
Aku ingin kau tahu... bahwa aku selalu tersenyum menutupi, muram durja yang sedang kulalui. Padahal berontak hati, terkadang tak kuasa menghinggapi.
Cukup.
Aku hanya ingin kau tahu... kau telah memberikan yang terbaik saat ini. Kau lepas aku dengan penuh keyakinan diri, aku akan mampu melewati segala macam onak dan duri. Padahal tanpa kau ketahui, hatiku merongrong dan membatini, hanya mampu berdoa pada Sang Ilahi, selalu dalam penjagaanNya kini dan nanti.
Ibuku... aku ingin kau tahu. Rinduku menggelayuti. Saat ini maupun nanti, aku ingin kau tetap mengasihi... sebagaimana dulu aku selalu ditemani, pagi hingga malam hari. Meski aku tahu... itu takkan mungkin terjadi lagi.
Rasanya Menunggu
Sejuta resah rasanya menunggu
Hadirnya cerita antara kau dan aku
Dihatiku ada dirimu
Dihasratmu adakah diriku?
Kini kurasa...
Yang jauh semakin jauh adanya.
Engkau tak tau aku tak suka.
Kau biarkan aku sendiri tanpa hadirnya.
Sepi, dan belum ada lagi tempat bercerita.
Membagi suka dan derita..
Mengisakkan tangis bahagia.
Dalam pelukan dalam belaian yang dicinta.
Sejuta rindu terasa di kalbu..
Walau telah kucoba anggap semua kan berlalu.
Ku tak dapat menyembunyikan rasa sunyi jiwaku.
Sejak engkau mulai jauh dan jarang bersamaku.
Sajak Tuk Suami Tercinta
Tak dapat kubicara.
Indah di hadapanmu, cinta.
Tak dapat kurangkai kata-kata.
Mesra untukmu, cinta.
Aku sadar hanya insan biasa.
Menjadi istri yang belum bakti sepenuhnya.
Aku tahu kubuat kau banyak kecewa.
Namun ulas senyummu selalu indah kurasa.
Cinta...
Aku tak mampu memaknai arti cinta.
Sebelum ku merasakannya.
Ku tahu langit kini menjadi gulita...
Tapi esok mentari kan menyapa.
Ku tahu indahnya tak seberapa...
Tapi ku yakin indahnya jalan bersama.
Seiringan tanpa saling bertanya;
"Kau atau aku yang duluan saja?"
Melainkan berkata;
"Kita jalani sama-sama ya"
Yakin tuk bersama menapakinya.
Tanpa ragu hendak dibawa kemana.
Keluarga kita...
Karena aku sadar dan tak menyesalinya...
Menikah denganmu, yang apa adanya.
Ya... karena sederhananya cinta.
Membuatku rela menerima.
Indah di hadapanmu, cinta.
Tak dapat kurangkai kata-kata.
Mesra untukmu, cinta.
Aku sadar hanya insan biasa.
Menjadi istri yang belum bakti sepenuhnya.
Aku tahu kubuat kau banyak kecewa.
Namun ulas senyummu selalu indah kurasa.
Cinta...
Aku tak mampu memaknai arti cinta.
Sebelum ku merasakannya.
Ku tahu langit kini menjadi gulita...
Tapi esok mentari kan menyapa.
Ku tahu indahnya tak seberapa...
Tapi ku yakin indahnya jalan bersama.
Seiringan tanpa saling bertanya;
"Kau atau aku yang duluan saja?"
Melainkan berkata;
"Kita jalani sama-sama ya"
Yakin tuk bersama menapakinya.
Tanpa ragu hendak dibawa kemana.
Keluarga kita...
Karena aku sadar dan tak menyesalinya...
Menikah denganmu, yang apa adanya.
Ya... karena sederhananya cinta.
Membuatku rela menerima.
Terali Cinta
Pada terali cinta
Kuhadapkan wajah pada dunia
Kusambut ia dengan senyum merona
Kupandang anak langit dengan seksama
Ya, pada terali cinta aku bicara
Tentang inginku semuanya
Akan mimpiku sekadarnya
Tanpa batas, tanpa jarak yang ada
Dengan terali cinta
Kucoba pahami maksudNYA
Yang hendak tunjukkan jalannya
Untuk menemukan sejuta asa
Terali cinta
Menjadi batasku dengannya
Mungkinkah terjadi sesuai rencana
Ataukah harus dikubur selamanya
Entahlah mengapa
Yang kutahu pastinya
Pada terali cinta
Kubicara sekenanya
Semoga semua terwujud nyata
Menunjuk Ke Langit
Langit.. Kutunjuk kau disana.
Bumi... Pijakku kini berada,
Kita sama tertawa.
Kita membariskan suka.
Melenyapkan duka.
Dan menghadirkan canda.
Disini, aku menunjuk kepala.
Disini, aku menunjuk dada.
Langit... kau mengacung telunjuk ke satu arah pusara.
Bumi... Aku memutar telunjuk ke segala arah disana.
Ternyata kita tetap berbeda.
Meski tawa canda bersama…
Aku tahu kita tetap berbeda.
Langit dan bumi takkan bersatu jua
Karena itulah yang paling nyata.
Merengkuh Dunia
Aku ingin merengkuh dunia... Dalam panjang jalan menggapai asa.
Aku ingin merengkuh dunia... Dan membalut harap sejuta warna.
Aku ingin KAU mewujudkannya... Bila yang indah tiba masanya.
Aku ingin KAU mewujudkannya... Memompa semangat tuk meraih cita.
Maka sepenuh hati ku tulus berdoa; Ya Alloh, jadikan kami orang-orang yang mampu merengkuh dunia tanpa mengabaikan diri-MU. Jadikan pula kami orang-orang yang pandai bersyukur dengan menggunakan nikmat sesuai apa yang Engkau ridhoi pada jalan yang halal serta sudi membantu sesama.
Andaikan dunia terlalu menggelapkan mata kami, pada Engkau lah harapan tuk mengingatkan kami.Maka sepenuh hati ku tulus berdoa; perkenankan setiap jengkal langkahku tuk merengkuh dunia, dan tetap memuliakanMU sepenuhnya. Aamiin...








