"Tidak ada yang sempurna di dunia.. Jika begitu adanya, mengapa masih mengharap berlebih dari apa yang sudah diberi oleh-Nya? Sekalipun masalah yang menyapa, ia bukan masalah yang tak ada jalan keluarnya. Karena pada-Nya saja, kita mengharap dan meminta.."

Postingan Populer

Pengikut

Tampilkan postingan dengan label Curcol. Tampilkan semua postingan

Ketika Pertengkaran Berawal Soal Penitipan Anak


Diawali dari sebuah pertanyaan. Coba tanyakan dalam hati sanubari kita, apa sebenarnya yang melandasi kita menitipkan anak pada kakek dan neneknya? Apakah karena orangtua kita lebih baik dalam mendidik anak-anak kita, atau jangan-jangan hanya demi mengejar karir?
Nah, pertanyaan kedua.. Apa bisa dipastikan bahwa orangtua akan merasa terhibur dengan kehadiran cucu-cucu di rumahnya, baik sehari dua hari atau setiap hari dalam seminggu? Bisa jadi justru malah mengganggu kesibukan mereka, yang padahal kita semua tahu bahwa orangtua kita dengan usianya yang semakin senja dan tubuh yang tak seoptimal dahulu justru merasa kelelahan dan terbebani.
Apatah lagi, jika kita sebagai anak tidak sadar diri. Maksudnya?? Iya, kita sering lupa memberikan "uang titipan" sebagai pemenuhan kebutuhan anak kita saat dititip ke kakek neneknya. Sehingga tak sadar bahwa sehari-hari kebutuhan sang anak dihandle oleh kakek neneknya, dan itu dzolim lho! Sudah minta jagain anak kita, gak juga dikasih titipan uang pada kakek neneknya buat handle anak kita.
Coba perhatikan niat kita apakah yang kita lakukan ini hanya meraih jenjang karir yang tinggi ataukah merasa orangtua kita bisa menjaga dan mengasuh anak-anak kita? Satu yang perlu diketahui, jika orangtua merasa terbebani dengan cucu-cucunya, maka perbuatan itu merupakan dosa. Iya, dosa karena telah mengesampingkan kewajiban mendidik anak sekaligus mendzalimi orangtua kita.
Rada miris.. soal penitipan anak seperti ini akhirnya memicu terjadinya keributan antar anak dengan orangtuanya. Anak didikan ortu dengan didikan kakek neneknya tentulah beda. Maka jika kita menitipkan anak pada kakek neneknya harus paham dengan konsekuensi tsb. Jangan sampai sudah menitipkan anak kita ehh pas udahannya ngomel-ngomel ke orangtua karena si anak kok jadi begini begitu usai pulang dari rumah kakek neneknya.
Duhh, pliess ya buibu... orangtua kita sudah pada tua, berusia senja. Sejatinya mereka mengasuh anak-anak kita lantaran kasihan dan memaklumi mungkin karena kita kerja atau mau berpergian maka dia dengan sukarela mengasuh anak-anak kita. Tapi jangan dijadikan sebagai sebuah kebiasaan, yang barangkali membuat orangtua lelah dalam menuruti permintaan anaknya. Dan seusai kita menitipkan anak, jangan sakiti hati mereka semisal anak kita jadi begini begitu. Itu kan karena salah kita sendiri.. kenapa menitipkan anak ke orangtua. Bila harapannya anak mau sesuai dengan bentukan kita.. yaaaa kita sendiri lah yang membentuknya, harus siap 24 jam bersama anak-anak.
Kiranya semoga tulisan singkat ini, memberi pencerahan bagi orangtua yang masih menitipkan anaknya pada kakek neneknya. Insya Allah

Sang Penyejuk Jiwa




Tak terasa.. hidup bersama 1x24 jam. Saling mengasihi dan mencintai. kadang kesel, jengkel, marah menghadapi mereka. tapi satu afirmasi saya "yaaa namanya juga anak2" jadi tetiba jengkel dan marahnya hilang seketika..Ahh.. hidup ini sepi kalau tanpa mereka, kakak adik dengan 2 karakter beda. si sulung yang aktif bangettt sedang si bungsu yang kalem sampe bisa ditinggal kemana2 ga rewel asal ada mimik Asi ajah. terus beda kulitnya juga.. haha. orang bilang ini kok kakak adik kayak kopi susu. ahh biarin aja deh. mau kopi susu, kopi tubruk.. kalian tetep permata jiwa umi. bersama kalian umi merasa menjadi seorang ibu seutuhnya..Terima kasih nak.. telah membersamai dan membuat hari2 umi lebih bermakna ya. semoga kalian jadi anak sholih, cerdas dan bermanfaat. aamiin.. luv u all 😉😘💖

[Bincang Kk Rayyan 2] Seronokkk Sekali



Cerita siang.. di tengah bolong yang terik ini *apa coba yang bolong  
Kk rayyan pulang sekolah.. gedor2 pintu pagar, terlihat wajah sumringah, dibukakan baju dan salin baju ganti.. saya tanya "kakak kok senyum2 gitu.. di sekolah ngapain aja?" dijawabnya pulak "iya umi.. hari ini di sekolah seronokkkk sekali" waduhhh... Macem Upin Ipin je 




😅







Pasangan Sevisi-misi

 
Alhamdulillah dapet pasangan yang sevisi misi soal wirausaha. Kami sangat yakin bahwa pintu rejeki terbuka saat memulai bisnis meski mulai dari kecil2an. 
Itulah mengapa.. saya dan suami tengah memperjuangkan untuk bisa jadi pengusaha sukses. Biarin deh kata orang ga mungkin, atau bahkan dinyiyirin. Gapapa bersakit-sakit dahulu.. toh bersenang-senang kemudian tho. 
Makanya kalau ada pebisnis sukses jangan iri bin baperan aja. Kamu ga tau jatuh bangunnya dia kayak apa dan perjuangannya untuk bisa sukses kayak gimana. 
So. Jangan cuma iri dan ribut dengan rumput tetangga yang lebih hijau. Yukk actionnya... Allah melihat proses maka hasil akan mengikuti. Dan memohonlah pada Allah agar diberi hasil2 terbaik alias dapat memanen dari kerja keras selama ini.
Smangatt  😁

😇

Perjanjian Pra Nikah Ala ~DLT dan Suami


Lagi beberes dokumentasi.. ehh nemu surat perjanjian pra nikah dengan misua tahun 2011 lalu. Wkwk.. bacanya serius banget di poin 1-6 ehh pas poin 7 geli sendiri.. belum siap euyy  

Doa Seorang Ibu, Semua Baik-baik Saja

"Mbak, kok ga ada kabar? Dihubungi WA nya ga bisa juga. Semoga baik-baik aja semuanya ya"

Membaca sms dari seorang ibu yang melahirkan menyiratkan sebuah kekhawatiran mendalam pada anaknya yang sudah bukan lagi menjadi anak kecilnya, tapi tetap saja namanya anak mau belum nikah atau sudah nikah tetep dianggap anak kecil oleh orangtuanya, ya khan?

"Hapeku rusak, bbm dan WA ga aktif, ibukuu.. Alhamdulillah kami semua sehat di sini. Semoga semua yg disana juga ya"

"Innalillahi, kemarin baru diservis, sekarang rusak apanya lagi?"

"Sistemnya berontak, mungkin ia lelah jadi setiap udah dinyalain ehh mati sendiri"

"Ya Allah, sabar mbak.. Ini ujian buat kamu, bertubi-tubi dikasih ujian pembersihan harta. Semoga ke depannya menjadi lebih baik semua. Aamiin"

Memang.. selalu ada doa yang terucap dari lisan seorang ibu sekalipun tertuang via tulisan. Itulah yang membuat semakin yakin dalam menjalani kehidupan ini, dari suka dukanya, tangis tawanya, sehat sakitnya.. semuanya coba dinikmati karena yakin bahwa semua akan baik-baik saja seperti doa yang selalu dipanjatkan ibuku.

Ya.. semua akan baik-baik aja. Jaga dirimu ibuku sayang...

Duhai Para Istri, Tetaplah Taat Pada-Nya dan Dirinya

Duhai para istri, ketahuilah bahwa suami kita bukanlah malaikat yang tanpa cela. Seperti halnya diri kita pun bukan bidadari tanpa noda. Jadilah wanita yang mulia.. Karena kemuliaan dengan tetap menaati-Nya dan dirinya.

Tapi jika perpisahan (perceraian, kematian) jalan terbaiknya, maka lihatlah Maryam yang begitu mulia meski suami tak punya. Asiyah yang begitu mulia walau bersuamikan Fir'aun yang durhaka. Khadijah pun sangat mulia saat menjalani takdir sebagai seorang janda. Jadi, tetaplah mulia dengan bertakwa pada-Nya.

Udah Mahasiswi Kok Begini?

Malam ini ada kejadian unik dan menggemaskan. Kali pertamanya suami saya selaku dosen di salah satu kampus kesehatan diomelin sama mahasiswi dan orangtuanya.

Ceritanya si mahasiswi ini sebut aja Mawar, ujiannya remedial dan sudah dikasih tugas tapi masih bingung juga ngerjainnya gimana. Secara gitu sekarang apa2 bisa searching di gugel atau tanya temen yang berhasil ngerjain soal tsb.

Namun ternyata tidak pada si Mawar yang baru tingkat 1 di bangku kuliahnya, ia tak sanggup mengerjakan kemudian menangis ketika menelpon suami saya minta dijelaskan bagaimana mengerjakan tugas tsb.


Lucunya lagi.. Tangisannya itu didengar oleh bapaknya kali ya. Maka serta merta bapak tsb mengambil alih pembicaraan Mawar dg suami saya. Tanpa babibu, si bapak berkata "Pak ayat gimana sih.. Coba klo bapak punya anak perempuan dan nangis begitu. Gimana perasaannya?" kemudian tanpa jeda si bapak meluapkan kekesalan atas anaknya yang menangis melalui perantara hape. Suami saya yg males nanggapinnya membiarkan si bapak meluapkan kekesalannya tsb dan ketika sudah mereda baru dijelaskan ini itunya.

Meski suasana alot beberapa menit kemudian akhirnya perbincangan di telpon berakhir dengan kalimat terakhir dari si Mawar "Pak!! Namanya juga mahasiswa wajar dong kalau nanya, kok jadi marah2". Suami saya pun menimpali "Saya tidak marah. Saya sudah jelaskan ini berkali2 tapi kamunya tidak mengerti. Kerjakan saja tugasnya jangan banyak komentar, tugas itu sudah pernah dikerjakan sebelumnya juga". Dan tuttt... Sambungan pun terhenti.

Di situ saya merasa sedih.. Masih aja ada orangtua yang kasih sayangnya tidak ditempatkan pada tempatnya. Semestinya jika bijak si bapak ini bantu mengerjakan tugas sang anak bukan malah mengurusi tangisan anak saat menghubungi dosennya. Ini si Mawar kan bukan anak SD lagi yang harus diberi empati berlebih. Ini baru ngerjain remedial.. Lha gimana nanti skripsinya kalau udah K.O begini.

Semoga mahasiswa/i di manapun berada tidak bersikap sama dengan Mawar ya.. Poin pentingnya adalah:
  1. Minta penjelasan detail ke dosen terkait tugas kuliah
  2. Minta bantuan atau informasi dalam mengerjakan tugas dengan teman terdekat/sekelas
  3. Cari info atau jawaban dari gugel atau referensi buku
  4. Kerjakan tugas jangan dalam keadaan panik apalagi sampai nangis2 (inget udah mahasiswa)
  5. Kalau mau nangis sambil nelpon dosen jangan ketauan orangtua khususnya bapak

Ketika Ibu Menjadi Pemikir, Perasa dan Pelaku

Seorang wanita (dibaca: ibu) dikaruniai oleh Allah kelebihan yang bisa fokus di beberapa titik ketimbang laki2 yang hanya fokus satu titik. Maka pekerjaan sebagai ibu adalah menjadi seorang pemikir, perasa dan pelaku. 

Coba bayangkan... Ketika rumah berantakan, ia menjadi pemikir "Kenapa rumah ga bisa rapi.. Selalu saja berantakan.." lalu menjadi perasa "Ya Allah.. Anak dan suamiku tidak bisa membantu menjaga kebersihan rumah, aku lelah mengurus rumah setiap hari yang tidak pernah bersih dan rapi" kemudian ia menjadi pelaku yakni terjun langsung bergerak membersihkan rumah yang berantakan tsb. Itu baru satu titik.. Belum lagi urusan masak, mencuci baju dan menyetrika yang bisa dikerjakan sekaligus (banyak titik).

Jadi.. Betapa seorang wanita (dibaca: ibu) luar biasa dalam menjalani perannya dalam berumah tangga. Dan konsekuensinya ketika orang banyak mikir, merasa dan bergerak maka tingkat kecenderungan stressnya bisa tinggi. Maka dari itu banyak ditemui seorang ibu mengalami darah tinggi karena marah2 terus bukan tanpa alasan tapi karena memang pekerjaannya sehari2 selalu berat.
Itulah mengapa sayyidina Umar ketika menghadapi kemarahan istrinya hanya diam mematung dan tidak membalas kemarahan istrinya karena ia sadar bahwa pekerjaan sebagai seorang istri dan ibu tidak mudah. Mungkin sayyidina Umar diam karena tidak ingin menambah stress istrinya. Dan yang membuat wanita cenderung lebih tua dari usianya.
 
Proud of housewife... Hargai, hormati setiap ibu. Karena perannya begitu sangat berarti.
*salam takzim dan semangat buat ibu2 hebat

Bila Orangtua Perhitungan

Sebagai orangtua.. Saya dan suami bekerja keras untuk siapa? Ya untuk kebutuhan kami dan tentu untuk keperluan anak2 kami nantinya. Maka sebagai orangtua, sudah pasti membanting tulang buat anak-anaknya. Ya! Anak-anaknya, keturunannya, penerusnya.

Jadi. Semisal ada orangtua yg perhitungan dengan anak, dikit2 orangtua nyinggung mengenai jasanya meminjamkan uang sekian rupiah untuk anaknya membuka usaha, nah itu patut dipertanyakan. Kalau anaknya aja disuruh segera melunasi hutang pada orangtuanya, lalu harta benda yang selama ini dicari dan dimilikinya dikumpulkan untuk siapa? Makanya saya masih suka bingung dengan orangtua yang ngasih makan sehari-hari anaknya aja disinggung-singgung terus "Nih, ibu buatkan nasi goreng.. enak kan. Ibu terus yang bikinin makanan buat kamu. Makanya kalau udah sukses kamu gak inget jasa ibu mah keterlaluan."

Saya paham sih, memang jasa orangtua tidak akan pernah bisa terbalas. Tapi kan rada ilfil juga kalau kita sebenarnya sudah tahu caranya menjadi anak yang berbakti dan ingin dipraktekan tapi orangtuanya yang kesannya gak ikhlas punya anak dan ngurusin selama ini.

Ya Allah.. Saya rada kasihan sama anak yg memiliki orangtua seperti ini. Kayaknya hidupnya tertekan kali ya.. Butuh uang dan pinjam ke orangtua sebagai modal usaha dianggap hutang yg harus diganti, atau makan siang dengan makanan di meja makan dianggap sebuah jasa besar dari orangtuanya. Atau pinjam kemeja bapaknya aja harus segera dikembalikan dalam keadaan utuh dan jika ada yang cacat atau kena noda diomelin habis-habisan.

Semoga aja orangtua seperti ini kelak tersadar bahwa anak itu adalah titipan dari Allah yang mesti dirawat dan dibesarkan dg sebaik2nya. Bukan dengan pamrih dan merasa telah memberikan jasa yang besar bagi kelangsungan hidup anaknya. Karena rejeki yang dikasih buat anak juga kan bukan rejekinya sendiri melainkan dari Allah juga.

Suksesmu Untuk Keluarga

Meski kamu sudah menikah dan memiliki anak, api harapan dan impian itu janganlah semakin padam justru harus semakin menyala. Kamu harus yakin, berbagai step sudah kamu lalui dengan sukses; menjadi seorang anak yang sekolah, kuliah, bekerja lalu menjadi seorang istri dan ibu. Maka apa lagi yang kamu cari?

"Tapi masih banyak yang belum aku capai!"
 
"Aku ingin mendapatkan ini itu"
 
"Aku mau menjadi seperti dia"
 
"Aku ingin sukses seperti mereka itu"

Yakinlah... suksesmu kini bukan untuk dibanggakan orang lain, suksesmu kini bukan untuk ditunjukkan pada orang lain melainkan sukses untuk keluargamu; sukses yang harus kamu persembahkan pada pasangan dan keturunanmu. Dan ketika mereka sudah menyaksikannya maka itulah definisi suksesmu saat ini. Penghargaan terbaik untukmu adalah dari suami dan anakmu. Sudah cukup itu...

Kebersamaan yang Sederhana

Kebersamaan yang sederhana..
Adalah hal sederhana.
Cukup dengan meluangkan waktu saja.
Menikmati waktu bertiga.

Bisa dengan membaca..
Atau berbagi cerita.
Apapun itu semoga bisa menautkan rasa.
Samara dalam berumah tangga.


Saling Mengerti Antar Pasutri

Dari sekian banyaknya teori yang diketahui..
Sungguh prakteknya sulit dilakoni.
Dalam hubungan pasutri, 
Gesekan bisa saja terjadi bahkan terus bila tak saling memahami.

Kuncinya memang harus memahami.
Kita awali dari mengerti, mengapa pasangan begitu begini..
Kita cermati apakah pola pemicu pergesekan hal2 itu lagi?
Lantas bukan menghakimi (walau nyatanya ini yg sering diawali),

 
Lalu renungkan apa yg bisa diambil dari semua yg terjadi.
Sulit.. bukan berarti tak bisa dijalani.
Urusan rumah tangga bukan hanya milik istri..
Tapi juga suami yg harus mengiringi.

Bahu membahulah antara pasutri, 
Komunikasikan segala pinta yg tersimpan di hati.
Semoga rumah tangga sakinah dimiliki,
Yang ketenangan dan ketenteramannya bukan publik nikmati
Melainkan oleh pasutri itu sendiri.

Menjadi yang Terbaik Bagi Orang-orang Terdekat

Pada pertengahan bulan Januari lalu, saya benar-benar diuji oleh Allah SWT. Bagaimana tidak, saya harus mengurus suami saya yang hanya bisa berbaring lemas di tempat tidurnya. Ia harus bedrest kurleb 3 hari. Selama 3 hari itulah, saya yang membelikannya makanan, obat, menyuapinya, memandikannya dan bantu memijit tubuhnya. Saat itu yang ada di pikiran saya adalah "bagaimana jika suami saya akan meninggal saat itu?" dan seketika kengerian itu pun hinggap dalam benak saya. Maka sebisa mungkin saya memberika pelayanan sebaik-baiknya pada suami saya tersebut. Beruntungnya saat itu, rayyan sedang dihandle oleh neneknya dan kami ada di Bekasi sehingga beban saya pun terbagi dengan anggota keluarga lainnya.

Beberapa kali saya menatap wajah suami saya yang pucat pasi. Ada rasa kesedihan yang menyeruak bahwa darinya lah, saya dan anak bisa tercukupi segala kebutuhan. Pun ada rasa ikut serta merasakan sakit yang ada ketika setiap suami makan dan meminum obat langsung dimuntahkannya begitu saja. Saya ikut sedih dan merasa khawatir apakah suami saya bisa pulih atau tidak. Bahkan rasa takut semakin membayangi ketika menngingat riwayat penyakit suami saya yang memiliki hepatitis B. Ya Allah rasanya saat itu bercampur aduk, ada sedih, lelah dan takut kalau kalau akan ditinggal pergi sang suami.


Hal itu pula yang memicu saya berpikir tidak-tidak pada hal lainnya. Bisa dikatakan merembet ke hal lain. Setiap malam saya merenung dan memikirkan bagaimana jika kedua orangtua saya juga mengalami hal serupa dengan suami? Apakah masih bisa saya mengurusnya, menyuapinya membelikan kebutuhannya padahal saya tinggal di Jakarta dan orangtua ada di Bekasi. Seketika air mata meleleh, mengingat segala kebaikan yang dilakukan oleh kedua orangtua mulai dari kecil hingga sudah dewasa begini. Saya ingat kembali jasa-jasa mereka dan sikap balasan dari saya yang tidak tahu diri semasa kecil dan remaja sehingga membuat saya ingin menebus segala kesalahan saya pada mereka saat ini. Semakin dewasa saya semakin menyadari, untuk bisa memberi yang terbaik pada mereka, menyenangkan hatinya dan sebisa mungkin menjadi seperti apa yang mereka inginkan. Sayaa yakin kesempatan itu masih ada. Pun kesempatan untuk menjadi istri yang terbaik bagi suami saya dan ibu terbaik bagi anak saya. Saya yakin Allah masih memberi kesempatan pada saya untuk bisa membahagiakan orang-orang terdekat saya, menjadikan diri saya orang yang bermanfaat. Insya Allah

Soal Domain Blog yang Diubah

Bismillah..

Pembaca blog yang budiman... Malam ini saya ingin mengabarkan tuk mengganti domain blog saya yang pada mulanya deasukata.blogspot.com kemudian menjadi duniakata-ku.blogspot.com dan saya masih belum menemukan kedamaian dengan kedua domain tersebut alhasil saya mendapat ilham (hehe) tuk mengganti lagi ketiga kalinya domain blog saya menjadi deasycious.blogspot.com. Oke lah, mungkin ada yang bertanya-tanya, mengapa nama tersebut yang saya gunakan. Saya hanya mencoba memadu padankan nama saya dengan kata-kata yang seolah menunjukkan icon saya atau ciri khas dari blog ini. Dan saya memutuskan menyandingkan kata delicious dengan nama saya. Lantas kenapa delicious, karena berharap pembaca blog bisa menikmati tulisan-tulisan yang saya hasilkan. Sungguh tiada yang lebih nikmat ketika menulis di blog selain tulisan itu dapat dinikmati dan bermanfaat bagi pembacanya. Aamiin.. semoga ya!


Pada akhirnya, saya kembali mohon maaf atas ketidaknyamanan ini.. Semoga pembaca setia blog ini tetap istiqomah menikmati sajian tulisan saya di sini

Sekian.. Selamat menikmati tulisan saya ala deasycious :)

Anak Bukan Halangan Aktivitas Seorang Ibu di Luar Rumah

Beberapa kali, saya menemukan acara-acara penting yang pembicaranya atau pihak pengisi acara seorang ibu dan hadir membawa serta anaknya. Anaknya pun ada yang masih usia balita dan ada juga yang sudah usia sekolah dasar. Pada akhirnya, saya mengetahui dari tulisan yang saya baca bahwa di luar negeri sana banyak yang sudah mempraktekkan hal semacam itu.

Saya bersama Rayyan di At-Taawun ketika usai mengisi LDKS
Misalnya saja di Italia. Ada seorang ibu yang juga anggota parlemen, Licia Ronzulli, yang selalu menghadiri rapat parlemen sambil membawa anaknya. Ronzulli yang lahir di Milan menjadi wakil rakyat dari Partai Kebebasan dan masuk parlemen sejak tahun 2009. Dia terkenal karena sering membawa putrinya ke sidang pleno sejak bayi.

Subhanallah, ini suatu hal yang luar biasa bukan? Bisa dikatakan Italia termasuk yang mendukung situasi darurat seorang ibu yang harus mengasuh anaknya. Bahkan membawa anak ke tempat kerja saat ini mulai menjadi trend baru di belahan Amerika Utara tersebut. 

Jadi tunggu apalagi... Para ibu yang merasa aktivitas  luar rumahnya direpotkan dengan anaknya yang masih kecil, mengapa tidak mencoba untuk berani ambil langkah seperti anggota parlemen Licia? Saya saja semakin percaya diri, untuk mengajak serta Rayyan dalam setiap aktivitas luar rumah yang saya hadiri. Itu karena saya ingin Rayyan tumbuh bersama umminya, dan meneladani apa yang saya lakukan sehari-hari bersamanya. Insya

Wanita, Aneh tapi Nyata!

Dulu... Kalau ada apa2 curhatnya ke my mother.. Mulai dari hal2 kecil sampe ke curhat yang dalem2. Hehe... Tapi sekarang... Posisinya udah digantiin suami. Mau ada masalah kecil sampai masalah yg paling dalem... Cuma suami yg bisa dengerin dan jadi tempat berbagi cerita. Tapiii... Kalau dulu pas curhat ke ibu sendiri minta dikomenin atau ditanggapin, nah sekarang curhat ke suami malah saya suruh diem.. Biar cuma minta didenger aja habis kadang ditanggepin cuma "ohh", "iya mi".. Singkat, datar dan mengena ya. Hehe.. Sekarang lebih paham kenapa kalau curhat ke lawan jenis itu cuma ditanggapi seadanya. Ya itu... Karena ternyata dengan diamnya suami saya atau jawab ala kadarnya, sudah membuat saya puas.. Kenapa? Karena kita (wanita) sebenarnya hanya butuh pendengar (teman berbagi) tanpa harus ditanggapi. Itulah wanita... Aneh tapi nyata ya.

Jeritan Hati Seorang Istri...

Siang tadi, HP berbunyi... ternyata ada pesan whatsapp yang masuk. Dan ketika saya baca.. ternyata ada tulisan seperti ini dari seseorang yang tidak ingin diketahui identitasnya. Semoga bisa jadi pembelajaran buat para suami ya..

***

Aku di rumah, setiap hari yg kulihat itu-itu melulu. Pekerjaan rumah yg tak pernah berganti itu-itu saja, yg diurusi itu-itu saja, dapur, kamar, kamrr mandi, anak-anak...semuanya hanya sekitar rumah.

Yang kudengar tiap hari hanya jerit anak-anak menangis, berteriak, mengoceh...
Yang kutemui juga bukan lain bukan tidak, hanya piring kotor, makanan & mainan yang tercecer di mana-mana, tumpahan air & anak-anak yang sering protes ketika mulai bosan, ngantuk atau kepanasan, serta popok kotor yang mulai tercium baunya.

Aku juga ingin dihargai. Pekerjaanku, lelahku, keringatku, tangisku...apakah itu tak berarti apa-apa buatmu? Kuurus rumahmu, anak-anakmu...
Aku hati-hati & was-was belanjakan hartamu yang kau amanahkan padaku yang tak lebih banyak dari upahku mengajar dulu...
Tenagaku butuh di-recharge, pikiranku butuh di-refresh, ilmuku butuh di-upgrade...bajuku, make-upku dan semua keperluanku yang dulu bisa kupenuhi sendiri sedang sekarang harus menunggu persetujuan & izinmu untuk dapat memenuhinya dengan harta yg akan kau beri jika ada sisa dari pemenuhan kebutuhan biaya-biaya lain, pun harus kau pikirkan...
Bukankah itu hak-hak seorang istri dari suaminya? Yaitu terpenuhi kebutuhannya, yaitu sandang pangan dan papannya.

Mustahil aku menuntut lebih banyak darimu. Hakku atas dirimu pun tak mampu kau beri. Waktu yg kau beri untukku pun hanya sisa setelah letih & penatmu di kantor. Bahkan untuk bercanda denganku pun kau urung, karena aku tidak lebih menarik dari tab canggihmu yg sudah available dengan segala konten apapun yg kau maui...hiburan, guyonan, nyanyian, bacaan...semua ada di situ di genggamanmu.

Lantas untuk apa lagi kau tengok istri yg lusuh ini, yg setiap harinya hanya berkostum daster yg sudah mulai pudar warnanya karena sering dicuci dan sudah terlalu banyak noda makanan dari masakan yang diolah untukmu & anak-anakmu.

Kau juga malas sekadar mencium keningku setiba dari kerja atau menjelang tidur. Aku berpikir, aku terlalu bau...aroma badanku adalah aroma keringat yang bercampur dengan bau masakan...bukan wangi kasturi.

Sedang rambutku...semakin lepek dan kusut, tak sempat aku menyentuhnya untuk sekadar menyisirnya dengan rapi. Lantas kau akan mendiamkanku dalam lelap tidurmu...karena mungkin mimpimu lebih indah untuk diingat-ingat ketimbang mengingat-ingat wajah istrimu yg hampir tak pernah tersenyum di hadapanmu...atau ketika menyambutmu.

Kau tahu, aku tak meminta mobil mewah atau perhiasan mahal darimu.
Aku hanya ingin kau tahu, senyumku hilang terbasuh letihku...sementara yg kuharap tak kunjung kudapati...

Kau terlalu acuh...
Kau terlalu abai...
Kau tak peduli tentang apa yg kulakukan, tentang bagaimana hari ini kulalui...tentang bagaimana perasaanku...

Bahkan kau tak peduli hal-hal yang menurutmu sepele tapi teramat penting menurutku...
Tapi aku tak bisa memaksamu berubah. Aku terlalu lusuh karena aku hampir tak punya waktu untuk diriku sendiri...tapi kau tak pernah mau tahu.

Aku hanya ingin kau tahu semua itu...ingin kau pahami perasaanku agar kau dapat mengerti yg kurasa... Aku tak butuh penghargaan, tapi dihargai...sebagai istri yang juga butuh perhatian...bukan sebagai budak yg kau bayar semampumu...kau sapa seperlunya... Aku juga tak perlu ucapan terima kasihmu...karena tak pantas untuk pamrih.

Kau, suamiku...belajarlah untuk mengerti aku...hargai ketulusanku mengabdi padamu...dengan hangatnya perhatianmu... sebelum aku semakin merasa lelah dalam lemahku...

~djuin

***

Subhanallah, masya Allah... lagi-lagi seorang ibu harus memiliki hati lapang seluas samudera. Semoga ibu-ibu di manapun berada senantiasa dikuatkan oleh Allah. Saya yang baca ini sambil dengerin lirik Berhati cinta (Istri)... jadi gerimiss air mata :'(

Hati Ibu yang Lapang

Seorang ibu harus memiliki hati yang lapang..

Menerima segala yang mengamuk dg tenang..
Bagai badai yang hinggap menyerang.

Apapun kondisinya harus dilalui dg senang.
Kesabaran menerima resiko berat yang datang.
Tenang... Semoga waktumu tiba riang.
Saat semua peluh letihmu banyak menggenang.
Allah kan balas ribuan daya juang. Insya Allah

Malam Impian

Ketika malam datang..
Kulihat kelam yang menjelang.
Mengiringi pergantian hari menuju terang.

Masih beberapa lama tiba siang.
Sementara diri terus mengejar garang..
Berharap impian didapati senang.

Tak boleh aku meradang..
Kuharus nikmati prosesnya dengan tenang.
Satu persatu melewati jalan berlubang..
Berharap akhir indah kudapati girang.

#‎malamimpian‬