"Tidak ada yang sempurna di dunia.. Jika begitu adanya, mengapa masih mengharap berlebih dari apa yang sudah diberi oleh-Nya? Sekalipun masalah yang menyapa, ia bukan masalah yang tak ada jalan keluarnya. Karena pada-Nya saja, kita mengharap dan meminta.."

Postingan Populer

Pengikut

Beginilah kehidupan...
Kita akan menemukan berbagai pola perilaku yang mencerminkan kepribadian manusia yang bersangkutan. Ada yang hidup serba terencana, detail, dan menulis segalanya, biasanya sangat produktif sih, tetapi juga sangat sibuk. Di satu sisi bisa saja menghasilkan banyak uang, tetapi di sisi lain sangat kekurangan waktu luang dan kebebasan. Hm.. aku termasuk begitu gak ya?

Ada juga yang hidupnya serba mengalir, tanpa rencana, dan tak menulis tugas terpentingnya, biasanya sih sangat menikmati hidup. Tidak dikatakan sibuk karena punya banyak waktu luang dan kebebasan, tetapi tidak jarang menjadi kurang produktif dalam menciptakan nilai, cinta, nafkah, dan makna hidup yang sesungguhnya.

Sebuah pengakuan di masyarakat biasanya berlaku bahwa produktivitas dan kesuksesan seseorang sering sekali dinilai berdasarkan seberapa sibuk dia bekerja.

Well... Bagiku, dianggap enjoy aja semuanya. Sebisa mungkin tetap produktif dalam menghasilkan karya dan memperoleh penghasilan tapi juga mendapatkan ruang kebebasan semampunya.

Seperti halnya cinta. Yang tak ada matinya untuk diangkat sebagai tema tulisan ini. Ya, Apabila yang kita lakukan selalu didasari atas nama cinta, maka semua kesibukan akan terasa menyenangkan sekalipun itu menyita waktu luang dan kebebasan kita.

Tetap produktif, sekalipun dalam urusan cinta. Tetap hasilkan produk cinta terbaik yang kita bisa, terhadap keluarga, orang tua, anak, pasangan maupun kerabat kita.

Ada sebuah kisah... Dimana cinta selalu produktif dihasilkan dalam sebuah keluarga sekalipun itu menyibukkan dan menyita waktu luang serta kebebasan...


Ada seorang ibu rumah tangga yang menilai suaminya dengan mengatakan, “Bagaimana aku tidak yakin dia cinta… Kalau di pagi hari, sambil mengantuk dia masih mau membantu pekerjaanku. Memandikan anak-anak, menyiapkannya untuk pergi sekolah. Menjawab semua pertanyaanku dari yang paling bodoh sampai yang paling canggih. Kadang memang menertawakan kebodohanku atau memarahiku, tapi tetep dia jawab kok… Dia selalu support apa yang aku mau. Sangat membantuku jika ada kesulitan, memberikan yang terbaik yang dia bisa berikan. Di tengah lelahnya, di akhir pekan. Dia mau menemaniku dan mengikuti semua agenda yang aku mau. Jalan kemana saja dia mau. Jika aku dan anakku sakit, ia selalu jadi suami dan ayah siaga. Siap Antar Jaga, kayak di iklan-iklan itu tuh. Ikut begadang, sampe kuminta tidur baru ia tidur. Besoknya dia masih penuh energi, melintasi perjalanan yang jauh menuju tempat kerja, bekerja dan pulang lagi di malam hari. Jadi bagaimana Aku bisa ragu, akan cintanya? Dan tahu tidak?? Semalam dia membuatku yakin akan cinta.
Begini..aku dan dia sama-sama lelah. Kemarin memang sangat melelahkan. Lagi lelah begitu, anak-anak banyak tingkah. Nggak mau cepat-cepat tidur. Aku menyerah, masuk ke kamar, kutarik selimut, memejamkan mata. Dah males berkata-kata, terserah kalian aja deh mau apa. Tapi surprise banget… inilah kado kejutan yang kesekian kalinya yang pernah aku dapat. Masih sempat kulihat tatapan matanya. Menatapku dengan teduh. Lalu kudengar dia membujuk anak-anak, meminta mereka ke kamar mandi, menyiapkan mereka tidur. So sweet kan???…lebih manis dari kata-kata cinta yang pernah kutahu. Jadi mana mungkin aku meragukan cintanya…”

Seperti itulah... Produktifnya cinta yang dihasilkan, kian hari kian bersemi dengan indah. Bahkan tak banyak kata, langsung bekerja. Sang istri sedang menghayati cinta tanpa kata-kata romantis. Karena memang tak banyak kata romantis meluncur dari mulut suaminya. Hal yang baru ia pahami setelah menikah. Sebelum menikah yang ia pahami adalah pernyataan-pernyataan cinta romantisme. Ternyata banyak cara untuk menunjukkan produktifnya cinta dari kesibukan yang kita kerjakan sekalipun itu sangat melelahkan, menyita waktu luang dan kebebasan.



Jadi... Masih mengaku orang yang paling sibuk?
Hm... Coba telaah kembali, apakah kesibukan kita telah melahirkan sebuah produktifitas cinta yang sesungguhnya. Jangan sampai kesibukan kita hanya menghabiskan waktu dengan percuma, tanpa makna, tanpa cinta di dalamnya. Ya, semua memang harus karena cinta. Termasuk melakukan segalanya karenaNya. Itu nilai kesibukan yang paling berharga :)

2 Responses so far.