"Tidak ada yang sempurna di dunia.. Jika begitu adanya, mengapa masih mengharap berlebih dari apa yang sudah diberi oleh-Nya? Sekalipun masalah yang menyapa, ia bukan masalah yang tak ada jalan keluarnya. Karena pada-Nya saja, kita mengharap dan meminta.."

Postingan Populer

Pengikut

Ahh kali ini aku mau menceritakan diriku sendiri. Bagi kamu yang baca, kalau gak suka ya jangan dibaca tulisan ini ya, kalau suka pun cukup perlu mengangguk-anggukan kepalamu saja sebagai bukti kamu setuju dengan isi tulisan ini. Okay? ^__*

Aku terlahir sebagai seorang gadis yang biasa-biasa aja... Dari kecil bisa dikatakan terlahir dengan buruk penampilan. Walau wajahku gak jelek-jelek amat tapi penampilanku yang kucel, kulitku yang agak buram alias hitam menambah daftar ejekan dari teman-teman kecilku Terlebih cukup kecewa ketika aku dicemooh dengan kata-kata "Pantat panci", maybe karena kulitku saking gelapnya.

Then... Semakin berjalannya waktu, aku makin tambah dewasa, cukup mengerti dunia fashion meski aku tahu tak serta merta aku harus mengikuti mode jaman sekarang yang kacau balau gak jelas mode apaan. Hufh...

But... bukan mengenai mode yang akan dibahas melalui tulisan ini. Hadeh, udah panjang lebar ternyata belum masuk bahasan pokoknya ya. Hehe... Maaf  :)

Oke, yang mau dibahas adalah... Aku sedang belajar untuk mandiri. Terlebih semakin tambah dewasa, semakin kondisi menuntutku untuk bisa kesana kemari seorang diri. Mungkin ini kali ya ciri mandiri... Ada banyak kondisi yang membuatku harus menghandle segala suatunya seorang diri. Sebenarnya agak sedih juga, tapi aku yakin bahwa Alloh selalu menemaniku khan?

Ya... Dimulai sejak lepas SMP, aku mandiri menjadi seorang ketua Rohis yang agak buta dengan dunia keislaman di sekolah tingkat SMA. Pun sehingga membuatku harus menghandlenya dengan mandiri alias sendiri. Lalu setelah menjalani masa-masa SMA, ternyata aku pun lebih senang menghabiskan waktu seorang diri..... Ke toko buku seorang diri, mandiri aja tuh kesana kemari naik motor sendiri. Termasuk ketika ada pelatihan menulis di Ciputat, kulajukan kendaraanku seorang diri menuju mesjid UIN Ciputat. Kemudian ketika harus ke Cibubur atau Cileungsi atau ketika ada launching buku di Jagakarsa. Itu semua harus kulalui seorang diri dalam perjalanan..

Menginjak usia dewasa pun, ketika banyak panggilan mengisi acara-acara kemuslimahan di STT PLN yang arah Grogol itu, harus kulewati seorang diri menuju sana dengan bermotor-motoran. Atau ketika mengisi kajian kemuslimahan di IPB, pun pagi-pagi aku berangkat seorang diri naik bus Laju Utama. Atau ketika mengisi acara studi wisata islam di Puncak, pun aku jabanin seorang diri...

Hmm... Mandiri. Ya, memang aku harus mandiri. Tak boleh bergantung dengan namanya orang lain, selama masih bisa kuhandle segala suatunya sendiri. Meski terkadang aku bertanya-tanya, sampai kapan mesti begini?? Ujung-ujungnya sih mellow, alias minta diberikan jodoh supaya gak sendiri lagi. Hehe... Semoga, suatu saat nanti, sudah ada yang bisa menemani kesana kemari ^__^ Aamiiiiiiiiiiiiiiiiin