"Tidak ada yang sempurna di dunia.. Jika begitu adanya, mengapa masih mengharap berlebih dari apa yang sudah diberi oleh-Nya? Sekalipun masalah yang menyapa, ia bukan masalah yang tak ada jalan keluarnya. Karena pada-Nya saja, kita mengharap dan meminta.."

Postingan Populer

Pengikut

Malam ini....
Ssstt, jangan bilang-bilang ya kalau aku mau bikin tulisan terkait apa yang tadi didapatkan dari perbincangan bersama temanku, Bu Dewi yang sudah kurang lebih 11 tahun membina kehidupan rumah tangganya. Hehe

Awalnya sih biasa, cuma cerita gimana asal muasal pernikahan dengan suaminya tersebut. Ternyata ada hal unik yang kudapatkan dari temanku ini... Beliau -red Bu Dewi- itu sejak dahulu ketika masih muda hehe... Sudah memilah-milih pasangan yang akan menikahinya. Syarat utamanya yaitu agamanya oke, yang kedua adalah dia harus anak pertama. Waw, aku terkejut... Karena syarat kedua itu merupakan syarat mutlak yang harus bisa didapatkan. Dan memang ya, Alloh itu prasangka hambanya. So, dengan usaha keras... Jadilah ia kini memiliki suami yang merupakan anak pertama.

Rasa penasaranku begitu membuncah... Aku tanya padanya mengenai hal tersebut. Kenapa juga sih harus anak pertama? Lalu ternyata, beliau menjabarkannya dengan kalimat seperti ini:


"Gini lho Deas... Saya sejak dulu sudah ngincar anak pertama... Sebab dia gak punya kakak yang nantinya kemungkinan bakal bisa 'rusuh' sama saya. Soalnya dari dulu saya itu tipe yang keras dan agak sulit diatur. Jadi, kalau punya kakak ipar gak kebayang aja kali ya kalau saya jadi bahan omongan mereka. Karena saya tuh gak bisa bersikap lembut atau kalem seperti berpura-pura ibaratnya di hadapan kakak ipar saya tersebut. Ohya malahan dulu, ketika masih jama jahilyyah... Saya pernah memiliki pacar yang ternyata anak ketiga di tengah-tengah keluarganya. Karena saya rada kurang 'sreg' dengan anak ketiga gitu, jadi saya selingkuh denganlaki-laki lain yang merupakan anak pertama. Padahal saya dengan pacar saya yang anak ketiga itu gak ada masalah apa-apa sih cuma karena dia anak ketiga aja. Hehe..." dengan ringannya temanku itu menjelaskan panjang lebar terkait alasannya mengapa lebih memilih pasangan yang merupakan anak pertama.

Ya ampun... Sederhana banget ya alasannya. Tapi lihatlah ternyata, dengan tekad atau azzam yang kuat dari temanku ini, ternyata bisa terkabulkan keinginannya dengan menikah dengan anak pertama bahkan rumah tangganya bertahan hingga telah memiliki 5 anak laki-laki meski dua diantaranya telah wafat.

Berbeda dengan apa yang dikatakan Bu Dewi... Temanku lainnya ternyata lebih memilih anak bungsu untuk dijadikan pasangannya. Dengan pertimbangan bahwa anak pertama itu berat tanggung jawabnya, terlebih jikalau memiliki adik-adik yang masih harus dibantu biayai olehnya. Intinya mah, temanku yang satu ini cari aman untuk bisa mendapat suami yang anak bungsu aja. Selain bisa disayang sama kakak-kakaknya juga gak terlalu berat tanggung jawabnya.

Well, untuk anak tengah gimana nasibnya ya??? Hehe...  Belum ada yang ngasih tanggapan nih. Tapi berhubung aku sendiri anak tengah... Aku pun punya tanggapan terkait hal ini. Aku lebih memilih untuk mendapatkan anak pertama sebagai pasanganku kelak. Karena dari situlah aku bisa melihat sisi tanggung jawab calon pendampingku terhadap keluarganya termasuk adik-adiknya. Selama masih bisa membantu, malah ingin aku menganjurkan suamiku kelak untuk tetap berkontribusi di tengah-tengah keluarganya.

So, yang merasa anak pertama... Terbuka kesempatan lho?! *halah... apa coba?! :D

2 Responses so far.