"Tidak ada yang sempurna di dunia.. Jika begitu adanya, mengapa masih mengharap berlebih dari apa yang sudah diberi oleh-Nya? Sekalipun masalah yang menyapa, ia bukan masalah yang tak ada jalan keluarnya. Karena pada-Nya saja, kita mengharap dan meminta.."

Postingan Populer

Pengikut

Narsis, sebuah kata yang tak asing di dengar khan? Hampir setiap pajangan foto dengan pose-pose alay atau lebay ternyata sudah bisa menyabet gelar 'narsis'. Bukankah seorang muslim itu harus tawadhu ya, nggak boleh sombong dan membanggakan diri. Meski sekali-kali aku juga masih suka narsis hehe.. Sebenarnya itu hal yang fitrah, tapi harus pintar-pintar mengelolanya agar tak merambat jadi masalah :)

Kali ini mau berbicara tentang ikhwan. Psssttt, semoga gak ada ikhwan yang baca tulisan ini. Hehehe... Karena ternyata gak cuma akhwat aja yang doyan narsis, banyak juga ikhwan yang suka narsis dan membangga-banggakan diri. Kalau cuma sesekali celetukan sih, mungkin nggak masalah, tapi kalau terlalu keseringan dan nggak kenal waktu, yang ada kita bisa mual-mual dan eneg mendengarnya. Serius deh ini karena aku sendiri yang mengalami langsung, berhadapan dengan ikhwan yang luar biasa kenarsisan sikapnya.Yang bikin nyebelin tuh, ikhwan ini selalu “mempromosikan” diri di hampir setiap kesempatan, entah dalam rangka tebar pesona atau emang bakat jadi orang sombong, hehe.... Yang ada, jadi sebel sendiri  deh mendengarkan kenarsisan si ikhwan ini. Kalau lagi di samping ikhwan itu, pengen rasanya nimpuk dia dengan sesuatu biar bisa diam.Upss, aku gak setega itu sih :D

Hm... Ikhwan, narsismu masih bisa dimaafkan sih kalau soal membanggakan wajahmu yang ganteng, ketenaranmu yang maha dahsyat *katanya*. But, kalau soal dalam mencari pendamping... ini nih yang mesti serius dibahas. Meski tabiat “perfect syndrome” (keinginan untuk mendapatkan seseuatu hal yang sempurna), memang masih menjadi bagian dari tabiat dasar kehidupan manusia, seperti ketika seorang ikhwan mau membeli motor baru, ketika sudah sampai di dealer motor dan ditawarkan untuk memilih salah satu dari jejeran puluhan motor baru dengan jenis yang sama, ikhwan tadi masih kebingungan untuk memilih motor yang terbaik dari puluhan motor tersebut, sampai dibela-belain nungging kesana kemari untuk mengecek ada bagian yang cacat atau nggak, walaupun hal demikian sah-sah saja tapi nyadar gak sih kan motor di dealer  itu masih baru semua, kok sampai jungkir balik begitu milihnya?” jawab sang ikhwan, ”Afwan, saya hanya mau cari yang terbaik di antara yang baik..!” Lah... namanya motor masih baru otomatis mesinnya masih baru dan bagus semua dong, betul gak sih?

Seperti itulah, dalam memilih calon pendamping hidup pun terkadang ikhwan mencapai derajat “hyper perfect syndrome”, alias alay bin lebay ujung-ujungnya narsis, dengan minta dicarikan seorang akhwat dengan syarat-syarat yang bisa masuk kategori “mission impossible”, gak mungkin banget gituuu. Bayangkan, mulai dari pertanyaan putih apa tidak akhwatnya? Tingginya berapa? Berat badannya berapa? Sudah bekerja atau tidak? Jerawatan atau tidak, kira-kira mirip artis siapa? …. Pleaseee, STOP!Gak mungkin sedetail itu bisa kita ketahui khan? Lha wong petugas sensus penduduk aja gak sampai dapet data segitu detailnya.

Padahal sudah jelas kan? “Wanita dinikahi karena empat perkara : Karena hartanya, kecantikannya, kedudukannya, dan agamanya. Pilihlah yang taat agamanya (kalau tidak) niscaya engkau akan merugi.”


Seharusnya itu saja patokannya. Seorang akhwat yang taat beragama jadikan sebagai “target utama” dan pengharapannya, karena keelokan akhlak akan lebih permanen dibandingkan kecantikan fisik, karena kecantikan hanyalah setebal kulit, jika kulit ini tidak ada hanya gumpalan daging dan tulang apa kalian para ikhwan masih mau menerimanya?

Pleaseeee, jangan narsis cari pendamping. Coba bayangkan, seorang istri yang cantik pun, walau berhiaskan kosmetik yang mahal, kalau setiap harinya cemberut terus tentu tidak akan nyaman dilihat, kecantikan tidak bisa dinilai dari fisik, karena mereka (para akhwat yang taat beragama dan memelihara kehormatannya) lebih baik dari pada wanita-wanita yang mengumbar auratnya walaupun kecantikan mereka menarik hatimu.

Pada akhirnya... Coba pikirkan kembali, tatkala para ikhwan sudah mampu menikah maka carilah akhwat yang taat dalam agamanya, mampu menjaga kehormatan dirinya. “Ada tiga golongan manusia yang berhak mendapat pertolongan Allah: (1) mujahid fi sabilillah (orang yang berjihad di jalan Alloh), (2) budak yang menebus dirinya supaya merdeka, dan (3) orang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya.”

Kebiasaan “narsis” dikalangan ikhwan dalam mencari pendamping hendaknya jangan dibiarkan terus menerus sebab hanya akan membuatnya panjang angan-angan dan dan suka berkhayal untuk mendapatkan seorang calon istri yang sempurna fisiknya. Padahal, tiada yang sempurna di dunia ini.

Wanita-wanita yang shalihah adalah pendamping yang terbaik untukmu, mereka merupakan permata-permata yang tersembunyi yang jauh dari pandangan manusia. Pilihlah wanita yang taat beragama walaupun wajahnya jauh dari harapanmu, karena ia akan menyenangkan pandanganmu kelak ketika engkau mengenali kecantikan akhlaknya, bukan seorang wanita yang memiliki kecantikan namun akan menyakiti pandanganmu ketika engkau mengenal akhlaknya. Pleaseeee, hentikan narsismu itu dalam mencari pendamping. Dan segeralah jemput bidadarimu yang berbalutkan keimanan serta ketakwaan, niscaya kan bahagia dunia akhirat. Aamiin :)

5 Responses so far.