"Tidak ada yang sempurna di dunia.. Jika begitu adanya, mengapa masih mengharap berlebih dari apa yang sudah diberi oleh-Nya? Sekalipun masalah yang menyapa, ia bukan masalah yang tak ada jalan keluarnya. Karena pada-Nya saja, kita mengharap dan meminta.."

Postingan Populer

Pengikut

Hari ini ketiga kalinya aku mendatangi rumahmu. Seperti kunjungan-kunjungan terdahulu, tak banyak yang berubah dari dirimu. Hanya yang berbeda adalah momen itu sendiri... Dahulu, pertemuan pertama dan kedua itu dalam rangka persiapan menyatukan kita. Ya... Perkenalan serta pendekatan antara kedua belah pihak sudah dimulai sejak adanya pertemuan pertama dan kedua itu.
Semua berjalan sesuai rencana dan kesepakatan diantara kita. Hari-hari bahagia pun semakin tercium aromanya olehku... Berharap bahwa akhir yang indah segera terwujudkan.

Entah... Mengapa kau yang selalu mengingatkan aku, bahwa selama ijab itu belum terucapkan maka tak boleh ada sedikitpun rasa kebanggaan dan percaya diri bahwa semuanya kan benar-benar terwujudkan. Aku yang semakin bingung dibuat olehmu merasakan bahwa sepertinya keyakinan dalam dirimu sudah pudar. Mungkin karena waktu yang rasanya lambat berjalan... Sehingga keinginanmu belum segera kutunaikan.

Tapi, aku berjanji padamu. Untuk memberi kado yang indah di akhir tahun... Kado berupa kebahagiaan terbesar dalam hidupmu dan hidupku. Aku pastikan itu...

Mendekati bulan-bulan kebahagiaan... Berkurangnya waktu komunikasi diantara kita. Aku khawatir apa yang sedang terjadi padamu, mengapa semangat menuju hari yang berbahagia itu seakan luntur... Padahal sudah banyak janji yang kutaburkan untuk bisa membahagiakanmu kelak.

Kau katakan bahwa tak ingin sekadar janji yang terlafadzkan, tak mau hanya intensnya komunikasi tanpa ikatan. Permintaanmu saat itu cuma satu "Segerakan"!

Aku semakin bingung... Sepertinya kau tak yakin dengan janji-janjiku. Bagaimana aku bisa membuktikan bahwa aku benar-benar tulus mencintaimu dan ingin hidup bahagia bersamamu?

Lagi-lagi kau katakan, "Segera nikahi aku... Aku tak bisa berlama-lama dalam kondisi seperti ini. Seolah ada ikatan diantara kita, sedangkan lamaran pun belumlah ada". Aku tertunduk lesu... Berjanji untuk bisa mengkhitbahmu sebulan sebelum akad itu berlangsung, lalu mengapa serta merta kau meminta aku untuk memajukan waktu tersebut?

Aku pun berusaha dengan segera, menyelesaikan segala persiapannya dan mematangkan apa yang seharusnya benar-benar dipersiapkan menuju mahligai tersebut. Aku berusaha keras untuk mencari penghasilan tambahan demi memenuhi keinginanmu menyegerakan waktu berbahagia tersebut. Hari-hariku habis untuk berkonsentrasi penuh terhadap pencarian ma'isyah. Waktu kosongku terpadati dengan beragam kerjaan sampingan demi mewujudkan impian bersama.

Tapi... Disaatku letih dan butuh semangat darimu..... Kau tak lagi dapat kuhubungi. Sepi, tak ada lagi semangat yang kau berikan untukku. Kau diam membisu, seolah kau berada di negeri yang tak bisa kutemui sama sekali. Dimana keberadaanmu, sayangku???

Berlalu...
Entahlah. Aku semakin tak yakin, apakah impian kita akan benar-benar bisa terwujudkan? Segalanya telah kucurahkan namun ternyata kau seperti lenyap ditelan bumi. Kalau sudah begini, apa arti dari yang aku lakukan selama ini???

Aku pun ikut menghilang... Dan menyudahi ikhtiarku yang sejadi-jadinya. Aku pikir, rasanya tak ada lagi harapan dari kerja kerasku untuk bisa hidup bersamamu. Aku alihkan pikiranku mengenai impian-impian tersebut menjadi sebuah kebiasaan baru yakni jalan-jalan. Hampir setiap pekan, aku habiskan waktuku untuk bisa jalan-jalan. Sam teman-temanku atau bahkan pernah ketika aku jalan bareng sama mantan pacarku saat SMP. Semua rasanya begitu indah... Meski sebenarnya namamu belum hilang dalam ingatanku. Ragaku berjalan dengan sang mantan namun hatiku berjalan memikirkanmu. Ketahuilah itu...

Lagi-lagi tak terasa waktu terus saja berjalan. Sudah lebih dari 4 bulan sejak akhir tiada kabar darimu... Sedikit demi sedikit rasa itu telah hilang. Meski masih tersimpan sejuta pertanyaan, mengapa kau tak ada kabar sama sekali... Aku sedih dan masih saja sedih, namun aku seorang lelaki yang harus tegar dan tak boleh hanyut dalam perasaan.

Suatu ketika saat aku mendapatkan kesempatan untuk bisa ngobrol denganmu di Yahoo Messenger, inilah saat-saat bahagia untukku...

star12: Assalamu'alaikum Ri..
say_semangat: Wa'alaikumussalam Yo.
star12: Apa kabar kamu, kenapa gak ada kabar sama sekali? Sudah 4 bulan belakangan ini kamu menjauh dariku :(
say_semangat: Maaf Yo... Kondisinya sudah tak sama lagi seperti yang dulu. Mungkin aku memang berubah, tapi ini demi kebaikan kita bersama.
star12: Aku sama sekali gak ngerti maksudmu... Bisa kau jelaskan?
say_semangat: Hm... Baiklah mungkin ini saat yang tepat aku terbuka padamu. Begini Yo, 3 bulan ini aku menantikanmu... Untuk segera datang ke rumahku bersama keluarga besarmu untuk meminang aku. Bukankah itu sesuai janjimu terdahulu? Meski waktu itu bukan waktu yang kita sepakati tapi memang aku sudah meminta padamu untuk menyegerakannya khan? Dan aku terus menunggumu... Sampai kamu benar-benar siap. Sengaja aku memutus komunikasi diantara kita agar kita lebih siap dalam mematangkan kembali menuju hari berbahagia itu... dengan tanpa adanya semangat yang berasal dari orang lain. Aku ingin kamu termotivasi sendiri untuk segera menikahiku bukan karena aku yang terkesan memaksamu.
star12: Jadi...... Saat itu kamu seolah sedang mengujiku, Ri??? Kok kamu begitu, maksudmu apa dengan caramu yang seperti itu. Padahal aku sudah mati-matian berjuang untuk mewujudkan impian kita, Ri!!!
say_semangat: Justru itulah... Aku ingin tau sejauh mana kamu bertahan dengan kerja kerasmu itu. Tapi sekarang sudah terbukti khan? 3 Bulan itu ternyata tak membuatmu yakin untuk benar-benar segera meminangku... Aku menantikanmu tapi tetap saja kau tak datang-datang ke rumahku. Aku tak bisa terus berjalan tanpa ada ikatan, kalau kamu cinta aku segera lamar aku. Dan itu tak aku lihat hingga sekarang, bahkan mungkin cintamu sudah luntur dimakan waktu :(
star12: Ri, percayalah... Sampai saat ini aku masih mencintaimu. Sungguh... Aku ingin benar-benar menikahimu namun kamu yang menghilang seolah memupuskan harapan tersebut :(
say_semangat: Baiklah kalau kamu memang mencintaiku, bisakah malam ini juga kamu datang ke rumahku kemudian melamar aku pada ayahku?
star12: Gak mungkin malam ini, Ri. Mendadak sekali... Aku tentu tak bisa melamarmu malam ini. Besok pagi aku berjanji akan datang melamarmu. Kumohon beri kesempatan itu padaku...
say_semangat: Sudah kuduga... Tentu kamu tidak akan bisa datang melamar ke rumahku malam ini. Maka tak bisa pula kesempatan aku beri padamu lagi. Maafkan aku, bagiku mencintai itu diwujudkan dengan pernikahan. Kalau sudah cinta, tunggu apalagi untuk bisa mewujudkan hubungan yang halal tersebut? Maafkan aku, Ryo... Sungguh bukan maksudku untuk mempermainkan perasaanmu. Tapi aku lebih suka kepastian dan yang gak neko-neko. Bersamaan ini pula aku mau mengundangmu untuk datang ke rumahku ahad depan pkl 11 siang. Aku berharap kamu berkenan hadir ke resepsi pernikahanku.
star12: Ri?! Mengapa begini... Aku sungguh kecewa padamu. Rasanya cintaku padamu memang benar-benar sudah pupus dan mungkin ini memang takdir yang terbaik untukku dan untukmu. Ya, baiklah kalau begitu. Insya Alloh aku akan hadir memberikan doa di hari berbahagiamu. Selamat Ri... Selamat!
say_semangat appears to be offline and will receive your messages after signing in. You can also send a message to say_semangat's mobile device.

Malam itu benar-benar malam duka yang pernah aku rasakan. Ruri yang aku kenal dan pernah kucintai tak lagi bisa kumiliki. Langkahku tergontai saat ahad pagi janur kuning telah  terpampang di sudut jalan, membuktikan kekuatan tekad dari seorang Ruri yang berhasil mewujudkan segala impiannya menikah ditahun ini. Dan mungkin ini memang waktunya, bukan waktuku. Pun kini aku belajar ikhlas serta mempersiapkan segalanya lebih matang kembali. Agar tak kehilangan lagi, orang yang aku cintai. Selamat berbahagia untukmu... Selamat merayakan cinta!

3 Responses so far.