"Tidak ada yang sempurna di dunia.. Jika begitu adanya, mengapa masih mengharap berlebih dari apa yang sudah diberi oleh-Nya? Sekalipun masalah yang menyapa, ia bukan masalah yang tak ada jalan keluarnya. Karena pada-Nya saja, kita mengharap dan meminta.."

Postingan Populer

Pengikut

Yakin deh, diantara kamu-kamu tentu ada dong yang suka banget nonton sinetron. Bahkan sampai pada taraf kecanduan? Wah… Itu dia yang perlu dikaji lebih dalam lagi. Apalagi kebanyakan sinetron di layar kaca itu bergenre remaja. Nah, apakah kamu memiliki ciri-ciri seperti berikut:
1.      Siap sedia
Sebelum jam tayang sinetron, kamu-kamu udah manteng depan televisi.
2.      Setia banget
Pas iklan, kamu-kamu jarang mainin remote mindah-mindah channel.
3.      Menunda kegiatan
Kamu-kamu rela menunda kegiatan lain demi nonton sinetron, misalnya mandinya jadi lebih malam, bersihin mukanya nanti aja.
4.      Bergumam sendiri
Ketika salah satu tokoh antagonis dalam sinetron itu mengalami kesialan atau lagi kena apesnya, tanpa sadar kamu-kamu ngomong “Heeuuh, rasain loe, jadi orang jahat banget sih!”.
5.      Konsentrasi penuh
Serius banget merhatiin televisi sampai-sampai marah kalau ada yang ganggu atau ngajak bicara.
6.      Hafal soundtrack
Yaaa, kamu-kamu hafal banget potongan lagu yang jadi soundtrack awal sinetron, bahkan ikut bersenandung!
7.      Mengidolakan tokoh pemeran
Mulai deh kamu-kamu mengidolakan tokoh pemeran pria secara berlebihan. Misalkan, “Ya ampun, lagi marah aja ganteng amat ya..” atau “Waaa, lagi keujanan tetep ganteng ternyata ya?”.
8.      Evaluasi dan ngapdet
Kamu-kamu doyan membahas ceritanya saat nonton, setelah nonton, malam harinya, pagi harinya, besoknya di situs jejaring, atau bahkan jadi topik sms-an.
9.      Ingin terlibat
Suka protes berat karena akhir-akhir ini kerasa banget jalan ceritanya dipanjang-panjangin. Terkesan kamu-kamu yang gemes dan pengen bikin jalan cerita kelanjutannya sendiri.
10.  Mulai tidak bisa membedakan mana yang beneran dan mana yang sedang akting
Kamu-kamu suka komentar sendiri, “Dia tuh nih cewe kok lemah banget sih.. rada tegas dikit napa.. speak up gituh! bikin gemes aja deh. Kalau gw yang digituin dah gw tampar deh tuh”. Hei, percaya deh itu akting.
Kalau kamu-kamu mengiyakan ciri-ciri di atas. Berarti saat ini kamu sedang kena virus kecanduan sinetron, Fren!
Ya. Sinetron remaja emang lagi ngetrend sih. Bayangin aja, hampir semua stasiun TELEVISI memutar sinetron dengan pemain remaja usia belasan tahun, bahkan malah ada yang anak-anak atau ABG. Yang disayangkan adalah hampir semua sinetron remaja plot ceritanya mirip. Settingnya selalu saja di sekolah, temanya cinta-cintaan, rebutan pacar, hamil di luar nikah dan sejenisnya. Kesannya jadi latah khan?
So… Kenapa sih fren, kamu-kamu masih suka banget nonton sinetron?
Oke. Jawabannya tentu bervariasi. Betul khan? Mungkin ada yang suka karena pemain-pemainnya yang ngetop. Bisa juga karena nggak ada tayangan alternatif lain, ya udah akhirnya ditonton. Kemudian ada yang menonton karena tuntutan pergaulan. Jadi biar dianggap gaul, tayangan sinetron jadi santapan sehari-hari.
Yang jelas, rata-rata sinetron itu diplot dalam kerangka besar yang sama: tentang cinta lah, persoalan keluarga, iri-dengki, dendam, atau kisah sedih yang menjurus dramatis. Semua disajikan dalam kisah yang berliku-liku dan menggugah emosi penonton. Biasanya juga sinetron model gitu sering dikaitkan dengan perempuan. Makanya tokoh sentralnya pun, terutama yang menjadi objek penderita, selalu cewek. So, siapa lagi yang suka sinetron kayak gitu kalau bukan kaum cewek yang cenderung melankolis atau bahkan cengeng. Beda tentunya ya sama cowok yang lebih suka  film-film laga atau horor karena lebih menantang, gitu.
Ohya, ternyata sinetron juga kerap menjual mimpi indah bagi para perempuan. Coba aja deh perhatikan, hampir semua pemain sinetron –terutama pemain utamanya—adalah sosok yang cantik/tampan, dengan busana yang indah-indah, dalam rumah-rumah yang megah. So, nggak salah dong kalau penonton menyukainya karena disitu digambarkan tentang citra perempuan yang sempurna: cantik, kaya dan hidup bahagia.
Lantas mengenai temanya nih, kenapa juga ya sinetron itu selalu berkisar tentang percintaan di kalangan anak muda? So pasti, karena untuk merangsang remaja buat nonton terus. Soalnya hubungan antarlawan jenis itu memang selalu menarik untuk dibahas, apalagi bagi remaja-remaja yang baru puber. Ya nggak sih?
Ehh fren, tapi jangan nonton sembarang sinetron ya. Soalnya, bisa dibilang sinetron itu sama sekali nggak mendidik. Coba perhatikan deh, unsur edukasinya minim banget, atau malah nggak ada. Jadi, jangan sampai kisah di sinetron itu jadi inspirasi yang diusung ke dunia nyata. Ini yang bisa bahaya. Bayangkan deh, pelajar-pelajar yang digambarkan di sinetron sama sekali nggak menunjukkan identitasnya sebagai pelajar. Setingnya sih sekolah, tapi bukan bagaimana berlomba-lomba meraih prestasi yang ditonjolkan, malah rebutan pacar atau berantem sama sesama teman yang mendominasi. Betul gak? Belum lagi nih, coba lihat penampilan para pelajarnya ada yang dandanannya menor, bajunya ketat atau tongkrongannya mobil mewah. Beuh… tentu yang seperti itu kalo ditiru kan nggak baik. Kalau terbiasa nonton tayangan sinetron yang nggak mendidik, lama-lama otak kita juga bakal tumpul, jadi malas mikir dan bahkan kalau nggak kuat iman bisa-bisa terbawa arus seperti yang dituntunkan dalam sinetron ini. Nah loh… So, waspadalah.. waspadalah..!!

One Response so far.