"Tidak ada yang sempurna di dunia.. Jika begitu adanya, mengapa masih mengharap berlebih dari apa yang sudah diberi oleh-Nya? Sekalipun masalah yang menyapa, ia bukan masalah yang tak ada jalan keluarnya. Karena pada-Nya saja, kita mengharap dan meminta.."

Postingan Populer

Pengikut


Di tengah ramainya kendaraan berlalu lalang, seorang lelaki itu yang sedang mengendarai motor tiba-tiba mengambil jalur pinggir dan seketika menghentikan motornya di tepi jalan, ya di tepi  taman yang begitu indah dengan lampu temaram serta hingar bingar keceriaan  sepasang muda-mudi yang sepertinya sedang dimabuk asmara.
"Cin, kita makan disini aja ya. Suasananya enak banget udah kayak kita lagi kencan aja" tanya sang lelaki pada wanita yang diboncengnya.
"Hm... kenapa kayak kencan? Emang kita gak pantas kencan seperti mereka-mereka itu?" ujar wanita itu sambil menunjuk jarinya ke arah kerumunan muda-mudi.
"Ehh, iya.. maksud aku juga begitu. Kita seperti sedang mengulang masa-masa indah dahulu, cin. Romantis banget makan disini walaupun sederhana tapi tak mengurangi indahnya perjalanan kita hari ini, udah nonton, terus beli baju ehh sekarang makan disini lagi. Kamu seneng khan?" tanya sang lelaki lagi sambil menyunggingkan senyum manisnya.
"Iyyyaaa, aku seneng banget lah. Berdua sama kamu tuh udah membuat dunia indah seisinya. Kan kamu jarang-jarang bisa meluangkan waktu untuk berduaan gini. Yaudah yuk, kamu mau pilih makanan apa?" ujar sang wanita sambil turun dari motor yang dinaikinya.
"Hmm, aku mau itu ya... Kita makan itu aja yuk, (sambil menunjuk ke pedagang kaki lima yang menjajakan makanan ala sederhana bertuliskan 'angkringan nasi kucing')" ucap sang lelaki sambil ikut turun dari kendaraan yang sedang dikendarainya.
"Oke cin,,, Udah lama juga aku gak makan itu. Ayo kita kesana." timpal sang wanita sambil berjalan mendekati tempat makan yang diinginkannya yakni Angkringan Lik Mulyo.
***
Memang benar... Makan adalah soal cara. Ya kali ini tentang sebuah angkringan nasi kucing yang menjadi saksi cinta kita berdua. Kita semua menyebutnya sebagai nasi. Namun ketika ia dimasukkan dalam bambu dan dibakar, kita menyebutnya nasi bakar. Bila ia dibungkus daun jati, Orang Cirebon menyebutnya nasi jamblang.
Adalagi yang dibungkus dengan daun pisang muda jadi namanya: nasi timbel. Dibungkus sejumput-kecil di Bali disebut nasi jinggo. Di Tegal orang bilang nasi ponggol. Lain lagi Wong Solo dan Wong Jogja, inilah yang populer sebagai nasi kucing. Nasi kucing bisa kita dibeli di sepanjang jalan di  Jogja. 
Nah tapi... gak cuma ada di Jogja aja sekarang, sudah banyak nasi kucing tersedia di Jakarta. Di sudut-sudut gang, setiap ada keramaian tak pelak lagi, banyak yang pasti sedang begadang menyantap nasi kucing. Nasi Kucing ini dijual di gerobag Angkringan. Bentuknya tak ada bedanya: nasi sekepal dibungkus daun pisang dengan lauk sambal bandeng atau oseng tempe.
Dijual dalam gerobak yang mangkal di tempat-tempat strategis. Selain gerobak penjual menyediakan satu kursi panjang di depannya.
Di sebelah perapiannya dihamparkan macam-macam lauk dan jajanan: tempe dan tahu goreng, tempe dan tahu bacem, macam-macam sate mulai dari sate usus, sate telur puyuh bacem, sate keong, sate kulit, sate (tempe) gembus, dan sate gajih sandung lamur. Masih ada juga jajanan: lentho, timus, combro—tanpa oncom, dan peyek.
Tak perlu khawatir kursi bangku tak dapat memuat pengunjung seperti aku dan suami. Karena pedagang nasi kucing telah menyediakan berlembar-lembar tikar di sebelah gerobak yang pada akhirnya digelar untuk kami berdua. Apalagi bila angkringan mangkal di mulut gang, maka kuta dapat makan lesehan di pinggir jalan. Benar-benar di pinggir jalan lho, sampai-sampai pejalan kaki hanya berjarak satu-dua meter dari nasi kucing yang sedang kita nikmati. Sebagian pembeli bahkan tak suka duduk di kursi angkringan ya seperti kami ini yang lebih suka duduk di tikar. 
Eitss, tapi banyak yang bilang lho kalau orang-orang seperti kami yang senang makan sambil duduk lesehan ini dikatakan kaum marjinal berkantung cekak. Padahal perlu peminat angkringan kini bukan lagi kaum marjinal yang sedang dilanda kesulitan keuangan aja, tetapi juga orang berduit yang bisa makan lebih mewah di restoran.
So, berani mencoba makan nasi kucing di angkringan? Met mencoba ya :)

One Response so far.